ANDA SEMUA DIUNDANG
HADIRILAH 📣📣📣
AKHIRNYA PUTUSAN SIDANG MBG DI MK AKAN DIBACAKAN KAMIS, 30 JULI 2026.
YANG MAU HADIR TAPI BINGUNG CARANYA, DM YA,
DIKABULKAN ATAU TIDAK, TETAP NGUMPUL.
GURU-GURU JABODETABEK WAJIB HADIR. MALU KALIAN SAMA @penduduk_lokal_
ENAM BULAN BOLAK BALIK KRL KERAWANG - JAKARTA (MK/Medan Merdeka). SEHARI SAJA MASA GAK MAU HADIR???
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
• nanik s deyang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala BGN.
• hotman paris mengundurkan diri dari kuasa hukum eks jampidsus, febrie.
• nevi rizal mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Asisten I Pemkab Gayo Lues.
• Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI
Dan kamu masih merasa pesimis bahwa pekik suaramu di medsos tidak akan menghasilkan apa-apa? Jangan!
Teruslah berisik. Teruslah berisik mengkritisi embege, teruslah berisik mengkritisi advokat nakal yang membela penjahat, teruslah berisik mengkritisi pejabat publik yang pribadi atau anak-anaknya terang-terangan pamer kekayaan.
Teruslah berisik tentang keadaan pasar dan ekonomi kita yang jauh dari baik-baik saja. Kita semua bisa menghantam mereka. Kita semua bisa mempengaruhi psikologis orang-orang berkuasa.
Berisiknya kita bisa mempengaruhi kebijakan politik para penyelenggara negara!
ketika guru-guru dinaikkan gajinya hingga 300% tapi cuma beberapa detik🥹
“karena itu pemerintah saya telah menaikkan gaji-gaji guru. ada yang sampai hampir 300% naiknya penghasilan guru-guru. EEEEE HAKIM-HAKIM KITA.”
nih guys dengerin, jadi rakyat ga usah bermimpi bisa kaya raya 🫵🤣
kata presiden, rakyatnya tidak bermimpi utk mengalami kehidupan yg kaya raya
banyak2 bersyukur deh jd wni, masih hidup dan bisa makan udah bagus 😂
Nicolae Ceaușescu - Pemimpin yang terlalu lama hidup di dunia palsu
Selama bertahun-tahun, Nicolae Ceaușescu percaya rakyat mencintainya. Karena semua orang di sekelilingnya terus bilang begitu. Sampai suatu hari, rakyat mencemoohnya langsung di depan kamera.
Ini adalah kisah tragis tentang bagaimana seorang pemimpin bisa benar-benar buta terhadap realita rakyatnya sendiri karena terlalu lama hidup dalam gelembung pujian dan kebohongan.
Awalnya adalah Harapan
Pada tahun 1960-an hingga 70-an, Nicolae Ceaușescu sebenarnya sempat populer. Ia dipuji dunia Barat karena terlihat lebih independen dari Uni Soviet, dan rakyat Romania awalnya percaya bahwa ia akan membawa perubahan besar. Namun, seiring berjalannya waktu, kekuasaan mengubahnya menjadi sosok yang terobsesi pada loyalitas dan pencitraan.
Dunia dalam Sandiwara
Lama-kelamaan, Romania berubah menjadi panggung sandiwara raksasa. Media hanya menjadi alat propaganda yang memajang wajahnya di mana-mana, dan istrinya, Elena, dipuja-puja sebagai ilmuwan besar meski gelarnya hasil manipulasi politik.
Di tingkat pemerintahan, terjadi fenomena yang berbahaya:
- Ketakutan Berkata Jujur: Karena polisi rahasia (Securitate) sangat brutal, tidak ada pejabat yang berani membawa kabar buruk.
- Realita Palsu: Ceaușescu hanya melihat versi Romania yang indah-indah saja dari para penjilatnya, sementara rakyat sebenarnya sedang menderita luar biasa.
Penderitaan di Balik Layar TV
Pada 1980-an, ekonomi Romania hancur karena obsesi Ceaușescu melunasi utang luar negeri. Caranya sangat brutal, bahan pangan diekspor besar-besaran sementara rakyat harus antre roti, listrik dibatasi, dan pemanas rumah dikurangi. Ironisnya, di televisi nasional, berita selalu menunjukkan produksi yang meningkat dan rakyat yang bahagia . Ceaușescu hidup di dunia di mana semua orang selalu bilang, “Rakyat mencintaimu” padahal kebencian sudah memuncak di mana-mana.
Momen Ilusi Itu Pecah: “Alo... Alo...”
Puncaknya terjadi pada 21 Desember 1989. Dalam sebuah pidato besar yang dirancang untuk menunjukkan dukungan rakyat, sesuatu yang tak terduga terjadi, massa mulai mencemoohnya.
Rekaman sejarah menunjukkan momen yang sangat sureal, Ceaușescu terlihat bingung dan terus berkata, "Alo... Alo..." ke arah mikrofon. Ia mengira pengeras suaranya yang rusak, padahal yang sedang hancur adalah ilusi yang selama ini melindunginya. Untuk pertama kalinya, sang diktator sadar bahwa rakyat sebenarnya membencinya.
Kejatuhan yang Kilat
Setelah momen di balkon tersebut, segalanya runtuh dalam hitungan hari. Demonstrasi meluas, militer goyah, dan Ceaușescu bersama istrinya mencoba kabur dengan helikopter namun tertangkap. Pada Hari Natal 1989, sosok yang selama puluhan tahun dianggap tak tersentuh itu akhirnya dieksekusi setelah pengadilan militer yang singkat.
Kisah ini menjadi pengingat sejarah tentang betapa mematikannya sebuah “echo chamber” atau ruang gema kekuasaan yang hanya berisi pujian tanpa kebenaran.
Rule of thumb politik adalah, "uangnya di mana?"
Dari sini jelas bahwa "Soeharto jatuh berkat didemo mahasiswa" adalah narasi sesat. Narasi itu tidak menjawab pertanyaan, "uangnya di mana?"
"Indonesia merdeka karena kita bergerilya" juga adalah narasi yang tidak lengkap.
Uangnya di mana?
Setelah 1945, Belanda ingin masuk lagi ke Indonesia karena satu tujuan yaitu uang.
Uangnya ada dalam bentuk kayu bulat, karet, migas, kopra, tembakau, dan kopi.
"NICA masuk membonceng Sekutu." Apa tujuan NICA masuk? Uang.
Pada saat itu Belanda sangat butuh uang karena luluh lantak pasca Perang Dunia II.
Agresi Militer I fokusnya adalah merebut dan mengamankan sumber uang, terutama perkebunan cash crop Jawa Barat.
Perang gerilya yang dilancarkan TNI dan dikomandoi Jenderal Sudirman membuat Belanda tidak bisa mendapatkan uang dari perkebunan kita.
Gerilyawan kemerdekaan menculik dan membunuh mandor kebun, membom rel, dan merampok truk. Rakyat dan para petani perkebunan memusuhi Belanda dan mendukung gerilyawan Republik.
Tentara Republik menyerang sumber uang Belanda. Produksi perkebunan luluh lantak selama perang kemerdekaan. Tujuan perang penjajahan Belanda, yaitu memulihkan suplai uang, gagal total.
Perjuangan kemerdekaan Indonesia di jalur diplomasi juga berhasil membuat Amerika mengancam memotong suplai uang Marshall Plan yang sangat dibutuhkan Belanda.
Konferensi Meja Bundar 1949 berjalan mulus karena Belanda masih mendapatkan apa yang dia cari, yaitu uang, lewat kontrol kepemilikan atas perkebunan cash crop dan pemindahan utang Hindia Belanda ke Indonesia.
Hindia Belanda lepas? Siapa peduli. Yang penting uang. Indonesia pun merdeka sepenuhnya pada 27 Desember 1949.
Uang, uang, uang. Bom uang, hancurkan uang, negosiasikan uang, ciptakan uang, distribusikan uang. Inilah politik. Indonesia merdeka karena berhasil berstrategi uang.
Kejatuhan Soeharto juga sama.
Pada 15 Mei 1998, siapapun bisa melihat bahwa Soeharto, Tutut, Bob Hasan, Pangkostrad, dan anggota-anggota inti dinasti Cendana telah gagal total dan sudah mustahil untuk bisa memulihkan ekonomi Indonesia.
Krisis ekonomi sejak 1997 telah membuat orang kehilangan uang. Konglomerat kehilangan uang. Jenderal kehilangan uang. Orang partai kehilangan uang. Bahkan preman kehilangan uang. Semua orang kehilangan uang bahkan bangkrut.
Semua orang itu ngamuk-ngamuk terhadap Soeharto yang tua, pikun, sakit, kolot, panik, bingung, dan kehabisan ide akan bagaimana menyetop api krisis ekonomi dan kerusuhan yang semakin membakar uang yang ada di Indonesia hingga tidak bersisa.
Tidak mungkin mengembalikan "stabilitas politik" dengan membantai mahasiswa yang berdemo, karena demo massal hanya bakal makin ekstrem. Ekonomi pun akan semakin hancur dan uang semakin musnah.
Apabila pembantaian pendemo terjadi, IMF dan asing juga akan cabut dan Indonesia akan jadi negara pariah seperti Korea Utara. Uang asing akan hilang. Padahal, Indonesia sangat butuh uang asing IMF untuk memulihkan ekonomi dan menyelamatkan uang.
Untuk menyelamatkan uang, tidak ada cara lain kecuali menelan pil pahit, membubarkan Orde Baru, dan melakukan Reformasi.
Kalkulasi elite politik menjadi jelas. Reformasi = Uang. Tidak Reformasi = Tidak ada uang.
Siapapun arsitek-arsitek yang menginginkan Reformasi, mereka jelas sangat berhasil melakukan cipta kondisi sampai kalkulasi ini bisa-bisanya tercipta.
Inilah contoh berpolitik yang sukses: cipta kondisi. Elite politik akan bergerak sendiri sesuai keinginan hati kita, seperti boneka wayang.
Golkar terang-terangan mencabut dukungannya lewat pernyataan terbuka yang dibacakan Ketua DPR/MPR, Harmoko.
Menteri-menteri mencabut dukungannya dan mundur massal serentak. Aktivitas pemerintahan lumpuh total.
ABRI mencabut dukungannya. Panglima ABRI, Wiranto, datang ke rumah Soeharto dan menyatakan bahwa ia "tidak lagi dapat menjamin keamanan pribadi Soeharto".
Kalau ada gerombolan orang marah yang datang ke rumah Soeharto dan membantai habis Soeharto dan keluarganya dengan golok, ups, sori tapi ABRI sudah tidak bisa apa-apa lagi. Mati aja lu.
Soeharto pun langsung mundur.
---
Kalau kamu mau bikin demo besar-besaran, targetnya jelas: sumber uang rezim.
Ciptakan kondisi di mana menerima tuntutanmu adalah opsi terbaik untuk menyelamatkan uang.
17+8 pasti gagal karena tidak ada konsekuensi apabila diabaikan. Tidak ada ancaman terhadap uang. Jadinya ya diabaikan lol.
Reformasi berhasil karena konsekuensi penolakan Reformasi adalah krisis berlarut --> uang hilang.
Hari ini, apa sumber uang rezim yang bisa ditarget?
Ya mana gw tau. Tapi banyak opsi.
Misal: mogok massal.
Kalau karyawan sumber-sumber uang rezim mogok massal, aparat mau apa? Menembak karyawannya? Mogok massalnya pun berubah dari sementara jadi selamanya, karena karyawannya mati dibantai. Perusahaan bangkrut dan uangnya hilang.
Mogok massal kemungkinan sangat tidak cukup tho, karena sumber uang rezim yang sesungguhnya adalah sawit dan tambang.
Somehow, aliran sumber uang ini harus dipotong. Baik dengan menduduki suatu tempat secara fisik, atau lewat suatu konspirasi politik.
Kejatuhan rezim Shah Reza Pahlavi di Iran pada 1979 adalah contoh paling jelas dan dramatis. Karyawan perusahaan migas Iran melakukan mogok massal. Produksi dan ekspor migas seluruh negara distop oleh karyawan yang berdemo.
Dana harian operasional pemerintahan termasuk untuk gaji polisi dan tentara pun lenyap.
Rezim sang Shah langsung jatuh.
Uang. Politik adalah uang. Uang bisa diukur secara angka. Ketika mengancam, ancamlah uang. Ketika menyerang, seranglah uang. Ketika bernegosiasi, tawarkanlah uang.
Apabila demo tidak menyentuh sumber uang, tidak ada gunanya.
Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish":
"Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024.
Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah.
Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar.
Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis.
Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya.
Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.
Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk.
Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman.
Persimpangan jalan baru
Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu.
Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan.
Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.