Gue bikin web gratis buat cek abu vulkanik dari gunung yang lagi siaga di Indonesia. Tinggal buka, gak perlu install apa-apa. Yang bisa lu cek: gunung mana aja yang statusnya siaga sekarang, abunya lagi ke arah mana.
Tes kesehatan pasangan sebelum nikah:
1. Tes HIV
2. Tes golongan darah
3. Tes Genotype
4. Tes Hepatitis B dan C
5. Tes penyakit menular seksual (PMS)
6. Tes kesuburan
7. Pemeriksaan potensi kelainan genetik kronis
8. Tes Thalassemia
9. kesehatan mental
10. Cek bi checking (diluar tes kesehatan)
"love should be fun" kamu butuh cowok pinter yang bisa lebih dominan, cowok yang bisa ngasih penjelasan logis tentang overthinkingmu, sabar, ga insecure-an, ga banyak kode tapi action, ga banyak janji tapi bukti, dan bisa bikin kamu nurut tanpa ngatur-ngatur.
prabowo ini pingin sekali dikenal sebagai orator ulung, pidato berapi-api yang membakar semangat meneruskan citra soekarno, sampai ke gaya berpakaian dan kacamatanya walau gak sama persis
tapi di satu sisi dia denial dengan programnya yang dia rasa selalu benar tanpa liat aktualnya di lapangan seperti apa, marah ketika dikritik, isi pidatonya hampir sama; masih menyindir lawan politiknya, meluapkan emosi ke bawahan dan rakyatnya, kalimat2nya penuh amarah bahkan terkadang menjadi seperti anak kecil yang gak terima ketika khayalan imajinernya diganggu, gak ada kompromi untuk sekedar masukan untuknya. dia hidup di kepalanya sendiri
gws, indonesia
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Kalau ada yang nanya ke gue, “gimana sih cara tau dia orang yang tepat?”
Cowok yang layak dipilih tuh cowok yang punya arah hidup jelas. Dia mikirin kalian bakal tinggal di mana, rumah kayak gimana, masa depan mau dibawa ke mana. Dia juga mikirin soal anak sesuai kemampuan dia sama pasangannya.
Dia ngerti cara ngatur ekonomi, kesehatan, sampe urusan makan keluarga. Bahkan hal kecil kayak quality time atau liburan keluarga juga dipikirin.
Karena cowok yang bisa ngerencanain hidup itu biasanya juga tipe provider.
Bukan cuma banyak omong.
Tapi omongan sama tindakan jalan bareng.
Cowok itu harus bisa jadi perencana yang bagus.
Kalau ditanya “mau nikah kapan?” aja masih “eee… nanti dulu… liat aja nanti…” ya gimana mau yakin 😭
Bilangnya santai aja, jangan buru-buru, jangan maksa nikah dulu.
Padahal ujung-ujungnya kalau hidup berantakan, yang nanggung capek sama sakitnya ya pasangan juga.
Nikah tuh bukan cuma modal cinta doang.
Tapi modal siap lahir batin, siap mikirin masa depan, dan siap jadi sandaran.
Lakik gue aja protes gue nitip belanja dikit ke dia
Dan orang random berani ngajak gue cuddle dengan offering “fee lumayan”
Lah mending gue cuddle lakik gue sendiri tiap hari dikasi duit banyak 🤣🤣🤣🤣
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Ini kok saya dapet UKT tertinggi? Penghasilan Orang Tua saya gak segede itu?"
"Coba saya cek, kasih nama sama NIM?"
"Debi Pak, ini NIM saya."
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang biasanya UKT tertinggi, memang gitu aturannya di kampus ini."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba kamu apply KIPK. Ini dicek ya syaratnya."
***
"Bu Dinas Sosial."
"Iya gimana?"
"Saya mau cek orang tua saya di desil berapa di DTSEN, saya mau daftar KIPK."
"Minta NIK orang tua ya."
"Ini Bu, tolong dicek"
"Sebentar ya"
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS pasti kehapus dari DTSEN. Dari jaman DTKS juga rutin diapus. Perintah menteri sosial. Memang aturannya gitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba kamu pakai surat keterangan tidak mampu atau slip gaji ortu buat daftar KIPK."
***
"Pak Lurah, saya mau minta SKTM buat daftar KIPK"
"Kamu bukannya Debi, anaknya Bu Lala, dosen di kampus itu?"
"Iya Pak"
"Lah, penghasilannya bukannya lumayan?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Bentar saya cek dulu aturannya, Ibu PNS kan ya?"
"Iya Pak"
"Saya kemarin dapet instruksi dari Pemda sini, katanya kalau PNS gak boleh dapet SKTM. Jadi saya gak berani keluarin."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba langsung pakai slip gaji Ibu ke Dikbud."
***
"Bu Dikbud."
"Iya gimana?"
"Saya mau daftar KIPK, cuma data ortu saya gak ada di DTSEN sama Pak Lurah gak bisa ngeluarin SKTM. Jadi pakai slip gaji."
"Sebentar saya cek ya."
"Ini slip gaji ibu kamu? PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang gak bisa daftar KIPK. Kemarin pejabat tim teknis KIPK udah bilang kalau PNS gak boleh sama sekali."
"Sama sekali Bu? Gaji Ibu saya cuma segini?"
"Iya. Bahkan Golongan I juga gak boleh. Memang aturannya begitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba ke bank aja sama Ibu, siapa tahu bisa ada pinjaman"
***
"Bu CS Bank"
"Iya gimana?"
"Saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya"
"Baik Bu, saya cek dulu"
"..."
"Bu Lala, setelah kita cek penghasilan dan riwayat finansial, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi. Saya gak berani Bu, nanti saya yang kena."
"Waduh, terus gimana ini Bu?"
***
"Pak TU kampus, saya gak bisa dapet KIPK Pak"
"Udah coba pinjam bank?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Ibu saya gak cukup."
"Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas fintech, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
"Iya Mbak"
"Waduh, itu segede biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya"
"Memang aturannya segitu pinjaman kita."
***
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Misalkan saya mau nunda kuliah jadi tahun depan, buat ngumpulin duit dulu, bisa gak?"
"Jadi gak daftar ulang pertama?"
"Iya."
"Gak bisa, kalau udah lulus ujian tahun ini, kamu diblacklist dari ikut ujian lagi tahun depan."
"Hah?"
@yappingfess Bener.. Biasanya keliatan banget aura (terawatnya). Sisi kesehatan aja, mereka sakit dikit langsung ke dokter, sedangkan me didikan "ah gini doang, besok juga sembuh". Pas dewasa baru sadar byk pr kesehatan yg harus dibenerin sendiri. Cape banget harus figure out semuanya skrng.