ibu ini cerita kenapa Nadiem Disingkirkan:
- Digitalisasi ancam koruptor= mereka gk bisa korupsi lg
- kebijakan berbasis data bikin penyelewengan ketahuan
- Putus rantai vendor lama
- pindah ke Chrome OS bikin vendor Microsoft & pelatih lama kehilangan income
- Hapus ujian nasional
- hilangkan proyek kertas, buku, soal ujian bernilai miliaran
- hapus jual beli kunci jawaban
- Dana BOS jadi transparan
- laporan terintegrasi, tidak bisa lagi lapor fiktif
- Angkat 700.000 guru PPPK
- ganggu sistem jual beli jabatan yang sudah lama berjalan
- Tidak paham adat
- masuk kolam kotor tapi mau bersih-bersih
- Nadiem disingkirkan karena terlalu banyak pihak kehilangan uang dari pusat sampai daerah
Jujur bingung banget
Negara mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Rupiah menguat, pasar merespons positif, koruptor mulai ditangkap, reshuffle disiapkan. Tapi masih ada yang ngotot demo 12 Juni.
Jadi sebenarnya yang dicari solusi atau memang ingin bikin gaduh?
Nah ini contoh twit buzzer ya ges, biasanya harganya 1 twit begini 3000-5000 rupiah.
Kalau ditawarin begini, jangan mau ya. Masa bayarannya kalah sama pertamax 1 liter
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
Dokter Tirta Aja Beli Mobil Bekas
- Beli aset bergerak seperti mobil dalam kondisi bekas setelah masa depresiasi (2 tahun) agar lebih efisien secara biaya.
- Barang mewah seperti jam tangan lebih berfungsi sebagai personal branding untuk meningkatkan nilai tawar saat meeting bisnis.
- Miliki porsi investasi pada instrumen low risk seperti deposito atau aset tidak bergerak sebagai safety net agar hidup tenang tanpa tekanan.
- Investasi pada SDM (talent) dengan sistem bagi hasil merupakan strategi jangka panjang yang prospektif di Indonesia.
- Kredit barang operasional hanya terasa manfaatnya jika digunakan aktif setiap hari untuk menunjang produktivitas.
Sumber: Dokter Tirta di YouTube Raditya Dika
Bruno Fernandes is just the third player in the last 40 years to record 100+ goals and 100+ assists for Manchester United.
The numbers speak for themselves.
- Disowned by Manchester United
- Hated by his own country
- Missed 2 and a half years of football
- Abused. Threatened
- Off social media for 4 years.
But Mason Greenwood NEVER gave up.
Last night he won his first Champions League Man of the Match.
14 goals and 4 assists in 20 games for Marseille.
Unbelievable comeback story.
🚨🗣️𝗡𝗘𝗪: Thierry Henry on Mohamed Salah's comments: "I had problems with Wenger, with Guardiola… Have you ever heard me talk about it publicly? NEVER. I protected the club."
"When you play for a club, you must protect it at all costs. No matter what’s happening internally, you protect the club — your teammates, the manager, the staff."
"You can be angry, frustrated, disagree… but you don’t air dirty laundry in public, especially when the club is going through difficult moments."
"Instead, you wait, you sort things out internally, and then, if you want to leave or speak your mind, you do it at the right time."
"I understand the ego and Mo’s frustration... He scores 38 goals and ends up on the bench, but there comes a point where you must put the team before yourself.”
🚨🎙️ Ryan Giggs: I was barely 21 years old when I bought a red Ferrari 550 Maranello.
It was the first expensive thing I had ever bought after reaching the top at a young age.
But I couldn't enjoy it, I hid it. I parked it two blocks away from the training ground, and I only drove it at night. Why!? Because I was afraid of the coach.
You didn’t have to hear Ferguson speak to understand him. You just had to see him standing at his office window, looking at you. That look alone would put you in your place.
In that dressing room, it didn’t matter if you were the new rising star or the most experienced player. We all had to behave with humility, On and off the pitch.
That culture shaped me, It made me understand that real professionalism has nothing to do with luxury or fame. But with how you live your life when no one’s watching.
That’s why, when people ask me how I managed to stay at the top level for so many years,To play at the highest level until I was forty, I always give them the same answer:
It was because of what I learned there, It was because of respect. And because I had a coach who, without saying much, taught me everything.
🚨🗣️ 𝗡𝗘𝗪: Kevin-Prince Boateng regarding Lionel Messi and Cristiano Ronaldo.
"Young kids, don't look up to Messi. Because you will NEVER be like him. That's the thing. You can NEVER be Messi. He has received God-given talent in his left foot. We can NEVER be like Messi."
"But, you CAN be KIND OF like Cristiano Ronaldo, because that is hard work. Of course he has talent too. But there was a point in Ronaldo's career where he realized: 'hey, I will stop the show, and I will put in HARD WORK.'
Man United's last 6 games:
- 1 Game lost
Liverpool's last 6 games:
- 4 Games lost
Man city's last 6 games:
- 3 Games lost
But all the headlines are about United.
Hated, Adored, Never Ignored. 🇾��