aku sudah rela, tapi akhir" ini selalu terpikir, daripada aku harus memulai cerita lagi dan kecewa, kenapa aku tak meromantisasi rasaku ke dia dulu? toh sama" tak berujung.
aku pernah punya orang yang berbagi cukup banyak kesukaan bersama, mungkin karna kepribadian kami hampir sama, dari hal yang cukup mendasar.
dia adalah versi dewasa diriku, tak berubah namun menjadi lebih matang, sialnya aku adalah tempat dia menenpa sementara aku tetap diam..
ibuk nanya dan sedikit marah soal masa depan ku, apa ngga kepikiran untuk berkeluarga, mencari teman berbagi..
ibuk nggak tau tontonanku drama china yang isinya "laogong..." (panggilan umum untuk suami dalam bahasa china).
siapa coba yang ngga butuh "ututu cayangku cini peyuk"
klen juga prna gasi males ngejelasin, yauda kalo dipikiran orang aku kek gitu ya berrti aku kek gitu.
tp ujungnya kena juga masi, pdhl mo d bilang gimana juga diem aja aku, aku d anggep salah juga yauda aku salah, mo salah apa kaga yauda salah aja dehh, terima aja aku:)
Ada tulisan cantik banget, kira-kira begini isinya:
โsemoga kamu selalu dipertemukan dengan seseorang yang dapat berbicara bahasa mu, sehingga kamu tidak perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk menerjemahkan jiwamu..โ