Guys, ada pernyataan dari Anies Baswedan yang menurut gue paling jujur dan paling berani tentang sesuatu yang jarang diakui secara terbuka oleh mantan pejabat manapun.
Anies menyebut kata yang selama ini hanya bisik-bisik di kalangan orang dalam: kriminalisasi.
Dan dia tidak hanya bicara tentang dirinya sendiri.
Pertama fakta yang paling mengejutkan:
Selama Anies menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta KPK menggelar perkara atas kasusnya sebanyak 19 kali.
Bukan sekali.
Bukan dua kali.
Sembilan belas kali.
Jaya Suprana pendiri MURI bahkan sempat nyeletuk:
"Mas, kenapa enggak diusulkan masuk MURI aja?"
Karena normalnya gelar perkara itu dilakukan sekali atau dua kali.
Kalau tidak ketemu kasusnya selesai.
Ini 19 kali. Dan hasilnya: lewat semua.
Dan ini yang paling penting Anies menyebut kata kriminalisasi secara terbuka:
"Tantangan soal berada di pemerintahan itu akhir-akhir ini adalah kriminalisasi. Dan itu fakta.
Saya pun merasakan proses itu.
Teman saya merasakan juga.
Tom Lembong dan yang lain-lain
sekarang sedang merasakan juga."
Ini bukan tuduhan tanpa nama.
Ini disebut langsung.
Tom Lembong mantan Menteri Perdagangan era Jokowi yang kini tersangka disebut sebagai contoh konkret.
Dan yang paling berat dari kalimat itu:
Anies tidak bilang ini sebagai keluhan.
Dia bilang ini sebagai fakta
yang perlu diakui dan dihadapi.
Dan ini tentang strategi bertahan yang paling praktis bukan teori:
Anies tidak curhat panjang lebar.
Dia langsung ke pelajaran konkret dari 19 kali gelar perkara yang dilewatinya.
Pertama: ketaatan pada SOP.
Ini adalah satu-satunya perisai
yang benar-benar bisa dipegang.
Kalau setiap keputusan dibuat sesuai prosedur ada argumen yang bisa dipertahankan di manapun, termasuk di hadapan penyidik yang mencari celah selama berbulan-bulan.
Kedua: menangkan hati bawahan.
Pejabat dan pemimpin itu dua hal berbeda.
Pejabat: kata-katanya diikuti karena ada otoritas. Pemimpin: kata-katanya diikuti karena dipercaya.
Ketika bawahan benar-benar percaya pada apa yang dikerjakan mereka menjadi bagian dari perlindungan itu. Mereka tidak mudah dipakai untuk menjatuhkan atasan.
Ketiga: berteman dengan semua termasuk lawan.
Bukan berarti setuju dengan semua.
Tapi berinteraksi dengan semua.
Karena di Indonesia jaringan pertemanan adalah mata uang yang paling nyata dalam navigasi politik dan birokrasi.
Dan ini yang paling miris dari seluruh gambaran yang Anies lukiskan:
Dia menggambarkan masuk ke birokrasi Indonesia setelah bertahun-tahun di sistem yang efisien di Amerika seperti: "
Habis naik kendaraan di jalur cepat tiba-tiba pindah ke jalur lambat."
Dan pilihannya cuma dua:
tetap ngebut dan nabrak semua orang atau melambat dulu sambil pelan-pelan mengajak yang lain untuk tambah kecepatan.
Yang kedua jauh lebih sulit.
Tapi yang pertama tidak menghasilkan apa-apa
selain kecelakaan.
Dan ini yang paling relevan dengan kondisi sekarang:
Anies berbicara tentang kriminalisasi pejabat bukan sebagai fenomena yang baru.
Tapi sebagai pola yang sudah terlihat dan terus berulang di mana mereka yang berani membuat keputusan di dalam sistem sering kali justru menjadi sasaran ketika angin politik berubah.
Tom Lembong bukan satu-satunya contoh.
Anies sendiri mengalami 19 kali gelar perkara.
Dan pertanyaan yang tidak dia ucapkan tapi menggantung di udara:
berapa banyak pejabat lain yang kompeten dan berintegritas yang akhirnya memilih tidak masuk ke sistem karena risikonya terlalu besar?
Sistem yang mengkriminalisasi pejabat yang bekerja sesuai prosedur dan membiarkan yang korup berjalan bebas adalah sistem yang sedang memilih siapa yang akan bertahan di dalamnya.
Dan pilihan itu punya konsekuensi jangka panjang:
yang kompeten akan berpikir dua kali sebelum masuk.
Yang tidak punya integritas tapi pandai bermain akan terus ada.
Anies lewat dari 19 kali gelar perkara.
Tapi tidak semua orang punya ketahanan dan jejaring yang sama untuk melewati proses itu.
Dan selama sistemnya tidak berubah pola ini akan terus berulang.
Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Di Indonesia...!!!
Rakyat pintar dan kreatif dilarang.... ???
'Petinggi/Pejabat ( Penguasa ) hanya ingin rakyat Indonesia cukup Bansos atau BLT dan tidak boleh pintar.
-
Sedih melihat perkembangan saat ini.
Wahai keluarga miskin di seluruh Indonesia
Anggaran MBG jika dibagikan langsung kepada kalian, maka kalian akan menerima 5,2 juta per bulan per keluarga
Tapi karena harus dibagi dgn vendor2 pemilik SPPG, maka kalian hanya terima 200 ribuan per bulan, itu pun kadang berupa makanan basi
𝗔𝗻𝗮𝗹𝗼𝗴𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗴𝗶𝗻𝗶 :
Lu capek-capek nabung setengah uang gaji lu, setelah 5 tahun tabungan itu lu investasikan ke usaha temen lu agar dapat untung. Ternyata temen lu dengan entengnya bilang duitnya belum diinvestasikan, jadi nggak ada profit, padahal diutangin ke bini lu dng bunga 5% dan lu juga yg bayar bunganya..
𝙺𝚊𝚗 𝚊𝚗𝚓𝚒𝚗𝚐…!!
𝙈𝙖𝙣𝙙𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙚𝙠𝙤𝙣𝙤𝙢𝙞 𝙧𝙖𝙠𝙮𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙡𝙤𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙠𝙞𝙧 𝘽𝙐𝙈𝙉 𝙙𝙚𝙢𝙞 𝙡𝙖𝙗𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙠𝙚𝙧𝙞𝙣𝙜𝙖𝙩.
𝘋𝘢𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘱𝘢𝘯 𝘯𝘦𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘳𝘢𝘬𝘺𝘢𝘵 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘜𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘦𝘨𝘢𝘳𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘯𝘦𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘶𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙮𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙠𝙖𝙞 𝙥𝙖𝙟𝙖𝙠 𝙧𝙖𝙠𝙮𝙖𝙩 𝙡𝙖𝙜𝙞.
Ditanya tentang janjinya ciptakan 19 juta lapangan kerja, Gibran:
#BersatuMakzulkanGibran
"Kementerian yang pertama saya kunjungi dan arahkan adalah kemendikbud, supaya anak2 diajari AI dan coding, supaya tercipta critical thinking. . . "
😂😂😂
#BersatuMakzulkanGibran
Keliling #Palembang hari ini dgn @andinaecha#kulinerlaila#kulinerpalembang
1. Sop Jakarta Haji Abdul Majid Hasan, Taman Kenten.
https://t.co/gGOEolqTxh
2. Pempek Panggang Agus, Lemabang.
https://t.co/FUMLshzK1t
3. Pempek Dos Hendra, Dempo.
https://t.co/jaM6e4vE4K