Ada guru kimia honorer SMA, namanya Pak Wawan Wahid.
Baru saja periksa ke rumah sakit, kanker katanya.
BPJS-nya dinonaktifkan sama Mensos, udah gak miskin kata berita kemarin.
Gaji gak seberapa, 400 ribu sebulan, dia bingung.
Perawatan gimana? Kemo gimana? Keluarga gimana? Sekolah anak gimana?
Dia jalan-jalan keliling kompleks.
Ketemu mantan muridnya si Jajang Jambon.
Abis keluar penjara, bantuin Kapolres ngedarin sabu sekoper.
Jajang dijadiin tumbal masuk penjara sama tuh Kapolres.
Terus cerita.
Pak Wawan kaget, "Gila, Jang, jualan sabu sama tuh segede itu?".
Jajang bilang iya. Apalagi dibantu coklat.
"Paling mereka hukumannya disuruh sholat lima waktu Pak".
Diam-diam dia pake lab kimia sekolah malem-malem.
Besoknya dia datang ke rumah Jajang.
"Nih, cobain."
"Wah, mantab ni Pak. Dari mana? Barang mahal ini?"
"Bisa dijual gak ini?"
"Ya bisa lah, sini saya bantu."
Wawan sama Jajang jadi paling terkenal di kota itu.
Sukses besar.
***
Makin lama makin besar.
Sekolah juga mulai curiga.
Botol sama labu lab kimia banyak yang hilang.
Pak Wawan mikir mindahin produksi.
Dia liat Pak Agus, punya franchise ayam geprek.
Ayam Geprek Basudara.
Cabangnya baru buka deket sekolah.
Tapi mulai sepi karena MBG.
Lantai dua warungnya dikosongin, hemat lahan.
Pak Wawan sama Pak Agus kerja sama, dia minjemin lantai dua buat Pak Wawan.
Ternyata Pak Agus bukan orang sembarangan.
Dia punya koneksi kartel di Manila buat jualan di sana.
Pake kapal nelayan disusupin di sana.
Mereka panggil Pak Agus di Manila "Bos Besar"
***
Mereka untung besar
Tapi mulai bingung, nyembunyiin cash.
Gimana ini?
Gimana biar duitnya bisa masuk ke bank?
Pak Wawan datang ke kantor pengacara terkenal.
Pak Syahrul Pasaribu.
"Jadi gini Pak Syahrul"
"..."
"Transaksi gak bisa QRIS, gak bisa bank, harus cash."
"..."
"Saya mau biar duit saya bisa dimanfaatin"
Taiwan solved tax evasion in 1951 with a trick so cheap it should embarrass every tax authority on the planet.
The problem was an all-cash economy full of small shops. A merchant pockets the cash, skips the receipt, and the sale never existed. Auditors can't catch what was never recorded, and hiring enough of them to watch every noodle stand costs more than the missing tax.
So finance chief Ren Xianqun flipped the incentive. Print a lottery number on every receipt. Draw winners every two months on live TV. Top prize today: NT$10 million, about $310K.
Suddenly the customer and the shopkeeper want opposite things. The merchant wants the sale off the books. The customer wants the ticket. And there are millions more customers than merchants. Every transaction now carries a built-in witness demanding the paper trail.
Year one, reported tax revenue jumped 75%, from NT$29 million to NT$51 million. Seventy-five years later, roughly 70% of Taiwanese still play. Convenience stores redeem the smallest NT$200 prizes at the register, so even a coffee receipt feels like a scratch card.
The elegant part is what the audit force costs. The prize pool runs about NT$7 billion a year, roughly $20 million. In exchange, the government gets 23 million unpaid auditors working every checkout line in the country, forever. No inspector general on earth delivers that coverage at that price.
Greece, Italy, Portugal, and Slovakia all copied it. The most effective compliance tool ever built looks like a game, and that's exactly why it works.
Eks Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal, lewat akun IG pribadinya, menyampaikan kritik kepada pemerintah RI yang terkesan menyepelekan udangan Iran ke pemakaman Ayatollah Ali Khameini yang tewas dibunuh Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Pemerintah nggak memenuhi undangan dari Iran dengan mengutus delegasi resmi, dan yang hadir hanya Dubes RI di Teheran. Hal ini, oleh Teheran, dianggap sebagai sikap menyepelekan undangan.
Dulu waktu kecil, stereotype yang sering gw dengar adalah orang Jawa itu bicaranya lemah lembut, tidak seperti kami orang Batak.
Gw masih mempercayai itu sampai pada akhirnya gw memperistri perempuan berdarah Jawa Timur.
UOPO IKU LEMAH LEMBUT. BABAR BLAS. PODO KARO KATAB.
Kejadian juga di gue minggu lalu.
Harga barang 116k+
Gue markup jadi 150k asumsi.
Potongan TokPed kayaknya 30% or above.
Yg masuk ke gue 107k.
Gue rugi sekitar 8k.
Kenapa gue bilang asumsi? Karena gue bener2 ga tahu potongan admin marketplace plus biaya sana-sininya tuh berapa.
Minta tambahan tf ke cust, cust ga mau karena alasannya dia udah ngetf sesuai yg gue minta.
Gue pun ga bisa maksain. Di satu sisi, gue ada salahnya, di sisi lain, gue bener2 clueless soalnya besaran biaya admin Tokped tuh fixnya berapa.
Dia akhir cerita,
Gue rugi.
Sekian.
Karyawan "Tim tech" Tokopedia-TikTok Shop tersisa 35 karyawan dari sebelumnya 1.100 karyawan.
Operasional "Tim tech" sekarang dipindah dari Indonesia ke tim ByteDance di China.
Miris sekali: Cita2 19 juta lapangan kerja malah jadi ladang pekerjaan untuk negara lain.
***
Ada efek domino yang besar banget dari sebuah perusahaan besar yang PHK masal seperti ini,
gw coba jelaskan "menurut keyakinan saya" ya
1. Cari kerja jadi makin susah
Kalau ribuan orang dari Tokopedia masuk ke job market barengan, otomatis persaingan makin ketat. Recruiter jadi punya lebih banyak pilihan, jadi standar rekrutmen bisa naik. Harga makin turun.
2. Perusahaan lain jadi ikut waspada
Startup atau perusahaan tech lain bisa mikir, "Kalau Tokopedia aja efisiensi, berarti kita juga harus lebih hati-hati."
Akhirnya banyak yang:
nunda hiring,
ngurangin budget,
atau fokus ke profit dibanding ekspansi.
3. Eks pegawai Tokopedia nyebar ke mana-mana
Mereka ga cuma apply ke startup lain, tapi juga ke bank, FMCG, agency, sampai perusahaan luar negeri.
Artinya, hampir semua industri bakal kebagian talent yang kualitasnya bagus, tapi persaingan buat pencari kerja juga makin berat.
4. Freelance dan agency bakal kebanjiran talent
Banyak yang kemungkinan pilih freelance sambil cari kerja tetap. Agency juga bisa memanfaatkan momen ini buat rekrut orang-orang yang sebelumnya susah didapat.
5. Daya beli ikut turun
Kalau ribuan orang kehilangan pemasukan tetap, biasanya mereka bakal mulai hemat.
Yang dikurangin dulu biasanya:
nongkrong,
traveling,
gadget,
belanja,
makan di luar.
Efeknya bisa kerasa ke bisnis lain juga.
6. Industri tech makin geser ke efisiensi
Perusahaan lain bisa makin yakin buat pakai AI atau otomatisasi supaya biaya operasional lebih kecil. Jadi beberapa posisi yang sifatnya repetitif kemungkinan bakal makin berkurang.
7. Investor makin pilih-pilih
VC atau investor biasanya bakal lebih hati-hati masukin uang. Mereka lebih suka perusahaan yang udah jelas menghasilkan profit daripada yang cuma ngejar growth.
8. Yang paling kena siapa?
Menurut gw justru bukan eks pegawai Tokopedia.
Mereka rata-rata punya pengalaman dan nama perusahaan yang kuat di CV, jadi peluang dapat kerja lagi masih cukup bagus.
Yang lebih berat justru:
fresh graduate,
junior,
orang yang belum punya pengalaman,
atau yang lagi cari kerja di industri tech.
Karena mereka sekarang harus bersaing sama orang-orang yang sebelumnya kerja di salah satu perusahaan tech terbesar di Indonesia.
Jadi kalau disimpulkan, satu PHK besar di perusahaan sekelas Tokopedia bisa bikin efek berantai ke pasar kerja, industri tech, sampai daya beli masyarakat. Bukan berarti ekonomi langsung buruk, tapi kompetisi bakal makin ketat dan perusahaan lain kemungkinan ikut lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis.
Finally ada peta yang jelas banget nunjukin Jakarta di masa lampau. Ada beberapa hal yang cukup menarik perhatian
1. Axis Jakarta di masa lampau (sebelum Sudirman-Thamrin) adalah Kramat Raya-Gunung Sahari (garis biru). Ini menghubungkan pusat kota dengan kota satelit Batavia masa itu, Meester Cornelis (sekarang Jatinegara)
2. Kebayoran Baru (kiri bawah) masih terpisah dari Jakarta dan belum terhubung Jl. Jenderal Sudirman, yang baru dibangun setelahnya
3. Kanal Banjir Barat yang sekarang deket kawasan TOD Dukuh Atas adalah batas pengembangan kota Batavia sebelum makin meluas ke selatan, sebelum ada Setiabudi, Bendungan Hilir, dll.
Dulu makan babi bagi Muslim hanya dihukumi haram karena ada perintah begitu. titik. tidak ada penjelasan lanjut. hingga bertahun-tahun kemudian, Marvin Harris, seorang cah dunia Lor, menjelaskannya dengan pendekatan antropologis.
"Ekonomi, pada akhirnya, bukan angka. Ia berumah di kehidupan sehari-hari. Jika gelembung itu pecah, guncangannya akan menyentuh tempat konkret, yakni rumah tangga."
Itulah salah satu pandangan ekonom senior, profesional, dan pengajar Muhamad Chatib Basri yang tertuang dalam salah satu artikel di Harian Kompas.
Pada momen HUT ke-61 Harian Kompas, Chatib Basri (@ChatibBasri) terpilih menjadi Cendekiawan Berdedikasi.
#Kompas61 #MerawatMasaDepan