@happenfed Aku pas nikah 16 tahun yang lalu, penghasilan gabungan kami 50jt-an.
1 bulan nikah, istri resign. 4 tahun nikah, aku resign dan buka usaha sendiri.
5 tahun nikah berubah jadi 2jt sebulan 😂😂.
Uang itu hanya titipan, bisa hilang dalam sekejaban mata.
Gue punya tetangga yang bikin gue mikir lama.
Lulusan S2 Teknik UI.
Pernah kerja 5 tahun di salah satu power plant terbesar di Asia Tenggara.
Perempuan yang dari luar keliatan punya segalanya pendidikan, karir, penghasilan.
Terus dia resign.
Bukan karena dipecat.
Bukan karena nggak mampu.
Tapi karena suaminya harus pindah-pindah kota karena kerjaan, dan mereka udah LDR 2 tahun.
Dia yang milih ikut.
Waktu dia cerita ini ke gue, gue nggak langsung ngerti kenapa.
"Lo nggak sayang karir lo?" gue tanya.
Dia senyum.
Sayang Banget sih
Tapi ada yang lebih gue sayangin yaitu anak gw
Dan ternyata keputusan itu nggak semudah kelihatannya.
Masa transisi dari perempuan yang tiap hari rapat, ngitung data, dan punya kontribusi yang keliatan nyata ke perempuan yang tiap hari di rumah, ngurusin anak, dan nggak punya penghasilan sendiri itu berat banget.
Dia cerita ke gue soal itu dengan jujur.
Kehilangan teman-teman kerja.
Kehilangan ruang diskusi yang dulu bikin otaknya terus jalan.
Kehilangan kebebasan finansial yang selama ini bikin dia ngerasa punya kendali atas hidupnya sendiri.
Dan yang paling nyesek komentar orang-orang sekitar yang nggak diminta tapi terus dateng.
Sayang banget S2-nya.
Kok mau sih jadi IRT doang?
Buang-buang pendidikan.
Tapi kemudian sesuatu berubah.
Dia nemuin hal-hal baru yang ternyata dia suka dunia literasi, ecoprinting, komunitas-komunitas yang nggak pernah dia sempet eksplor waktu sibuk kerja.
Dia baca lebih banyak buku.
Dia punya waktu buat beneran mikirin cara mendidik anaknya bukan sekadar nitip ke orang lain.
Dan dari rumah, dia masih bisa freelance bantu project penelitian dan keperluan akademik.
Yang bikin gue respek bukan keputusannya karena itu hak dia sepenuhnya.
Yang bikin gue respek adalah cara dia ngejalaninnya.
Dia nggak berhenti tumbuh cuma karena berhenti kerja kantoran.
Dia buktiin bahwa perempuan berpendidikan tinggi yang milih jadi ibu rumah tangga bukan berarti menyia-nyiakan pendidikannya justru dia pakai semua ilmunya buat hal yang menurut dia paling penting.
Sekarang dia mulai belajar affilate di tiktok dan shoppe
malah akun tiktok dia udah capai 50 rb followers
dan mulai ada endoresan masuk
Dan ini yang gue pikir sering salah kaprah di Indonesia
Kita terlalu sering ngukur nilai seorang perempuan dari jabatannya, gajinya, atau seberapa sibuk dia keliatan dari luar.
Padahal ibu yang cerdas, yang terus belajar, yang bisa jadi teman diskusi buat suami dan guru pertama buat anaknya itu kontribusi yang dampaknya jauh lebih panjang dari apapun yang bisa dilihat di CV.
Balik ke pertanyaan awal kalau lo udah punya karir impian terus calon suami minta jadi IRT penuh?
Jawabannya nggak hitam putih.
Yang penting bukan pilihan mana yang lo ambil.
Tapi apakah pilihan itu beneran lo yang mutusin bukan karena dipaksa, bukan karena takut, tapi karena lo sendiri yakin itu yang terbaik buat hidup lo.
Karena pada akhirnya, yang harus nanggung konsekuensinya lo sendiri.
COBA DEH SESEKALI PAS SELESAI SHOLAT DOANYA MINTA KAYAK Gini....
1. Ya Allah, aku tak punya apapun yang bisa kutunjukan, namun aku berharap engkau menyukai kebaikanku walaupun kebanyakan yang kumiliki adalah dosa
2. Ya Allah, sibuk lah aku dengan kebaikan hingga aku lupa akan kesedihan
3. Ya Allah, jauhkan aku dari rasa lelah hingga aku bersyukur atas keberkahan
4. Ya Allah, jika doa yang kulangitkan terhalang oleh dosa yang perna kulakukan, maka maafkan aku serta hapus lah dosa dosa ku ya Allah
5. Ya Allah, tunjukkanlah kepada hamba seindah apa hidup ini dan semudah apa hidup ini.
6. Ya Allah, jadikanlah ibuku di antara wanita wanita surga
7. Ya Allah, sebelum engkau cabut nyawaku, berilah aku kesempatan agar aku bisa mengasihi makan seluruh anak Indonesia
Banyak reply di sini bilang kenapa retaliasi Iran menyerang negara-negara Teluk.
Sebelum perang ilegal AS-Israel atas Iran, semua kondisi dan situasi normal-normal saja. Negara-negara Teluk itu--dan dunia ini--menikmati bisnis dari kemurahan hati Iran membebaskan pelayaran di Hormuz meski Iran sendiri tidak bisa menikmati hal yang sama karena sanksi ekonomi AS.
Negara-negara Teluk itu memfasilitasi serangan ke Iran dalam bentuk pangkalan, radar/intelijen, pusat kontrol/komunikasi, lokasi pengisian bahan bakar, lokasi penempatan logistik. Karena itu, meski mereka mengklaim netral, maka hukum perang menyatakan netralitas mereka gugur sementara pada saat yang sama Iran berhak menyerang fasilitas militer musuh di mana pun fasilitas itu berada--dan ini sudah dinyatakan Iran jauh-jauh hari. Jika negara-negara Teluk itu ingin menegakkan kembali hak netralitas mereka, maka mereka berkewajiban mencegah AS menggunakan wilayah mereka untuk menyerang Iran--sesuatu yang tidak mereka lakukan, bahkan mengecam AS-Israel pun mereka tidak berani.
Lantas, apakah Iran bisa dibenarkan menyerang infrastruktur ekonomi negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan AS-Israel terhadap infrastruktur ekonomi Iran? Doktrin "tit-for-tat" dalam konteks infrastruktur ekonomi memang tidak dibenarkan, kecuali dalam kasus dual-use. Tapi, realitasnya sangat pahit bagi Iran yang menghadapi dua negara brutal yang nyaris tak pernah mereken hukum internasional dan menikmati impunitas selama ini. Dalam mode survival, Iran tak punya pilihan lain selain menerapkan tit-for-tat.
Pada akhirnya, semua orang waras pasti tahu siapa yang memulai perang dan tak memiliki dalih legal untuk melakukannya (jus ad bellum) serta siapa yang memfasilitasi kejahatan agresi ini (dan kabarnya juga malah mendorong agresi ini).
Semalem deep talks sama ayah di telpon :
👱🏽 : kayanya 3 tahun survive di jakarta udah capek deh yah, pengin pindah ke semarang apa surabaya gitu
👱🏼♂️ : bebas to dek, mau pulang istirahat kerumah dulu juga boleh.
👱🏽 : malu ah kalo ndak kerja nanti gabisa jajan enak hahaha
👱🏼♂️ : kok malu, kan ada ayah to dekk. anak ayah sampe kapanpun gapapa kalo mau minta uang sama ayah dekk, kamu masih tanggung jawab ayah.
👱🏽 : ( gabisa jawab ) …
Ternyata ayah tuh masih anggap kita anak kecilnya ya sekalipun usiaku udah cukup dewasa 🥺
"Who are you without your job? 😊"
Udah 1 bulan lebih kerja di perusahaan baru. Masih probation and in my core memories... ini adalah stressful period.
Tapi skrg aku ga stress, bukan karena aku bisa pulang tenggo atau weekend ga perlu buka kerjaan...
Soalnya setelah kerjaan formalku selesai, aku masih otak-atik ini-itu yg artinya capacity fullfilment di hidupku masih sama, ga ada yg berubah.
Dulu visi hidupku itu FIRE (Financial Independence, Retire Early).
Pokoknya gue kerja buat ngumpulin bemper finansial yg cukup, and if the math is math-ing gue bisa pensiun dini. So I gotta work for years to SAVE up to finally THINK that I WILL be FREE someday.
Tapi ternyata di fase hustling dengan mode kacamata kuda (gak lihat kanan-kiri, nyarinya duit duit dan duit) bikin lupa ada hubungan yg harus dijaga. People that I love are getting older and the time is getting tighter.
So I asked myself, "Why do I have to wait to be FREE?"
"Why do I have to be entirely financially freedom to ENJOY my life?"
"Why do I have to wait to LIVE?"
That's why I changed the rules.
Aku masih kerja dan masih punya kehidupan lain di luar pekerjaan,
Aku masih bisa jaga relasi yg baik dengan keluarga,
Aku masih bisa rebahan males-malesan,
Aku masih bisa me-time dan pacaran...
I protect my weekends, I work efficiently during working hours, I learn how to express my leftover capacity at work.
I understand that "it's just a job" so I can try something new and enjoy my life.
Because I don't work to survive, I work to experience life.
Anak kantor itu lucu.
Siang rapat bahas growth perusahaan, malam overthinking growth diri sendiri. Target divisi jelas, target hidup masih “lihat nanti aja”.
Kita bangga jadi sibuk. Kalender penuh, email numpuk, chat nggak berhenti. Tapi kalau ditanya 3 tahun lagi mau jadi apa, jawabannya masih kabur kayak sinyal lift kantor.
Kerja keras itu bagus. Tapi kalau kerasnya cuma buat bertahan, bukan buat naik level, lama-lama capeknya jadi eksistensial. Bukan cuma lelah badan, tapi lelah ngerasa biasa aja.
At this point I wonder why sunghun is spending his time with all girls but MinaSue... They were the couple who left SI together after all, but very few interactions of them, even as friends, later #singlesinferno5
Support system prtamaku orang tua
Privilegednya bukan di money, tapi hati mereka yang lapang 🥰
Abis wisuda stengah mati cari kerja, iseng bikin gantungan kunci, untung bulan prtama 75rbu, ibu seneng liatnya.
Gak ngoceh "udah dikuliahin, bukan cari kerja yg bener!"
Ibu tipe yg sabar dan tau semua itu ada proses, gak gmpang ngejudge, tp tentu rasa khawatir jelas ada, tapi dia yg paling percaya kalo kamu ada usaha Allah gak diem kok.
Kyknya resiliens ku tinggl Krn ibuk
Kayak If something bad happens, ya udah, jalanin, toh terjadi jg kehendak Allah, ditangisin gak ngerubah keadaan, jadi hadapin aja
Kenyataan pahit setelah lulus kuliah itu bukan soal gaji kecil, tapi soal kenyataan bahwa dunia kerja tidak selalu memberi reward pada yang paling pintar atau jago, melainkan pada yang paling bisa dipercaya, loyal, paling konsisten, dan paling mudah diajak kerja sama.
Banyak orang cerdas jadinya stagnan, sementara yang “biasa saja” atau medioker justru naik cepat, karena attitude, reliability, dan timing yang mereka punya sering lebih mahal daripada sekadar kemampuan atau skill teknis.
Di titik ini jadi makin paham banget, kompetensi itu penting, tapi reputasi dan karakter itu yang menentukan umur panjang karier 🔥
Unpopular opinion: makan di Saizeriya ternyata jauh lebih murah dibanding beli makanan di konbini. Kemarin hampir seminggu di Jepang, tiap hari aku makan Saizeriya. Walaupun harus antri, tapi honestly worth it banget harga murah, porsi besar, dan kalau dihitung2 tetap lebih hemat daripada konbini😁 antrinya juga menurut ku gak lama cuma maks 15 menit. Makanan juga dateng nya cepet satset banget aah pokoknya I love saizeriya🫶🏻
Partner yang ikutan lembur bareng sama timnya itu speaks volume banget
respect banget partner yang kaya gini
mungkin gak akan tiap hari, ya kali masa kliennya cuma satu
ada tuh dulu senior partner big4 yang punya kebiasaan pada saat busy season itu dia ikut lembur sama timnya, sehari di tim A, besoknya nyamperin tim B dst
moral timnya jadi bagus
kaya yang "we're in this together"
walaupun penghasilan bumi vs langit ya
wkwkwkwk
orang kerja tu capek, wajar kalau mereka ngeluh, entah ngeluh soal lingkungan kernya, soal beban kerjanya, as long as tetep profesional dikerjain ngeluh bisa ngurangin seengaknya dikit stress yang kita punya. so pls normalize ngeluh di twt soal kerjaan :)
kalo lagi mode kerja, jangan lupa prinsip ini..
- ditegur atasan/rekan kerja, yaudah diperbaiki, ga perlu sampe menghakimi kalo lu bodoh
- kalo ada revisi, yaudah kerjain, bukan krn ngerasa dikerjain atasan atau client
jangan terlalu jauh mengambil makna dari suatu kerjaan, ga perlu sampe menilai diri lu bodoh, gak layak, atau ga bisa kerja
urusan kerja ya kerja aja, anggap aja bagian dari progress
nothing is personal!
mulai hari ini.. kalo capek sama kerjaan dan pengen resign..
jangan lagi ngomong gini “ya tuhan capek banget sama orang kantor, pengen resign.. udah ga kuat”
tapi coba diganti “ya tuhan permudahkanlah saya untuk dapat kerjaan yg lebih baik, agar saya bisa melindungi diri sendiri dari sifat dzolim dgn terus bertahan di tempat ini”
🥲🥹
jujur dulu saya mikir kaya gini pas tau abang saya gaji 10 juta saya masih kuliah.
1 tahun aja kan harusnya udah ratusan juta, masa sih dia enggak punya tabungan?
masa sih saya minta enggak dikasih?
masa sih enggak bisa beliin ps 4 buat saya? wkwkwkw mulai halu 😂
ternyata hidup tidak sesimpel itu nder, blm bayar pajak, asuransi, makan, hidup sehari2, blm kalau punya hobi, bayar kost, nabung investasi, ada cicilan, nabung buat nikah dll.
emak di kampung tidak paham perjuangan kita ya di sangkanya tiap hari hambur2 duit hidup bergelimangan harta tidur dengan uang, padahal itu aja ngirit2 ya 🥲