@waversen Selama beberapa detik itu pula waktu seolah berputar lebih lambat, memberikanku celah ‘tuk sekadar mengagumi keindahannya. “… you have no idea how badly.”
@waversen “Bǎobèi,” Kupeluk tubuh lelaki yang sedang duduk nyaman di atas sofa itu dari belakang. Sebuah kecup yang kulabuhkan di sisi wajahnya pun tak terurungkan. “Aku pulang. Tidak mau menyambutku?” Kucoba ‘tuk melihat wajahnya dari samping, menunggu reaksi yang ‘kan ia beri.
@waversen Kutelengkan wajah untuk menyambut bibirnya dengan sebuah kecupan singkat — yang amat bertolak belakang dengan gerakan agresif yang kubuat di selatan tubuh kami. Kuusap sisi wajahnya dengan mesra sembari kucari-cari sepasang mata kelabu di bawah remangnya cahaya.
@waversen Sejenak kuberi celah agar oksigen yang menipis bisa diisi kembali, sebelum kulahap kembali bibirnya yang telah lama menjadi candu.
“Wukai ….” Tiada bosan kusebut namanya, seolah hanya kata itulah yang mampu ‘tuk kuucapkan. Kuasaku berkelana mencari tepian baju yang ia pakai,