Senin pagi yang cerah, 6 Agustus 1945, Hiroshima masih terlelap dalam rutinitas harian yang biasa. Anak-anak berlari menuju sekolah, para ibu menyiapkan sarapan, dan pekerja pabrik mulai berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota. Namun, pukul 08.15 waktu Jepang, keheningan pagi itu hancur berkeping-keping. Pesawat B-29 Enola Gay milik Amerika Serikat melepaskan bom nuklir pertama dalam sejarah perang manusia—Little Boy.
Bom uranium seberat empat ton itu jatuh tanpa ampun, meledak di atas pusat kota dengan kekuatan dahsyat setara 15.000 ton TNT.
Dalam sekejap, bola api raksasa yang menyilaukan membelah langit, diikuti gelombang kejut yang menyapu segalanya. Rumah-rumah kayu dan beton luluh lantak seperti kertas terbakar, bayang-bayang manusia terpatri di dinding sebagai saksi bisu kehancuran. Suhu mencapai ribuan derajat Celsius, membakar kulit dan melelehkan besi. Sekitar 70.000 hingga 80.000 jiwa melayang dalam hitungan detik pertama—pria, wanita, anak-anak, dan lansia tak terbedakan dalam neraka atom itu.
Ribuan lainnya menderita luka bakar parah, radiasi yang merayap perlahan, dan kematian menyakitkan dalam minggu-minggu berikutnya. Hingga akhir tahun 1945, korban jiwa di Hiroshima saja mencapai lebih dari 140.000 orang.
Kota yang dulu hidup kini menjadi padang abu dan reruntuhan, simbol penderitaan manusia yang tak terbayangkan.
Ledakan mengerikan itu tidak hanya menghancurkan Hiroshima, tapi juga menjadi pukulan telak bagi Kekaisaran Jepang yang akhirnya menyerah pada 15 Agustus 1945.
Kekalahan Jepang yang dipicu bom atom ini membuka jalan bagi perubahan besar di Asia, termasuk di Indonesia. Penjajahan Jepang yang selama ini menggantikan Belanda tiba-tiba runtuh, memberi ruang bagi para pemimpin Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945—hanya sebelas hari setelah tragedi Hiroshima.
Meski demikian, bayang-bayang horor bom nuklir tetap abadi di Hiroshima: kenangan akan puluhan ribu nyawa tak berdosa yang hilang dalam sekejap, mengingatkan dunia akan harga mahal dari perang dan kekuasaan.
Cr: cinaima_films
@Pray__93 Kolose 3:23 Kolose 3:23 (TB) Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Tulus melakukan peran dan tanggungjawab... Seat selalu kakak...
Bener kata Ahok; intinya Anies itu kebanyakan teori kayak dosen ngajar di kampus.
Memang ga cocok jadi pemimpin, cocoknya balik lagi ke kampus, ngajar mahasiswa. Jadi dia bisa menyalurkan bakat "nggedabrusnya". 🤣
Jauh2 hari sebelum kadrun2 bajingan tolol muncul di Indonesia sbg kekuatan pemecah belah bangsa. Sang Proklamator Presiden Soekarno sudah mengingatkan. Luar biasa Presiden Pertama NKRI ini. Al Fatihah buat beliau..🙏
Di raja dungu yg bodoh tolol dan goblok sedang mencoba membela diri, eh kena batunya Oleh Adik Kita yg Genius dari NTT ditelanjangi Otaknya yg busuk MERDEKA👍🤟🙏🇮🇩.https://t.co/W36XlRU8fF
THREAD 🧵: Dalai Lama is a demon
Tibet was a brutal and corrupt theocracy where 95% of the population were slaves or serfs. The 5% elite were monks, landlords and aristocrats.
Their law said a monk or landlord was worth his weight in gold, whilst a woman, craftsman or peasant was worth their weight in straw.
Chopping off legs and arms was a common punishment for slaves. A common punishment for women was forcing them to carry a heavy wooden board around their neck for weeks on end. Slaves would also be constantly chained up, whether they were working in fields or locked up in rooms