ALL EYES ON INDONESIA, PRAY FOR INDONESIA. 🥹
ALL EYES ON NTT
ALL EYES ON PAPUA
ALL EYES ON ACEH
ALL EYES ON SUKAJAYA
too many things are happening at once, and honestly it's heartbreaking to watch. negeri ini lagi gak baik-baik aja.
teman-teman, please keep them in your prayers. buat saudara-saudara kita yg lagi terdampak, semoga mereka semua selalu dilindungi dan segera dipertemukan sama pertolongan.
ortu2 di sini fokus nonton upacara di tv berharap ada ucapan belasungkawa dari presiden 🥺
nonton livestreaming upacara di istana sambil sesekali lari keluar karna gempa susulan rasanya aneh, kami sperti nonton acara kemerdekaan negara lain
MARAH SEKALI😭
presiden dan jajaran senyum2 pesta sementara kami di sini masih banyak yg bahkan belum masuk bantuan apapun, pontang panting saling bantu sementara presiden prescon ucap belasungkawa secara langsung saja tidak.
bingung mau marah yg bagaimana lagi.
“tempat berlindung dihari tua~” idk how to say, i’m just crying.
- NTT per pukul 09.53 ini masih gempa
- Aceh belum pulih
- ekonomi semakin sulit
- kriminalitas merajalela
- korupsi dimana-mana
- hukum tajam kebawah tumpul keatas
kemana harus mengadu, even our mr president mengusir rakyatnya sendiri. and i? i still stayed…
— 17 agustus 2026, perayaan hari kemerdekaan yang “tidak merdeka”
Tadi pas liat ini juga agak kaget🥲
Baru ini seumur-umur liat upacara 17 Agustus, penerjun-nya selain ngibarin bendera merah putih, juga ngibarin foto Presiden😂
Like, se-NPD itu kah? sampai2 seluruh isi rezim berlomba2 menjilat Presiden segitunya dgn segala cara
Shameless.
ngeliat besok those upper class ngumpul di istana negara all smiles and laughs for independence day while people in aceh, ntt, and papua still struggling... we really live in a dystopia country 🥲
KORBAN KONTEN🚨
Bantuan Berujung Perundungan Ketika Kekuasaan Pejabat Dijadikan Alat Permalukan Rakyat demi Konten!
Sebuah tren mengkhawatirkan kembali menjadi sorotan publik wak, potongan video Gubernur Jawa Barat KDM, yang berulang kali merendahkan verbal bullying mahasiswa Unpad di depan kamera.
Mulai dari ucapan menohok ENGGAK BOLEH PUNYA MENTAL GESER, emang yang mau BANTU SIAPA, hingga membeberkan masalah privasi keluarga warga ke ruang publik secara terbuka.
Bagi sebagian orang, gaya ini mungkin dikemas sebagai PENDIDIKAN MENTAL atau KETEGASAN SEORANG PEMIMPIN. Namun, mari kita membongkar realitas di balik kamera ini secara jernih wak.
1. Ketimpangan Relasi Kuasa POWER IMBALANCE
Seorang Gubernur memegang kekuasaan politik, anggaran, dan sorotan media. Sementara warga terutama mahasiswa atau rakyat biasa berada di posisi rentan yang datang untuk meminta solusi atau bantuan.
Menggunakan posisi kekuasaan tersebut untuk mempermalukan, menyindir, atau menghakimi urusan pribadi rakyat di depan kamera bukanlah bentuk edukasi, melainkan PERUNDUNGAN VERBAL /verbal abuse yang dilindungi oleh tirai popularitas.
2. Eksploitasi Kerentanan Demi Algoritma & Monetisasi Konten
Jika niat seorang pejabat publik murni untuk membantu rakyat yang mengalami kesulitan finansial atau masalah pendidikan
- Mengapa harus ada proses intimidasi verbal di depan lensa kamera?
- Mengapa privasi dan kehormatan keluarga warga harus dikorbankan demi mengejar durasi video, ENGAGEMENT, dan VIEWS di media sosial?
Bantuan dari uang rakyat atau anggaran daerah adalah HAK WAKAF MASYARAKAT, bukan kemurahan hati pribadi pejabat yang harus dibayar dengan harga diri dan martabat warga!
3. Bahaya Laten Normalisasi BULLYING oleh Pejabat
Ketika seorang Kepala Daerah mencontohkan pola komunikasi yang gemar merendahkan warga kecil, hal ini mengirimkan pesan berbahaya bagi masyarakat luas wak, seolah-olah siapa pun yang memiliki uang dan jabatan berhak membully pihak yang lebih lemah.
Negara ini dibentuk atas dasar nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Tugas pejabat adalah memfasilitasi solusi kebijakan secara bermartabat, bukan menciptakan panggung PENGADILAN MORAL harian di akun media sosialnya.
Rakyat butuh Gubernur yang bekerja secara terstruktur melalui sistem dan kebijakan publik, bukan konten kreator yang menjadikan kesulitan warga sebagai bahan olokan dan pencitraan politik!
Bagaimana pandangan kalian wak? Apakah gaya komunikasi pejabat yang suka mempermalukan warga demi konten ini masih bisa dimaklumi, atau sudah melampaui batas etika kepemimpinan?