Itulah kenapa iman kepada qada dan qadar adalah rukun ke-6, alias tersulit.
Enak banget negara diatur ugal2an, in the end tinggal bawa2 agama. Dasar satu negara isinya orang gila semuaaaa
"Prahara" berasal dari kata Sanskerta "prahฤra" yang berarti 'pukulan' atau 'serangan'. Dalam bahasa Jawa, kata ini berarti 'badai'.
Dalam bahasa Indonesia, maknanya berkembang menjadi 'kejadian yang bersifat sangat menghancurkan'.
Kian hari, prahara kian mengepung kita. ๐ข
Bukan Kritikan Kita yang Bikin Rupiah Jebol ke Rp18.000
Seperti yang OOMF tahu, sudah rutinitasku ngomong di stream, dan isi kontenku kadang kritik ini itu. Termasuk kemarin, aku ngomongin rupiah yang tembus 18.000 per dolar, bareng sama beberapa vtuber lain.
Lalu ada tweet yang singgah di timeline.
Katanya, penyebab rupiah ambruk adalah kaum nyinyir yang tiap hari ngeributin pemerintah di sosmed. Konon, postingan sosmed kita memberikan efek buruk ke IDR.
Aku sampai baca ulang beberapa kali, nahan ketawa karena benar-benar gak habis pikir.
Bukan sekadar salah, ini argumen yang berbahaya.
Rupiah Digerakkan oleh Siapa?
Kalau kamu pernah main atau nonton orang stream game strategy, kamu mungkin familiar konsep supply and demand.
Harga barang naik kalau banyak yang mau beli, turun kalau banyak yang mau jual. Nilai tukar rupiah bekerja persis seperti itu di pasar valas atau pasar uang internasional.
Yang jual-beli rupiah di pasar ini bukan kamu. Bukan aku. Bukan OOMF yang nge-quote tweet berita pemerintah dengan emoji nangis, emoji batu, atau emoji badut tiap pagi. Kalaupun kita jual-beli valas, retail kayak kita tuh cuma remah-remah.
Yang ngegerakin kurs adalah bank sentral, hedge fund raksasa, perusahaan multinasional, dan investor institusional yang kelola dana triliunan dolar.
Mereka ambil keputusan berdasarkan data: pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, neraca perdagangan, dan stabilitas politik. Mereka tidak scroll Twitter sambil buka Bloomberg.
Jadi pertanyaannya sederhana: apakah postingan netizen Indonesia punya bobot yang cukup untuk ngegerakin pasar valas global? Jawaban singkatnya: tidak.
Data yang ada bukan rahasia. Surplus neraca perdagangan Indonesia turun hampir 50% dalam setahun terakhir. Cadangan devisa turun ke level terendah hampir dua tahun karena Bank Indonesia harus jor-joran intervensi pasar.
IHSG terkoreksi lebih dari 33% sejak awal tahun. Modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia dalam jumlah signifikan.
Semua ini terjadi karena kombinasi faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik dan penguatan dolar AS global, serta faktor internal berupa fundamental ekonomi yang melemah. Faktor-faktor ini yang dibaca oleh investor institusional, dan membuat mereka memilih memindahkan modalnya ke tempat lain.
Tapi Bukankah Sentimen Bisa Pengaruhi Pasar?
Ya, sentimen pasar memang nyata dan mempengaruhi pergerakan kurs. Tapi sentimen yang dimaksud adalah sentimen pelaku pasar keuangan global, bukan sentimen yang terbentuk dari timeline Twitter. Mereka membaca laporan ekonomi, proyeksi IMF, dan keputusan kebijakan pemerintah. Bukan thread panjang dari akun anonim.
Dan kalau pun kita terima premis bahwa suasana negatif di publik bisa melemahkan kepercayaan investor, pertanyaannya jadi: apa yang menciptakan suasana negatif itu? Kondisi ekonominya. Bukan kritiknya.
Analoginya begini: kalau ada asap di dapur, yang salah bukan orang yang berteriak ada asap. Yang salah adalah sumber apinya. Menyalahkan yang berteriak bukan solusi. Itu hanya cara supaya dapur tetap terbakar tanpa ada yang ribut.
Negara-negara yang pernah bangkrut akibat krisis ekonomi seperti Argentina, Venezuela, atau Sri Lanka, tidak bangkrut karena warganya terlalu banyak ngomong di sosmed. Mereka bangkrut karena mismanajemen kebijakan yang tidak dikritisi sejak dini, karena alarm diabaikan, serta karena suara peringatan ditekan atau dianggap provokasi.
Kritik bukan racun demokrasi. Kritik adalah sistem peringatan dini.
Menyalahkan orang yang mempertanyakan kebijakan atas akibat dari kebijakan itu sendiri adalah logika yang justru membahayakan.
Aku tidak tahu apakah tweet itu ditulis dengan niat buruk atau cuma frustrasi yang salah arah. Tapi argumennya tetap keliru, serta tanpa data yang mendukung.
Lebih baik kita fokus membicarakan, apa yang seharusnya dilakukan pemerintah, serta apa yang seharusnya kita lakukan dalam menghadapi semua ini.
Mungkin di stream berikutnya.
Kata โmataโ, โtanganโ, dan โduaโ muncul hampir identik dari Madagaskar sampai Hawaii.
Kesamaan itu bukan kebetulan.
Sebelum bahasa Melayu ada, ada bahasa purba yang terpencar dari Taiwan ke separuh bola bumi.
https://t.co/EobbebV2kf
#1251
ada bule lg liburan di jogja, terus beli kue dari mba-mba yg nawarin gitu (umkm), dia kasih uang lebih karena dia tau kalo negara ini full of c*rruption :(