A person once told me that when you love someone dearly from the heart of yours, nothing about them is ever too much or too little for you to bear. They’re just the right amount. Then by that, nothing is ever too much to ask from the person who truly loves you
lu bayangin tiap hari lu dipuji, setiap ragu lu diyakinin, setiap gugup lu dikuatin, setiap insecure lu diapresiasi. capek lu dipahami, diam lu ditenangin, bahkan saat lu ngerasa kurang pun masih ada yg terus bilang klo lu cukup🥺🤍 #whenya
Anak-anak yang hidup di keluarga yang tidak stabil, seperti sering bertengkar, kasar, abusive, atau diabaikan, ternyata memiliki pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah bertugas di medan perang.
Jadi ada penelitian yang memeriksa otak anak-anak yang mengalami kekerasan atau konflik keluarga menggunakan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging).
Nah hasilnya menunjukkan adanya aktivitas yang jauh lebih tinggi di dua area otak yang penting untuk deteksi ancaman dan respon stress. Nama area otaknya adalah anterior insula dan amigdala.
Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi “siap siaga” terus-menerus), mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur.
Nah risikonya adalah dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, regulasi emosi, dan masalah kesehatan mental lainnya, meskipun anak tersebut belum menunjukkan gejala psikiatri saat itu.
Yang perlu diperhatikan adalah temuan pada otak anak ini bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah pasti mengalami kerusakan otak permanen.
Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan yang tepat.
Penelitian ini justru menekankan pentingnya lingkungan keluarga yang aman untuk perkembangan otak anak.
Semoga bermanfaat!
the discomfort some people feel when being called “mbak” often linked to an anxiety about being associated with a lower socioeconomic class which exposes both gender bias and class prejudice operating at the same time
The saddest part about liking someone nowadays is having to guard your heart like love is a danger zone. You can’t even like someone peacefully without wondering if it’s real or if you’re just another temporary experience to them. Dating now feels like choosing between being played, confused, or emotionally drained because too many people treat hearts like hobbies and relationships like temporary entertainment.
Marry a man who wants to make your life easy regardless of his income, don’t marry a man who romanticise or glorify poverty and struggles. Marry a man who’s generous and god fearing. Poverty brings humiliation, debt and misery. May Allah save us from poverty and grant abundance.
"kalo blm nikah tuh jangan gemuk², ntar abis nikah makin gemuk"
"kalo km ga cari pacar skrng tar udah tua ga laku"
"kamu cewe, harus bisa didapur. ga mungkin nyuruh adikmu cowo didapur"
oh shit i hate all of this. i think it's really really better to not marriage in this culture
nyokap dulu pernah nakut-nakutin, "ntar ngerasain kayak gini juga kamu kalo udah punya anak" dan aku jawab pd dengan "yaudah aku ngga usah punya anak aja" kemudian malah dinasehatin kalo 'ngga boleh ngomong gitu'. sekarang makin gede malah makin ga pengen punya WKWK
sorry bgt i dont mean to be classist dan jahat. but it's funny y'all indonesian men wanna be a patriarchist so bad with 0 money on your bank account. Can't even provide yourself and yet you wish that your women submit to you? lmfaooooo