GAPAPA BANGET MACET YA GUYS, INI BUKAN SALAH YANG DEMO.
SALAH YANG BUAT KEBIJAKAN SAMPE PENDEMO HARUS TURUN KE JALAN, MEWAKILI KITA SEMUA AGAR BISA HIDUP MERDEKA.
STAY SAFE ALL
BELAJAR DEWASA ITU TERNYATA SESIMPEL INI…
- jangan ikut kalo ga diajak
- jangan ikut campur kalo ga di libatkan
- jangan dateng kalo ga diundang
- jangan berharap kalo ga pernah dianggap
- jangan nunggu kalo ga pernah dicari
- jangan maksa kalo ga pernah dipilih
- jangan overthinking kalo emang ga penting
- jangan ngejar kalo cuma jadi opsi
- jangan caper kalo ga pernah di-notice
- jaga jarak jika ga di hargai
2026 kita pilih tempat yang milih kita juga.
Tidak habis pikir. Petunjuk teknis terbaru menunjukkan YAYASAN pengelola MBG dapat insentif 6 JUTA PER HARI selama 313 hari, libur pun masih dapat. Insentif itu tanpa kena pajak.
6 juta x 313 hari=1,87 miliar per SPPG
Bayangin POLRI kelola 1.179 SPPG PER HARI DAPAT INSENTIF Rp 7,07 M dan 1 tahun jadi Rp 2,21 Triliun.
Itu pun belum yayasan lain di bawah TNI.
Udahlah bubar aja negara ini.
Dijelaskan bahwa insentif ini bukan berdasarkan output based (berlaku 2025) yaitu jumlah porsi yang diberikan, tapi malahan availability based yaitu asal sudah ada dapur meski belum beroperasi. Jelas-jelas enak donk yang penyaluran porsinya sedikit bahkan belum kerja sudah dapat 6 JUTA PER HARI. Cukup duduk manis dukung rejim.
Memang MBG INI DIBIKIN BUAT MENGGERERUK DUIT NEGARA.
Kepada elite mereka royal dan disebutkan sebagai insentif, sementara bantuan ke rakyat disebut subsidi dan dianggap beban.
@tanyakanrl Ternyata MBG itu ga gratis ya, dibayarnya pake:
- sulitnya akses pendidikan layak
- keracunan makanan
- sulitnya nyari pekerjaan
- pemulihan bencana yg lambat
- non aktifnya bpjs
Semoga semuanya lekas membaik, hanya kepada Tuhan kita berharap.
aku pake IUD. aku selalu ngeluh sakit, capek dikit sakit, buat hb kadang sakit. suami nyaranin buat cek ke dokter, dan dokternya bilang apa?
"suaminya ada keluhan nggak bu? kerasa kegesek benangnya nggak?"
aku jawab "nggak ada sih bu"
dijawab lagi sama dokternya-
Apakah orang Indonesia memang dirancang untuk tetap bodoh dan gak boleh pintar? Itu pikiran liar yang selama ini mau gua utarakan tapi baru sekarang berani nulis ini. Ini bukan statement ya tapi pertanyaan, gamau kena masalah saya.
Analogi sederhananya, gimana caranya sekolah ngajarin programming dan AI?
Kalau 42% guru berpenghasilan di bawah Rp2 juta per bulan? 13% di antaranya di bawah Rp500 ribu per bulan. Gimana mau punya self development dengan gaji 500 ribu per bulan?
Di logika ya, sistem gaji ini secara tidak langsung mengusir talenta terbaik dari profesi guru dan pindah ke pekerjaan lain
Skor PISA kita, juga cuma 359 dimana rata2 dunia harusnya 476. Gua kasih gambaran, Siswa Vietnam setara dengan siswa Amerika Serikat & Eropa dalam Matematika. Siswa kita tertinggal sekitar 3-4 tahun pelajaran dibanding siswa Vietnam. Siswa Vietnam siap jadi insinyur/dokter. Siswa kita mayoritas hanya hafal teori tanpa paham konsep.
Skor HCI Indonesia dari Bank Dunia ada di angka 0,5. Artinya, anak yang lahir di Indonesia hari ini, saat dewasa nanti produktivitasnya hanya 50% dari potensi maksimalnya.
Pembiaran sistemik seperti ini, mau sampai kapan dibiarkan? Vietnam mendesain rakyatnya untuk berkompetisi global, sementara kita sibuk sama administrasi dan seremoni.
Kita berada dalam lingkaran setan: Gaji guru rendah → Kualitas pengajar rendah → Murid tidak kritis → Menjadi pemilih (voters) yang tidak kritis → Memilih pejabat yang tidak peduli pendidikan → Kembali ke gaji guru rendah.