Nggak ada nyeri. Nggak ada keluhan. Tapi ternyata ada tumor di payudara.
Ini alasan kenapa perempuan perlu kenal dengan payudaranya sendiri lewat SADARI (Periksa Payudara Sendiri).
Banyak orang mengira tumor atau kanker payudara selalu menimbulkan rasa sakit. Faktanya, benjolan pada payudara sering kali tidak nyeri, terutama pada tahap awal.
SADARI bukan untuk mendiagnosis kanker, tapi membantu kita mengenali jika ada perubahan yang tidak biasa, seperti:
• Benjolan baru di payudara atau ketiak
• Perubahan bentuk atau ukuran payudara
• Kulit payudara tampak tertarik atau berlesung seperti kulit jeruk
• Puting masuk ke dalam secara tiba-tiba
• Keluar cairan dari puting tanpa sebab jelas
Waktu terbaik melakukan SADARI adalah 7-10 hari setelah haid selesai, saat jaringan payudara tidak terlalu bengkak dan nyeri.
Ingat, tidak semua benjolan adalah kanker. Banyak juga yang bersifat jinak, seperti fibroadenoma. Tapi semua benjolan baru tetap perlu diperiksakan ke tenaga kesehatan.
Karena kadang tubuh tidak memberi rasa sakit sebagai tanda bahaya.
Pernahkah Anda atau orang terdekat menemukan benjolan secara tidak sengaja saat SADARI?
Wedding dream kamu apa?
“Nikah untuk tidak bercerai, nikah untuk tidak dianggap beban, nikah untuk tidak main kasar, tidak ada issue curang, dunia akhirat dicari bersama, jadi tempat dan perlindungan terbaik bersama hingga akhir hayat” 🥹🥹
Gess, mari persiapan di 20 ribu. Kuat2 kalian yg bisnisnya terpengaruh kurs, tahu tempe kita akan jadi makanan mewah, dan berdoa agar tetap bisa bertahan tanpa merumahkan pegawai.
Dulu, sesadis2nya Soeharto, ngga pernah blg bodo amat di depan rakyat saat mata uang kita melemah. Tapi, presiden kita saat ini agak lain. Itu yg bikin gw gemeteran.
Kalau pemimpinnya sdh bodo amat lalu rakyatnya harus kemana? Satu2nya jalan adalah lari kepada Pemilik Hidup. Mugi Gusti Allah sing ngawal. Aamiin..
cc:threadnarayahanafia
Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, ada satu kelompok yang bisa sangat tertekan.
Bukan orang miskin.
Bukan juga orang kaya.
Tapi kelas menengah.
Kelompok yang "terlalu kaya" untuk dibantu tapi "belum cukup kaya" untuk terlindungi.
Mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal sedang menopang semua bebannya sendiri.
Cicilan rumah, sekolah anak, orangtua yang mulai menua, dan standar hidup yang harus terus dipertahankan.
Masalahnya, selama bertahun-tahun banyak yang mengira mereka sedang membangun kekayaan.
Padahal yang dibangun baru kehidupan yang lebih mahal.
Penghasilan naik, tapi cicilan ikut naik.
Penghasilan naik, tapi kebutuhan ikut naik.
Penghasilan naik tapi rasa aman tidak ikut naik
Itulah mengapa banyak keluarga merasa:
“Gaji saya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, tapi kenapa hidup terasa lebih berat?”
Kalau dolar benar-benar menuju Rp. 20.000, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma kursnya, tapi kenyataan bahwa banyak keluarga akan baru sadar:
selama ini mereka hidup nyaman bukan karena keuangannya yg kuat, melainkan karena kondisi ekonomi masih cukup baik untuk menopangnya.
dan ketika kondisi itu berubah…
yang bertahan bukan siapa yang bergaji besar tapi siapa yang punya bantalan finansial.
salah satu doa yang selalu gw ucapin setelah sholat itu “Ya Allah jauhkanlah hamba dari penyakit hati”
self love so hard that seeing other people win only makes me more excited for my own turn 💓💓💓
Ternyata sering mencemaskan masa depan secara berlebihan bisa membuat kondisi kesehatan mental kita jadi tidak baik.
Jadi bila kita sering khawatir secara berlebihan, maka kita akan cenderung memandang hidup dengan lebih pesimis. Akibatnya, kondisi kesehatan mental kita, seperti emosi, motivasi, serta cara kita memandang hidup akan terpengaruh, sehingga kualitas kesejahteraan hidup kita akan terganggu.
Beberapa strategi untuk menurunkan kecemasan kita terhadap masa depan antara lain:
-Kurangin pemikiran pesimis, dengan merencanakan sesuatu yang kita tuju atau mau lakukan dengan lebih baik
-Latih harapan dan perspektif positif di kehidupan sehari-hari dengan menulis 3 hal yang kita syukuri hari ini
-Ikuti cognitive behavioral therapy bila dibutuhkan
Semoga bermanfaat!
Sumber:
The relationship of future anxiety with a multidimensional framework of well-being among undergraduate students: optimism and pessimism as mediators
Saya yang lahir dari keluarga pas-pasan dengan luck rate 50%, sependapat. Sekali gagal ya remuk, padahal kudu usaha lebih. Akhirnya, terbawa ke mana pun.
Makanya kuping ini alergi dengan kalimat "Dih, kayak gitu aja gabisa?" atau sejenisnya.