Di masa UIN Raden Fa**h masih berbentuk IAIN, salah satu dosennya pernah bilang "Kalau bukan karena moral dan agama, ada jutaan warga negara ini yang lebih baik dihilangkan nyawanya karena gak ada gunanya."
Kejam 🗿
apply loker → isi data panjang 😭
online test → belajar lagi 😭
FGD/LGD → muter otak 😭
interview → riset & latihan 😭
MCU → puasa, jarum, buka pakaian 😭
dan itu semua berlaku untuk SEMUA loker… sekarang bayangin kalau apply-nya ratusan…
JYUJYUR HAYATI LELAH🙂🙂🙂
*tapi akan tetap kulanjutkan apply-apply brutal itu…
Seorang ibu lagi ngomel karna disampingnya ada cowok 14 tahun berdiri santai sambil nyedot jempol seperti anak tolol yang tidak tahu apa-apa.
Sementara dua gadis di bawah usia 15 tahun sudah dihamili olehnya.
Bukan cuma satu, dua sekaligus.
Kenapa ini bisa terjadi?
Di usia 14 tahun, otak remaja (khususnya bagian prefrontal cortex) belum matang sempurna.
Kontrol impuls, pemahaman konsekuensi jangka panjang, dan kemampuan mengantisipasi risiko masih sangat lemah.
Hormon lagi naik-turun, ditambah paparan pornografi gratis di HP sejak usia dini, pengaruh teman sebaya, dan minimnya pengawasan orang tua.
Hasilnya “Main papa mama-an” berujung dua kehamilan. Bukan karena dia “jahat” atau “sengaja”, tapi karena sistem di sekitarnya gagal total mencegah ini terjadi.
Orang tuanya hampir pasti gagal memberikan edukasi seks yang benar, pengawasan, dan batasan.
Banyak kasus seperti ini terjadi di keluarga yang sibuk kerja, miskin, atau memang nggak pernah ngomongin soal seks sama anak karena tabu.
Anak dibiarkan “belajar sendiri” lewat HP dan lingkungan.
Si cowok itu juga korban sekaligus pelaku. Secara hukum di banyak tempat dia bisa kena kasus, tapi secara perkembangan dia masih anak.
Tanggung jawab sebagai “ayah” di usia segitu hampir mustahil.
Tapi konsekuensinya tetap nyata: mungkin harus putus sekolah, kerja kasar seumur hidup, atau bahkan masuk penjara tergantung hukum setempat.
Dan ini yang mengerikan sebagai pesan ke semua orang tua & masyarakat:
Kalau anak 14 tahun sudah bisa “berhasil” bikin dua gadis hamil sekaligus, artinya paparan seksual terlalu dini sudah jadi hal biasa di lingkungan itu.
Bukan cuma di Meksiko. Di banyak negara berkembang (termasuk Indonesia), kasus kehamilan remaja masih tinggi karena kombinasi yang sama:
> Kurangnya pendidikan seks komprehensif di sekolah
> Orang tua yang tabu ngomongin seks
> Akses internet tanpa filter
> Kemiskinan yang bikin anak “dewasa” lebih cepat
Bayangin dampaknya: dua bayi baru lahir dari ibu yang masih anak-anak. Siapa yang akan mengasuh mereka? Siapa yang biayai? Siapa yang kasih pendidikan layak?
Satu kasus kecil di satu desa rural ini bisa mewakili ribuan kasus serupa yang nggak viral.
Anak-anak ini bukan cuma “bermain-main”. Mereka adalah cerminan dari seberapa gagalnya kita sebagai orang dewasa melindungi, mendidik, dan membimbing generasi berikutnya.
Siapa yang paling harus bertanggung jawab menurutmu?
Dulu punya asam lambung, trus rutin makan apel selama 3 bulan berturut turut setiap pagi sebelum jam 9. Dan alhamdulillah asam lambunh tidak pernah kambuh lagi, dan udah hampir 2 tahun ☺
“Tidak ada satu negeri pun melainkan akan diinjak oleh Prabowo, kecuali Makkah & Madinah. karena di setiap pintu masuknya Allah menempatkan malaikat yg menjaga & menghunuskan pedangnya”
The house where Indonesia's first president staunchly hid for months to avoid collaborating with the Japanese in early WW2, is now a Japanese Udon restaurant.
Ada yang masih ingatkah berita viral tahun lalu, saat akun Instagram SMK PGRI Lubuklinggau mencuri perhatian publik setelah mengunggah ucapan selamat untuk dua alumninya yang diterima bekerja di minimarket?
Respons publik terhadap unggahan tersebut cukup beragam; meski banyak yang memuji sikap sekolah, ada pula yang justru meremehkan karena menganggap profesi (kasir) karyawan minimarket bukan termasuk karier impian yang cukup layak untuk diapresiasi seperti halnya ASN, TNI, Polri, dll..
Pandangan sinis semacam itu sebetulnya persis apa yang dialami oleh tokoh bernama Keiko Furukara dalam novel CONVENIENCE STORE WOMAN (GADIS MINIMARKET) karya Sayaka Murata.
Keiko adalah sosok wanita dewasa berumur 36 tahun yang telah bekerja di sebuah minimarket (konbini) hampir sepanjang hidupnya. Ia mulai bekerja di sana sejak usianya 18 tahun dan menjadi karyawan angkatan pertama saat minimarket itu baru dibuka.
Bagi kebanyakan orang, kehidupan Keiko dianggap tak normal. Mereka menganggap, pada usia matang tersebut, idealnya Keiko sudah menikah dan memiliki pekerjaan tetap, bukan malah melajang dan menjadi pekerja paruh waktu, apalagi di minimarket.
Apa yang dialami Keiko, begitu pun alumni SMK yang diterima bekerja di minimarket, merupakan bias pandangan masyarakat dalam menilai dan memberi label normal dan abnormal. Di samping itu, masalah yang tak kalah pelik dalam kehidupan bersosial ialah tuntutan masyarakat yang menginginkan seseorang berlaku sesuai dengan "standar" tidak resmi yang mereka buat sendiri.
“Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang.”
Gagasan tentang menghargai pilihan setiap individu tanpa memandang jenis pencapaian mereka, sejatinya juga selaras dengan filosofi pendidikan yang dikembangkan oleh Alexander Sutherland Neill dalam bukunya yang populer berjudul Summerhill School. Summerhill, sebuah sekolah alternatif yang didirikan Neill pada 1921 di Inggris, menekankan kebebasan, kebahagiaan, dan penghargaan terhadap individualitas siswa. Neill percaya bahwa para siswa dapat berkembang dengan baik ketika mereka diberi kepercayaan untuk membuat pilihan sendiri dan dihargai sebagai individu, bukan dinilai berdasarkan standar akademik atau sosial yang kaku.
Dalam bukunya itu, Neill menulis bahwa tujuan pendidikan bukanlah mencetak siswa yang seragam, tetapi membantu mereka menemukan jati diri dan potensi unik mereka. Ia menentang sistem pendidikan yang terlalu menekankan prestasi akademik dan kompetisi, karena hal tersebut sering kali menghancurkan kepercayaan diri siswa yang tidak sesuai dengan standar tersebut. Sebaliknya, Neill mendorong pendidik untuk memberikan afirmasi positif dan menciptakan lingkungan di mana siswa merasa diterima apa adanya.
Langkah kecil yang diambil oleh SMK PGRI Lubuklinggau ketika mengunggah ucapan selamat kepada alumninya, seolah-olah mencerminkan semangat Summerhill dalam beberapa cara. Pertama, dengan mengapresiasi lulusan yang bekerja di minimarket, pihak sekolah menunjukkan bahwa mereka menghargai pilihan personal setiap siswa, seperti yang diadvokasi Neill. Kedua, sekolah menciptakan suasana yang mendukung perkembangan psikologis siswa dengan menunjukkan bahwa setiap langkah menuju kemandirian adalah prestasi yang patut dirayakan. Hal ini sejalan dengan pandangan Neill bahwa kebahagiaan dan rasa percaya diri siswa lebih penting daripada konformitas terhadap ekspektasi masyarakat.
Meski begitu, segelintir komentar negatif dari beberapa warganet dalam menilai unggahan viral tersebut, menunjukkan masih adanya stigma sosial terhadap pekerjaan tertentu. Oleh karena itu, sekolah, institusi, dan juga KITA, perlu terus mengedukasi masyarakat bahwa seyogianya keberhasilan tidak hanya diukur dari status atau gaji, tetapi dari tanggung jawab dan kontribusi pada masyarakat.
Di Indonesia ada suku yang tubuhnya mulai berevolusi jadi “manusia laut”. Mereka adalah Suku Bajau/Suku Bajo.
Sejak kecil, anak-anak Bajau lebih akrab dengan laut daripada daratan, sampai ada kiasan banyak yang bisa berenang sebelum lancar berjalan.
Rumahnya di Atas Ombak
Suku Bajau ini aslinya adalah sea nomads atau pengembara laut. Sebagian besar hidup mereka dihabiskan di atas air. Dulu, mereka tinggal berpindah-pindah pakai perahu kayu kecil yang namanya lepa-lepa. Bayangin aja, mulai dari lahir, tumbuh besar, sampai cari makan, semuanya dilakukan di laut. Di Indonesia sendiri, mereka banyak tersebar di Sulawesi (terutama Wakatobi), Kalimantan, sampai wilayah Timur.
Skill Nyelam yang “Gak Masuk Akal”
Yang bikin ilmuwan dunia melongo adalah kemampuan fisik mereka. Orang Bajau bisa nyelam dalam waktu yang lama banget tanpa bantuan tabung oksigen. Cuma modal tombak kayu sama kacamata selam sederhana, mereka bisa berburu ikan di dasar laut. Bahkan, biar bisa meluncur cepat ke kedalaman puluhan meter, mereka sering pakai pemberat batu.
Rahasia Biologis (Bukan Cuma Latihan!)
Awalnya dikira cuma karena sering latihan dari kecil, tapi ternyata ada faktor adaptasi genetik. Penelitian nemuin kalau limpa orang Bajau rata-rata lebih besar dibanding kita manusia biasa. Limpa ini fungsinya kayak cadangan oksigen saat mereka nyelam, organ ini ngelepasin sel darah merah tambahan ke aliran darah. Mekanisme ini mirip banget sama yang dimiliki anjing laut. Ini bukti kalau tubuh mereka sudah beradaptasi selama ratusan tahun dengan laut.
Pengorbanan yang Ekstrem
Biar bisa menahan tekanan air yang kuat saat nyelam dalam, ada praktik ekstrem yang dilakukan sebagian penyelam, mereka sengaja memecahkan gendang telinga mereka. Memang jadi nggak sakit lagi pas nyelam, tapi risikonya ngeri, banyak dari mereka yang akhirnya tuli atau mengalami gangguan pendengaran permanen saat tua.
Realita yang Keras
Meski sering disebut “manusia air”, hidup mereka sebenarnya penuh tantangan. Mereka bukan manusia super yang kebal segalanya. Suku Bajau justru jadi yang paling pertama kena dampak kalau laut rusak, ikan berkurang, atau pesisir mulai berubah karena industri dan modernisasi.
Suku Bajau adalah bukti nyata kalau tubuh manusia itu hebat banget karena bisa berubah dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat kita tinggal selama ratusan tahun.