Tanda Ilahi
Menunggu tanda dari Allah adalah bagian paling sunyi dari iman. Saat usaha sudah kita kerahkan, doa tak pernah absen, tetapi jawaban belum juga menampakkan diri. Di fase ini, kita tidak lagi bersandar pada kepastian apa pun, selain keyakinan sederhana: Allah tidak pernah lalai akan permohonan hambaNya. Diam bukan hampa, sering kali ia adalah ruang tempat Allah merapikan hati kita sebelum Dia menunjukkan arah.
Dalam hidup, tanda itu jarang datang dengan suara keras. Ia bisa berupa pertemuan singkat yang membuka cara pandang baru, kegagalan yang memaksa kita berhenti lalu berbelok, atau rasa tenang yang turun tiba-tiba saat tubuh dan jiwa sama-sama lelah. Bahasa Allah sering samar, tapi bagi hati yang jujur, ia terasa nyata.
Tanda ilahi juga tidak selalu dramatis. Kadang ia hadir setelah shalat, dalam ketenangan yang tak bisa dijelaskan. Kadang lewat jalan yang sengaja dimacetkan, agar kita tidak sampai ke tujuan yang salah. “Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat” (QS. Al-Baqarah [2]: 45). Seolah Allah berkata: menunggu tanda ilahi dengan sabar pun adalah ibadah.
Menunggu tanda berarti belajar berhenti memaksa hasil. Belajar percaya bahwa Allah tahu kapan kita siap. Bukan hanya kapan kita ingin.
Pada akhirnya, tanda dari Allah bukan sekadar jawaban. Ia adalah cara-Nya membesarkan jiwa, melapangkan dada, dan menjaga harapan tetap hidup, bahkan ketika segalanya terasa diam dan kelam.
Terima kasih, Yura, untuk lagu yang menemani penantian tanda-tanda ilahi ini. 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen
“Jika kamu merasa kehilangan segalanya,
ingatlah...
pohon kehilangan daunnya setiap tahun,
namun mereka tetap berdiri tegak dan menunggu hari-hari yang lebih baik untuk datang...”
[ Pepatah Jepang ]
Jangan Normalisasi Ciuman atas Nama Barokah
Belakangan ini viral video seorang Gus yang tampak terlalu akrab menciumi anak-anak kecil, bahkan yang masih berusia di bawah tiga tahun. Dalam salah satu rekaman, ia membujuk seorang anak yang menolak dicium agar mau dicium. Di video lain, ia menciumi pipi seorang balita dengan cara yang tampak seperti “sucking”.
Banyak yang menertawakannya, menyebutnya sebagai bentuk “gemas” atau “barokah”. Namun perilaku seperti ini tidak boleh dinormalisasi — ini justru menjadi contoh penting dalam pendidikan tentang perlindungan anak dari pelecehan dan pedofilia terselubung.
Untuk para orang tua dan pendidik, mari menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat: batas tubuh anak adalah suci dan harus dihormati. Tidak ada alasan religius, sosial, atau budaya yang membenarkan orang dewasa mencium, memeluk, atau menyentuh anak tanpa kepantasan, apalagi dengan intensitas yang mengganggu. Tugas kita bukan hanya melindungi, tapi juga mendidik anak agar berani berkata “tidak” ketika merasa tidak nyaman—bahkan kepada figur yang dihormati.
Menjaga kehormatan anak adalah tanggung jawab setiap orang tua, yang kelak pasti akan diperhitungkan di akhirat
Kepada tokoh publik seperti Gus yang viral, inilah saatnya berhenti dan bercermin. Tindakan menciumi anak kecil berulang kali bukan bentuk kasih sayang, tapi pelanggaran etika, adab, dan potensi pelecehan.
Dalam kajian psikologi, perilaku semacam itu bisa dikategorikan sebagai grooming behaviour—yakni upaya membangun kedekatan dengan anak untuk menormalisasi kontak fisik yang tidak pantas. Ini berbahaya, baik bagi anak maupun bagi masyarakat yang menonton dan menirunya.
Rasulullah dikenal penuh kasih terhadap anak-anak, namun beliau tidak pernah melampaui batas kesopanan. Kasih sayang beliau diwujudkan lewat doa, perhatian, dan sentuhan hati.
Anak-anak bukan objek kegemasan; mereka amanah yang harus dilindungi. Pendidikan perlindungan anak dimulai dari kesadaran kita sendiri—bahwa setiap bentuk pelecehan, sekecil apa pun, tidak boleh diberi ruang di rumah, sekolah, ataupun panggung keagamaan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Bersyukurlah, dengan memandang semua ini nikmat dariNya
Bersyukurlah, takdir Allah padamu itu tidak ada yang cacat.
Bersyukurlah karena kamu ditakdirkan bersyukur.
Bersyukurlah sesungguhnya syukurmu itu anugerah dari Allah set.
Tanda tanda bukan orang sukses
Jika anda pemalas, anda akan mudah putus asa.
Jika anda pemalas, anda biasanya egois.
Jika anda pemalas, pasti hobinya berkhayal.
Anda pemalas? Inginnya serba instan.
Pemalas selalu ingin melihat keburukan orang lain.
Ini contoh "ekstremisme" atau tatharruf dalam menyikapi soal kontroversi Baalawi. Ini bukan tradisi dan cara pesantren dan NU. Ini cara2 model "Islam sebelah." Ndak akan bisa diterima oleh warga NU.
Dengan adanya renstra ini, diharapkan program-program PBNU dapat koheren dan saling bersinergi dari struktur kepengurusan tingkat pusat hingga desa serta dengan badan-badan otonom (banom) di bawah naungan NU.
@velsuf@syaltout@noeruzzaman@faisalsaimima
https://t.co/fnRz97UGJi
#Quote from #Goal6 event hosted on 25 April during the #ECOSOC Youth Forum.
💦 Water for Health and Cooperation: Youth Priorities, Challenges, and Success Stories 💦
#Quote from #Goal6 event hosted on 25 April during the #ECOSOC Youth Forum.
💦 Water for Health and Cooperation: Youth Priorities, Challenges, and Success Stories 💦
#Quote from #Goal6 event hosted on 25 April during the #ECOSOC Youth Forum.
💦 Water for Health and Cooperation: Youth Priorities, Challenges, and Success Stories 💦
CW // disturbing content
Mengeluh sering batuk, X-Ray pasien menunjukkan parasit menyebar di sekujur tubuh
Parasit ini masuk karena mengonsumsi daging babi yg tidak dimasak dgn baik
Pasien sedang menunggu hasil MRI untuk mengetahui apakah parasitnya sudah masuk otak atau belum