Mau Sidang Ijazah palsu? AYO!
Sasaran pertama dari cecaran pertanyaan yang akan saya minta dihadirkan ke ruang sidang adalah dua orang perempuan ini.
Yang mengaku-ngaku teman KKN Joko Widodo.
Yang mengaku-ngaku waktu KKN mereka panggil Joko Widodo dengan "Jack" supaya keren.
Siap-siap ya Bu Richie Wijaya alias Ritje Dwijaja alias Rince Dwijaja
Dan Bu Yohana Bergmans Sudarwati alias Yohana Bekman Sudarwati
Kalian berdua akan saya setrap tiga hari tiga malam, dan akan saya bikin kalian terkencing-kencing dan gemetaran dengan ribuan pertanyaan yang saya siapkan untuk bikin kalian menyesal
Berani-beraninya mengaku-ngaku sebagai teman KKN si Jack!
Siap-siap ya Bu, kalau jadi sidang, kalian mangsa pertama saya!
Bawa pampers yang banyak!
CERITANYA NIIH MENURUT VERSI TERMUL ...Foto yang Pakai Kaca mata. KACA MATA DI IJAZAH JKW MEMANG JKW. MENURUT TERMUL.
foto habis nikah pakei kaca mata rambut gondrong belah dua. Tingginya sama istrinya Tidak terlalu jauh tingginya.
Foto yg bawah jkw dan Ibu Iriana. Kok Jkw tambah tinggi
Ibu Iriana tambah pendek.
Wajib Lapor adalah Tahanan Kota
Sahabat Dokter Tifa dimanapun anda berada,
Sejak saya ditetapkan sebagai Tersangka tanggal 7 November 2025, saya diberi kewajiban WAJIB LAPOR seminggu sekali ke POLDA Metro Jaya
Dan kewajiban itu saya penuhi sebagai bentuk tanggungjawab saya sebagai warga negara yang baik.
Jadi seperti ini suasana tempat saya diperiksa. Direskrimum Kamneg Unit 5.
Unit Kamneg artinya Keamanan Negara. Artinya anda tahu kan bahwa persoalan Ijazah Palsu ya Joko Widodo ini adalah persoalan Keamanan Negara.
Ijazah Palsu seorang Mantan Presiden yang menggunakannya untuk meraih jabatan Presiden 10 tahun, dan setelah dia pensiun, Rakyat melalui pajak harus membelikan rumah sebagai hadiah senilai kabarnya Rp 250 Miliar dan memberikan kepadanya uang pensiun sampai dia ke liang lahat.
Dan untuk itu maka dia pakai Ijazah yang berdasarkan penelitian kami, menurut keyakinan kami, palsu.
Wajib Lapor ini setelah saya jalani 22 kali, saya hikmati sebagai bentuk Tahanan Kota. Agar saya tidak pergi kemana-mana yang jauh.
Dan pada wajib lapor tanggal 29 Januari 2026, dua oknum termul, AA dan FA, mendatangi saya di ruang lapor ini, membujuk dan menawari saya agar ke Solo menemui Joko Widodo untuk Restorative Justice.
Di situlah, anda semua bisa menilai, siapa yang sesungguhnya ingin kasus ini selesai tanpa sidang pengadilan.
Bukan saya tentu saja.
Saya woles aja.
Main ke Polda Unit Kamneg 5 seminggu sekali.
"Halo halo Assalamu'alaikum.
Apa kabar semua sehat-sehat?"
Itu sapaan saya kepada Para Penyidik di ruangan itu.
Saya yakin kalau saya sudah tidak wajib lapor lagi mereka bakalan kangen. Hahaha GR!
🚨#Bigbreaking news 🇮🇷 🇮🇱
It is being claimed that, Israel’s National Security and Ministry of Defense, in the “Iron Swords” war and operations against Iran, the number of deaths in the Israel Defense Forces (IDF) has reached 25,644, and in other operations, 5,313 people have died.
Hari ini, 21 April 2026. Hari Kartini.
Banyak orang bicara emansipasi.
Banyak yang unggah foto berkebaya.
Banyak yang kutip nama Raden Ajeng Kartini.
Tapi izinkan saya bertanya satu hal:
Kalau Kartini hidup hari ini, dia akan diam atau melawan terhadap kepalsuan ijazah?
Kursi di ruang pemeriksaan Direskrimum Polda Metro Jaya itu,
adalah batu uji sebuah keteguhan.
Di situlah dua orang termul, berinisial AA dan FA mendatangi saya di hari Kamis, 29 Januari 2026, tiga bulan lalu.
Merela datang bukan membawa kebenaran. Tapi membawa opsi untuk menghentikan kebenaran.
Satu kata mereka dorong kepada saya:
RJ. Restorative Justice.
RJ menjadi Bahasa halus dari satu kalimat:
“Sudahi saja. Jangan lanjut.”
Lalu mereka tambahkan tekanan:
“Salah satu dari RRT sudah tanda tangan, Dok. Inisial RHS. Masa Dokter tidak mau?"
Artinya?
Semua sudah diarahkan. Tinggal kamu ikut.
Di titik itu, di depan mereka, saya tidak sedang memilih sebagai individu.
Saya sedang memilih,
apakah saya layak menyebut nama Kartini hari ini atau tidak.
Karena Kartini tidak lahir untuk kompromi. Kartini tidak menulis untuk tunduk. Kartini tidak berdiri untuk ikut arus.
Kartini melawan ketika sistem menekan.
Dan hari itu, di kursi itu,
saya tahu satu hal:
Kalau saya tanda tangan RJ,
maka saya bukan Kartini.
Saya hanya bagian dari rantai yang menghentikan kebenaran.
Jadi hari ini, 21 April,
saya tidak memakai kebaya untuk menghormati Kartini. Celana cargo dan sepatu boots kesukaan karena saya orang lapangan. Lari sana sini dengan cepat dari satu tempat ke tempat.
Saya cukup melakukan satu hal yang mudah-mudahan lebih bernilai:
Saya menolak tunduk.
Dan hari ini saya memilih:
Tetap berdiri.
Tetap melawan.
Tanpa kompromi.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
We are outraged. An Indonesian peacekeeper is murdered. Another is fighting for his life. Israel bombed the base where they served.
This is clearly not an accident, nor a collateral damage. This is Netanyahu’s regime showing, once again, that they don’t care about international law, about UN personnel, and about the lives of those who dedicate themselves to peace.
Indonesia has gone above and beyond. We have sent over 1,200 of our troops to serve under the UN flag. The Indonesian government also joined the Board of Peace to push for a just and lasting resolution in the Middle East. We extended our hand in good faith. Yet the answer to that good faith is a bomb dropped on our soldiers’ base. They spat on every effort Indonesia has made for peace.
But let us be honest, this is not surprising. Netanyahu’s regime has shown time and again that they are indifferent to the world’s calls for restraint. They ignore UN resolutions. They strike UN facilities. They kill civilians, journalists, aid workers, and now peacekeepers. No one is off-limits. No one is safe. Sadly, it keeps going because the world keeps allowing it.
To the UN Secretary-General, we appreciate your condemnation and your condolences. But words are not enough anymore. The UN must move beyond statements. Concrete, enforceable, and urgent action is what this moment demands. The credibility of the UN is on the line. If the world body cannot protect its own peacekeepers, what exactly is it protecting?
To the nations of the world, now is the time to act together. Push for accountability. Refer those responsible to international courts. Enforce the rules that you all signed up to uphold. International law is only as strong as the willingness of nations to defend it. That willingness has been tested over and over again by Netanyahu’s regime. For countless of times, the world has failed the test.
Do not let this death be forgotten in a news cycle. Do not let this become just another statistic in a long list of violations. Demand justice. Demand accountability. Make clear that those who attack UN peacekeepers will face real consequences.
Kepada prajurit TNI yang gugur, selamat jalan, Pahlawan. Doa kami menyertai, juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Kepada yang terluka, semoga lekas pulih. Indonesia berduka, tapi kita yakin, Indonesia tidak akan diam.
-Kini kami Dwitunggal-
Sejak awal langkah ini dimulai, ketika jalan masih gelap, ketika suara-suara kebenaran terasa seperti berbisik di tengah badai yang paling menguatkan kami, saya dan Rismon, yang waktu itu masih waras, adalah Mas Roy.
Ia tidak sekadar hadir. Ia mengayomi.
Ia tidak sekadar berbicara. Ia menguatkan.
Dalam setiap tekanan, setiap gempuran, setiap tudingan yang datang tanpa henti dari berbagai arah, Mas Roy berdiri seperti dinding yang kokoh.
Setahun ini bukan waktu yang pendek. Rangkaian hari-hari panjang yang menguras tenaga, emosi, bahkan keyakinan terdalam.
Namun di tengah itu semua, Mas Roy tetap tegak, dengan stamina yang seakan tak habis, dan mental yang tak retak.
Namun ada satu hal yang sering luput dilihat orang, saat kita sedang letih dan lemah. Mas Roy yang selalu ceria, yang tawanya berderai-derai.
Ringan, lepas, seolah ingin mencairkan segala beban yang kami pikul bersama.
Tawa dan cerianya bikin kami naik semangat.
Ia hampir tak pernah berkata tidak.
Selalu ada “iya” di setiap permintaan, di setiap kebutuhan, di setiap kelelahan yang kami rasakan.
Dan lebih dari itu,
ia selalu berusaha menyenangkan semua orang.
Di tengah kerasnya perjuangan, ia memilih menjadi pribadi yang hangat.
Di tengah gelapnya tekanan, ia memilih menjadi penerang yang sederhana: tawa, kehadiran, dan kesediaan.
Ia benar-benar Abang.
Bukan hanya karena usia. Tapi karena jiwa.
Dan kini…
ketika Rismon memilih jalannya sendiri, meninggalkan ruang perjuangan yang pernah kita isi bersama, ada kekosongan yang tak bisa dipungkiri.
Sunyi itu nyata.
Namun perjuangan tidak boleh berhenti.
Kini kami berdiri sebagai Dwitunggal.
Bukan karena segalanya menjadi lebih ringan, justru sebaliknya.
Tapi karena kami tahu, amanah ini tidak boleh jatuh.
Dari tiga, menjadi dua.
Dari ramai, menjadi lebih senyap.
Namun justru dalam kesenyapan itu, tekad kami mengeras.
Mas Roy, tetap Abang yang sama.
Dengan tawa yang tak pernah benar-benar padam,
dengan hati yang selalu berkata “iya”,
dengan niat tulus untuk membahagiakan orang-orang di sekelilingnya.
Dan saya, akan tetap melangkah.
Dengan segala luka, dengan segala pelajaran, dengan segala kesadaran bahwa perjuangan ini tidak pernah tentang jumlah, tetapi tentang keteguhan.
Karena pada akhirnya,
yang bertahan bukan yang paling banyak,
tetapi yang paling setia pada kebenaran.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…
Lima bulan lalu bertemu dengan Aqilla, gadis kecil 12 tahun dari Sukabumi yang selalu ceria dan optimis, walau menyandang kondisi medis yang membuatnya harus rutin ke RSCM Jakarta dua kali setiap minggu. Aqilla ingin bertemu saya, dan Make-A-Wish Indonesia mewujudkannya. Kami berbincang, merayakan ultahnya, membuat video TikTok bersama dan saling follow.
Sore ini, kami mendapat kabar Aqilla berpulang jam 6 pagi tadi di RSCM setelah berjuang melawan gagal ginjal kronis yang telah ia derita sejak usia dua tahun. Jenazahnya langsung dibawa ke Sukabumi untuk dikebumikan. Duka amat mendalam kini kami rasakan. Pertemuan dengan Aqilla memang singkat, tapi kesannya lama bertahan.
Semoga keluarga Aqilla diberi ketabahan dan keikhlasan. Semoga setiap sabar, setiap lelah, dan setiap air mata yang tercurah selama mendampingi perjuangan Aqilla akan menjadi tabungan amal dan penghapus dosa. Semoga di akhirat kelak, Aqilla menjadi penuntun orangtuanya ke surga yang akan mereka tinggali bersama, selamanya. Aamiin yra.
Selamat jalan, Aqilla…
Dengan uji Overlay SIFT, DIDUGA KUAT Jokowi untuk Cawalkot 2005 dan 2010 menggunakan DOKUMEN SALINAN IJAZAH yang sama, dievaluasi berdasarkan posisi stempel pada kedua dokumen tersebut tak alami perbedaan translasi maupun rotasi (HANYA derau analog atau digital di dokumen 2005).
Per 10 Januari 2026, kami mohonkan permintaan informasi publik kepada PPID KEMENDIKDASMEN seputar kajian kurikulum dan silabus yang menjadi dasar penyetaraan SMK untuk Wapres Gibran. Sampai hari ini, 9 Feb 2026, masih belum ada jawaban.
Banyak pihak bertanya terkait pertemuan kami dg Bpk Presiden @prabowo tgl 30 Jan 2026, ini penjelasan singkat :
1) pertemuan berlangsung jam 17.00 - sktr 20.45
2) Bpk Presiden mempresentasikan sendiri terkait berbagai kebijakan strategis utk percepatan perbaikan bangsa - walau didampingi oleh sktr 10 orang staf “kepercayaa” - tapi Bpk Presiden presentasikan sendiri.
3) Diskusi sangat dinamis dan Bpk Presiden mendengarkan dg baik dan berdiskusi terhadap banyak isu strategi dan “sensitif” demi perbaikan bangsa ke depan.
4) kami “menyepakati” bahwa agenda dan program pengembalian kedaulatan negara dan rakyat harus jadi prioritas serta pemberantasan korupsi, pengembalian sumber daya alam dll.
5) issu- issu strategis dan sensitif seperti reformasi Polri, BoP (Boarding of Peace) Gaza juga dibahas serta isu-isu lainnya. Ini menunjukkan bhw Bapak Presiden @prabowo sangat terbuka utk berdiskusi.
6) setelah pertemuan tersebut, kami akan “beroposisi” kepada pihak-pihak yang menghalangi agenda pengembalian kedaulatan politik, ekonomi, hukum, sumber daya alam, dan kedaulatan wilayah yang telah “direbut” oleh Oligarki bersama antek-anteknya.
Terima kasih kepada Bpk Presiden @prabowo atas penerimaannya dan berkenan berdiskusi dengan kami.