Kemarin aku bertanya-tanya tentang "kenapa dan mengapa" dan akhirnya muncul berbagai jawaban "mungkin" dari sisi negatif dan positif yanh ada difikiran. Setelah baca postingan ini aku sadar mungkin ini ujian, seberapa kuat aku bisa menghadapi ujian tersebut.
Ada satu kalimat yg terus terngiang-ngiang.
"Seorg laki-laki usia 27 sudah menikah dan mempunyai anak"
Seketika telinga berdengung, isi kepala terus memutar kalimat tsb, sambil bertanya pd diri, lantas sekuat apa yakinku pd qada qadar?
Baru mendengar itu saja sdh kefikiran😌
Sebagai org yg biasa tdk terpilih dan selalu dianggap tdk ada, ktk diberikan suatu amanah, merasa tdk mampu krn banyak takut yg menyergap isi fikiran. Dianggap alay/lebay/sepele tpi dikondisi ini jadi tekanan mental tersendiri.
Dikejar umur, tenaga dan harapan yang terus terkikis. Dan aku dikejar nyata yang terus berfikir, bahkan pernah sampai membandingkan takdir yg nyatanya tak mungkin. Hingga prnh ujub merasuki diri yg pdhl aib ini sudah begitu baik dan apik Allah tutupi.
Mah+pak resah yaa, di Juni 2026 ini takut lebih mendominasi kalian, pertanyaan2 terus bermunculan dan mengakar. Tawa tanyanya, luka nyatanya. Apalagi.. Kalo kalian tau semenyerah apa aku dlm hidup ini, kalo gk sibuk isinya mau pecah dan 'mati' lebih baik dri pd slh pilih dan mati
Seyakin apa aku pada takdir? Sama seperti semenyerah apa aku dalam hal itu. Bukan pasrah yang tanpa usaha dan bukan pula ingin yang memaksakan usaha, tpi pasrah dan terus berusaha namun hasilnya masih belum jelas tampak hingga kalian resah akan ini.
Bahkan manusia saja sulit untuk memanusiakan manusia lain (pdhl keluarganya sendiri).
Kekurangan org lain dijadikan lelucon tertawaan dan sengaja ditertawakan.
Tiap kamis klo berangkat pasti kek gini, kalo gk berangkat disuruh berangkat pdhl gk brrti apa2, MUAK. apalagi ada omongan "mau apa kesini?" yaaAllah capek, trus jawab harus haha-hihi dtg ke rumah kena, bisa gk sih jaga lisan gk semua org kuat nerima dan gk setiap hari
Apalagi baru kemarin dpt omongan gk enak dri murid "guru bodoh" jleb downlah mental ini, ahh dasarnya tdk pantas jdi guru sejak awal ngajar juga disebut tdk profesional, denial sekali diri ini pdhl itu tanda awal ketidakmampuan menguasai bidang ini
Seperti bertaruh antara baik atau buruk kemungkinan yang akan dihadapi, ikhtiar yg dilakukan seperti menuntun kpd keabu-abuan yg tak terterka, dan semengkhawatirkan itu ada diposisi ini, pdhl kini ku mulai tau jawabannya "tenang" mencari tujuan itu yg tak tau akan dpt dmn.
Siapalah aku dan betapa hebatnya penciptqku, dia memberikan alur indah itu walau hanya sementara, jika dulu hanya bisa diangan tdi tak sengaja berdampingan barisan meski setelah diberitahu aku sadar tdk setaranya dan betapa tak ada apa2nya diriku.
Hari ini ketidaksengajaan yg tk tersadari itu terjadi, bahkan berharap ada yg diam2 mengabadikannya. Namun sayang ktk sudah sedekat itu aku tk sadar, ahh jika ceritanya diubah dan aku sadar mungkin pengharapan ini akan lebih menggebu2 meski akhirnya dihantam sadar yg tk sebanding
Ketika ketikan haram yang masih terjaga, mengingatkan kembali pada dosa dan khilaf yang selalu menjadi penyesalan, entah karena menyesal pernah melanggar aturannya, atau rasa tak rela diperlakukan seperti itu. Cause i feel like stupid woman wk😏 when ego+gengsi tergores😭😭
Dinamika hidup diusia ini, mencoba menjadi pengajar malah sering dapat teguran krn tdk formal, kurang bijak, wibawa, ilmu, bhkn disepelekan murid.
Bknnya semua ada prosesnya dan tak lngsg jdi si mahir? Tpi mengapa kesan ketidakpantasan ini seakan dicap secara tdk lngsg😌