Tapi benar. Yang terlihat buruk belum tentu demikian, pun sebaliknya. Persepsi manusia hanya sebatas pengetahuannya, sedang Allah Yang Maha Mengetahui tanpa batas apapun.
Apa yang lebih suram daripada hampa di hati?
Apa yang lebih hampa daripada hampa karena kekosongan?
Apa yang lebih menjadi penyesalan daripada kehilangan karena tidak bisa menjaga?
Meskipun memang, niat awal itu tidak tulus. Bahkan hanya sebagai absensi kewajiban. Bukan karena ingin, apalagi butuh.
Waktu itu, memang sangat klise.
Dan setelah dipikir, waktu itu sangat palsu
1 2 3 bahkan 4 insan dah ditawarin. Tapi qadarullah semua seperti berhalangan. Apa aku harus pergi sendiri aja?
Apa ada sesuatu hal 'kejutan' yang mau Allah kasih?