Orang Rohingya itu salahnya cuma 1 : Tidak menarik secara fisik. Coba yang dateng modelan Jepang, Korea atau Eropa Barat yang putih-putih. Orang sini pasti terima dengan tangan terbuka.
Kan orang sini banyak yang Rasis, Mandang Fisik, Insecure sama Fasis. ๐คฃ
Lulus SMA, cepat-cepat kuliah karena ujian masuk dibatasi sampai 21 tahun.
Masuk kuliah, dipaksa ambil SKS overload agar cepat lulus karena lowongan fresh graduate dibatasi 25 tahun.
Mau lanjut S2 setelah bekerja harus cepat-cepat, karena lowongan lulusan S2 dibatasi 30 tahun.
Mau lanjut S3, juga harus cepat-cepat karena lowongan doktor maksimum 35 tahun.
Gimana mau serius belajar kalau dipaksa jadi atlet balap lari? Hapuskan diskriminasi usia!
Ternyata pada ngambil 20-24 SKS demi "tepat waktu", ah ya balik ke diskriminasi usia dan biaya pendidikan.
Mestinya beban SKS wajar saja per semesternya 13 SKS (~40 jam/minggu) saja misalnya.
Lalu total untuk lulus S1 ya 13 x 8 = 104 SKS. Ya mungkin 110 SKS lah maksimum. Gitu aja gimana?
Dari replynya, banyak yang dimentokin 24 SKS.
24 SKS = 72 jam kerja/minggu = hampir 2 full time job.
Pantas saja banyak mahasiswa yang sakit dan kelelahan.
Total SKS-nya mestinya jangan 144 sih, keterlaluan.
Pas gua tua nanti anak gue wajib banget nonton Avatar the Legend of Aang karna ini kartun adalah kartun paling berbobot buat gue. Politik, moral, arti pertemanan dan lainnya semua dikemas dengan apik
Saya tidak suka dengan segala batasan usia. Kenapa maksimum ikut ujian masuk PTN itu 24 tahun? Kenapa lowongan kerja korporat itu harus di bawah 25 tahun? Jadi dosen S3 harus di bawah 40 tahun?
Apakah kita tidak boleh:
1) Sakit, berusaha untuk sembuh?
2) Memulihkan hati setelah berduka?
3) Bekerja dulu menabung untuk biaya kuliah?
4) Belajar dulu, karena belum mampu lulus tesnya?
5) Merawat keluarga dan orang tua?
6) Membesarkan anak yang perlu kasih sayang?
7) Kesusahan mengerjakan TA/skripsi?
8) Menikmati waktu luang reward setelah bekerja keras?
9) Terapi dan konseling untuk menenangkan mental?
10) Patah hati dan masalah pribadi lainnya?
Dan masih banyak lagi. Semua itu perlu waktu. Kita semua manusia dengan segala keterbatasannya, bukan robot yang lancar semuanya.
Hidup tidak harus terus berlari. Hapuskan diskriminasi usia!
Faisol Riza, tim sukses paslon nomor 1 yang juga korban penculikan 98 bercerita tentang pengalamannya saat bertemu dengan keluarga korban lainnya yang masih hilang.
Ia mengaku kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari keluarga korban.
โKami seperti hantu,โ kata Faisol. Apa maksudnya? Tonton penjelasannya di video ini yaa.
#SuaraPenentu
| Narasi Daily
1. Demi langit dan at Thariq.
2. Tahukah kamu apakah at Thariq (bintang yang mengetuk-ngetuk) itu?
3. Yaitu bintang yang cahayanya menembus (bintang Pulsar).