Berhubung banyak berita atau tweet yang "misleading" tentang Hantavirus, saya izin mempertegas pernyataan dari WHO di video ini ya.
Hantavirus adalah virus yang sudah berhasil diisolasi sejak 1978 oleh ilmuwan di Korea Selatan. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini diduga sudah ada sejak 1950-an pada saat wabah di perang Korea.
Penelitiannya juga sudah banyak, sehingga karakteristiknya, derajat keparahan, termasuk kemampuan penularannya sudah diketahui.
Nah ini berbeda dengan Pandemi COVID-19. SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 itu adalah virus baru yang pertama kali diidentifikasi di tahun 2019, sehingga karakteristiknya saat itu tidak diketahui pasti.
Pada kasus Hantavirus, penularan pada cluster kapal pesiar disebabkan oleh kontak dalam waktu yang lama, dengan dugaan adanya paparan dari hewan pengerat, saat perjalanan, atau di dalam kapal.
Berdasarkan penilaian WHO, risiko bagi masyarakat umum saat ini dinilai rendah sekali, karena virus ini tidak menyebar seperti flu atau COVID-19 melalui udara.
Semoga bermanfaat!
Hantavirus (HTV) bukan virus baru dan kasusnya sudah ada di Indonesia sejak lama, ada publikasi jurnal dari tahun 2011, lalu laporan dari 2024-2026 kasus HTV yang terjadi di indonesia
Dugaan Alur Wabah Hantavirus di MV Hondius:
1. Pasangan Belanda melakukan perjalanan darat 4 bulan melintasi Argentina, Chile, dan Uruguay melewati area endemik hantavirus.
2. Diduga terpapar saat birdwatching di dekat TPA Ushuaia -> area dengan populasi tikus pembawa Andes virus.
3. Naik kapal 1 April dalam kondisi sudah terinfeksi tapi belum bergejala -> masa inkubasi 1–8 minggu, jadi sangat mungkin.
4. Gejala muncul di atas laut, diagnosis terlambat, kondisi memburuk cepat.
5. Kontak erat di ruang tertutup kapal pesiar memperbesar potensi transmisi Andes virus antar manusia.
6. Kapal terus berlayar melewati beberapa pulau, penumpang turun-naik -> potensi penyebaran ke berbagai negara sebelum wabah teridentifikasi.
7. Konfirmasi lab baru didapat setelah di Afrika Selatan -> saat itu kapal sudah jauh dari titik asal dan penumpang sudah tersebar.
dr. Ayman Alatas SpMK
(Spesialis Mikrobiologi Klinik)
Guys, ada kasus dari Turki yang bikin gue geleng-geleng kepala, dan lo pasti bakal ngerasa sama: campur aduk antara shock, kasihan dan marah
Ada cewek 18 tahun namanya Berfin. Cantik, normal, masa depan masih panjang. Tapi pas putus sama mantannya, cowok itu ngamuk.
Bukan cuma marah biasa. Dia siram sulfuric acid langsung ke muka Berfin.
Hasilnya? Mata kanannya buta total, kulit wajahnya meleleh parah, bekas luka menganga kayak neraka di dunia nyata. Hidupnya hancur dalam hitungan detik.
Orang-orang pada jijik liat dia.
Tapi tunggu dulu… ini baru mulai.
Cowoknya dihukum 13 tahun penjara. Seharusnya tamat kan? Ternyata nggak.
Dari balik jeruji, dia mulai serangan “aku cinta kamu” ke Berfin non-stop.
Surat, panggilan, janji-janji manis.
Berfin yang udah kehilangan segalanya—wajah, mata, harga diri, bahkan dukungan keluarga—akhirnya luluh.
Dia tarik laporan sendiri, minta cowoknya dibebasin, dan… langsung nikah sama pelakunya. Sekarang mereka suami-istri. Resmi. Bahagia di mata mereka berdua.
Gue ulang lagi ya biar lo bisa cerna cerita ini: cewek yang mukanya disiram air keras sama mantan, yang matanya buta dan wajahnya hancur karena dia, yang hidupnya hancur karena dia… pilih nikah sama dia.
Ini bukan drama Korea. Ini nyata.
Lo pasti lagi mikir: “Kok bisa sih?!”
Ini namanya trauma bonding atau yang lebih populer disebut Stockholm syndrome versi cinta beracun.
Si cowok nggak cuma rusak fisik Berfin. Dia rusak psikologisnya juga.
Dengan menyiram acid, dia secara sadar bikin Berfin “tidak laku” di mata orang lain. “Siapa lagi yang mau sama lo yang kayak gini?” Itu pesan diam-diam yang dia tanam.
Lalu dari penjara dia jadi “pahlawan” satu-satunya yang masih bilang “aku cinta kamu”.
Di saat Berfin lagi paling rapuh, paling sendirian, paling takut masa depan… muncul satu orang yang masih “terima” dia.
Itu bukan cinta. Itu jebakan.
Dia hancurkan pilihan Berfin satu per satu, terus kasih “cinta” sebagai satu-satunya jalan keluar.
Klasik banget pola abuser: rusak → isolasi → love bombing → kontrol total.
Dan Berfin? Dia bukan bodoh. Dia korban yang otaknya lagi dalam mode survival. “Lebih baik sama yang udah ngerusakin ini daripada sendirian selamanya.”
Ini bukan cerita cinta yang aneh. Ini cerita horor soal kekuasaan, manipulasi, dan betapa rapuhnya manusia pas lagi terluka parah.
Gue nggak bilang Berfin nggak punya salah. Tapi lo lihat sendiri kan? Satu keputusan emosi di titik terendah bisa nentuin sisa hidup lo.
Nah, di Indonesia? Pola yang persis sama ini BUKAN barang langka. Malah JADI KASUS SEHARI-HARI.
Cuma bedanya, di sini jarang sampe level acid attack.
Yang lebih sering? Cewek-cewek yang dipukul, diselingkuhi, dikontrol, dihina, diancam… tapi tetap nempel, tetap bela, bahkan tarik laporan polisi sendiri.
Lo pasti sering liat di timeline kan? Contohnya:
> Lesty Kejora, public figure, kena KDRT dari Rizky Billar. Dipukul, dianiaya… tapi kemudian cabut laporannya, damai, dan balik lagi. Sampe beranak pinak.
> dr Qory, dokter yang kabur ke P2TP2A karena KDRT suaminya, tapi kemudian bilang mau cabut laporan juga.
> Ribuan kasus biasa di TikTok, IG, Twitter: cewek nangis cerita “dia mukul aku karena aku salah”, “dia selingkuh tapi dia janji berubah”, “aku nggak bisa ninggalin dia, demi anak”.
Besok-besok kalau ada temen cewek lo yang lagi dihubungin mantan toxic pas lagi down… ingetin kasus ini.
Karena ini bukan cuma “kasus cinta Turki yang gila”. Ini peringatan buat kita semua.
Cinta yang bikin lo kehilangan diri sendiri bukanlah cinta.
Itu penjara baru yang lebih mengerikan daripada sel 13 tahun.
Bagaimana menurut kalian?