Pak Rulie belajar dulu membedakan gaji pokok sama take-home pay ya. Sama tolong tanyain koordinator lapangannya, serdos itu apa, syaratnya apa, siapa yg dapat 🙏🏼
Dana Desa ngga bisa dicairkan klo kepala desa belum membangun Kopdes Merah Putih.
Setelah Kopdes dibangun?
Dana desa yang diterima pihak desa malah dipotong dari sebelumnya Rp1 Miliar menjadi Rp200-300 juta.
Kini dana desa bukan lagi bantuan, tapi pemerasan berbalut program.
Salah satu muara persoalan gaji dosen kecil di Indonesia adalah: memisahkan "gaji pokok" dan "tunjangan". Gaji pokok dibikin kecil (2,6 juta?) lalu ada pekerjaan2 tambahan dengan "tunjangan" sehingga gajinya terlihat besar.
Kita tidak sadar kalau praktik ini adalah eksploitasi.
JUST IN: Tanggapan Media Askar, Dosen UGM sekaligus Direktur Kebijakan CELIOS terkait meningglanya 5 calon Manajer KDMP
"Ungkapam duka cita itu tidak mengembalikan nyawa saudara kita"
"Selama 10 tahun terakhir, empat orang meninggal dalam wajib militer di Korea Selatan, dan itu jumlahnya dua juta orang."
"Indonesia, hanya dalam dua minggu, lima orang meninggal untuk pelatihan militer. hanya pesertanya 32.000 orang."
"Lebih ironi lagi, di Korsel itu pelatihan militernya untuk perang, di Indonesia pelatihan militernya untuk calon manajer toko kelontong, ini absurd, ini aneh, ini tidak bisa diterima dengan akal sehat!"
"Jadi cara berpikir kebijakan kita balik lagi ke 1970-an, dan menurut saya, saya sepakat untuk dihentikan saja"
"ANGGARAN ITU MUNGKIN BISA HILANG, TAPI NYAWA ITU TIDAK BISA DIKEMBALIKAN."
Kopdes akan gagal, tau kenapa?
Pemerintah kirain bisnis retail itu asal ada lahan, bangun toko, isi barang, lalu jualan. Kalau pejabat cuma punya kemampuan beli dan ngemeng, mereka beli franchise Alfamart atau Indomaret yang kelihatan memang cuma itu. Punya ruko, dekor-dekor, jualan. Apa sih susahnya?
Padahal bangun toko itu bagian yg paling gampang.
Yang susah itu memastikan barang yang dicari pelanggan selalu ada, harganya bersaing, stoknya nggak busuk di gudang, distribusinya lancar, dan semua itu bisa jalan setiap hari di ribuan lokasi berbeda. Itulah bagian yang selama ini dikerjakan oleh franchisor dan jaringan operasionalnya.
Nah, Kopdes mau masuk ke permainan yang sama tanpa punya persiapan ke semua itu. Kalau beli barang dari agen, harga kalah. Kalau distribusinya nggak efisien, biaya naik. Kalau hasil tani warga dibeli tanpa perencanaan yang bagus, gudang bisa penuh barang yang nggak laku. Belum lagi kalau pengelolanya nggak punya pengalaman retail, stok bisa berantakan dan uang nyangkut di mana-mana.
Yg bikin makin stress, pelatihan yang ditonjolkan justru model militer. Lah, ini kan mau bikin jaringan retail, bukan tim mawar.
Gw nggak pernah lihat Indomaret melatih kepala toko push-up.
Gw nggak pernah lihat Alfamart meningkatkan inventory turnover dengan baris-berbaris.
Gw juga nggak pernah dengar Distribution Center bisa lebih efisien karena pengelolanya jago muter-muterin senapan.
Masalah retail itu forecasting, procurement, inventory management, shrinkage, distribusi, merchandising, cashflow, dan masih banyak lagi. Kalau barang yang dicari nggak ada, pelanggan tetap pergi. Mau sikap sempurna, langkah tegap, atau push-up 100 kali juga tetap pergi.
Pelanggan datang nyari minyak goreng.
"Maaf Bu, stok habis. Tapi saya siap push-up 100 kali."
Makanya menurut gw tantangan terbesar Kopdes bukan membangun tokonya. Membangun toko itu bagian yg gampang (ya meskipun bagian pemilihan lokasi di tengah hutan agak out of the box ya). Dekor-dekor kosmetik gw rasa pemerintah kita udah paling ahlinya. Tantangan sebenarnya adalah membangun system yang membuat toko itu bisa jalan.
Tanpa model operasi yg kuat, kopdes memang bisa berdiri tokonya, tapi bakal jadi bisnis kocak yg bakar duit terus.
Ujungnya apa? Pemborosan anggaran dan jadi lahan basah untuk korupsi.
Ini menurut gw orang goblok yang kelamaan kerja di faskes primer.
1. UKM dan UKP harus sama sama kuat modalnya. Kalo modal buat UKP 2M, UKP harus 4M. Fasilitas UKM dan UKP juga harus bagus, misal puskesmas punya studio podcast. Pos pos uang yg gak penting hapus aja, "YTTA" 🤣
Sejumlah guru honorer madrasah dari berbagai daerah demo di depan Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (20/5/2026) pukul 13.00 WIB. Terjadi kemacetan yang cukup panjang sehingga terdapat pengalihan rute TJ pada koridor Koridor 9, Rute 1W, 3F, 9A, 10H, T31, S61 dan SH2.
Gaji guru naik hampir 300%....eh cuma 3 detik kok...
The Hippocratic Oath says "DO NO HARM."
But working 72-hour shifts causes harm.
Underfunded hospitals cause harm.
Unpaid salaries cause harm.
Where is the oath that protects the doctor?
Tahun 2016: Pah, aku mau masuk FK UGM biar bisa jadi dokter yg bermanfaat bagi masyarakat
Tahun 2026: Pah, aku mau masuk Jurusan Peperangan Asimetris aja biar bisa jadi kepala SPPG
Let me flex as well. Bu wamen, saya PNS dosen di Surabaya. SKD tertinggi. Sering dipilih mewakili conference dan pengabdian masyarakat di luar negeri. Saya juga yang jadi dosen terbang untuk kerjasama antara univ saya dan sebuah univ di Australia. Kurang kompeten apa? 😂
ANJING INI BUZZER KAH??? gua padahal mau nyari bank digital yg bagus buat nabung ada kantong2 nya biar bisa bedain malah keluar rata2 beginian anjing padahal sebelum nya gua cari ga begini
Yang dicuri 28 Miliar, ditawarin balik cuma 7 miliar.
Btw yang dicuri ini bukan uang gereja, tapi uang tabungan 1.900 umat yang backgroundnya macam2, ada yang buruh, petani, dll.
Suster Natalia cerita kalau dia sampai utang kesana sini buat nalangin umat yang butuh dana mendesak karena berobat atau sekolah anak.
Kita bantu viralin biar BNI ga ngeles mulu.
Tanpa banyak basi, pelaku adalah Fajri Revandy Putra, alumni FIS S1 Pendidikan Geografi UNJ lulusan 2021 dan saat ini bekerja di Good Doctor serta aktif di komunitas sosial yg berbagi makanan tiap minggu.
IG: fajrirevan
X: _rrevan
Dari awal kita udah salah nempatin narasinya:
KB (Keluarga Berencana) itu Kontrasepsi.
Padahal...
KB itu level konsep & arah.
Itu program negara dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) yang tugasnya ngajak pasangan mikir:
keluarga kecil ini mau dibentuk kayak apa, polanya gimana, jarak anaknya masuk akal atau nggak, kesehatan pasutri gimana, dkk. Itu quality control sosial, bukan intervensi medis.
Kontrasepsi itu level alat & mekanisme.
Dia urusan klinis. Kerja di hormon, ovulasi, sperma, endometrium. Netral. Dipakai atau nggak tergantung kebutuhan, kondisi tubuh, dan kesiapan pasangan.
Yang salah dari awal di Indonesia:
konsep (KB) diturunin jadi nama alat.
Akhirnya orang “ikut KB” = minum pil / suntik / pasang alat.
Diskusi konseptualnya loncat. Nggak ada fase: kita mau ngapain sebagai keluarga?
Begitu levelnya ketukar, efek berantainya kelihatan:
– KB jadi urusan klinik, bukan ruang diskusi pasangan.
– Kontrasepsi jadi kewajiban, bukan pilihan strategis.
– Dan karena alatnya mayoritas kerja di tubuh perempuan, bebannya jatuh ke satu pihak.
Kalau kita benerin levelnya, polanya jadi gini:
KB (Keluarga Berencana) dulu → diskusi → baru pilih kontrasepsi kalau perlu.
Bukan sebaliknya.
Jadi problemnya bukan KB-nya.
Bukan juga kontrasepsinya.
Yang keliru: kita lompat ke alat,
tanpa ngobrol dulu soal arah.
Padahal “rencana” itu butuh wawasan.
Dan wawasan cuma lahir dari diskusi.