What “staying friends after a breakup” means to him vs her
His version:
• We ended things peacefully.
• I still care about her.
• We can be friends.
• It doesn't mean I want her back.
Her version:
ada satu statement yang bikin aku jadi punya insight baru :
menurut kita itu jahat, tapi menurut dia itu engga. itu karna “inner values” setiap orang beda-beda. sesuatu yang buat kita itu nyakitin banget, bisa aja di dunia dia itu tuu cuma hal kecil yang biasa aja, gaa dianggap serius, gaa dimasukin ke hati.
jadi wajar kalo kadang kita kecewa bukan karna orang lain sengaja nyakitin, tapi karna kita berharap mereka paham apa yang kira rasain, padahal mereka tumbuh dengan cara pandang yang berbeda
"sayang aku lagi iniiii"
"sayang nanti aku kabarin yaa"
"sayang kalo aku ngilang 2 jam aku lagi iniii"
"sayang aku lagi main sama temen-temen aku, namanya inii…, dll"
dikabarin gini, dikasih pap, dikasih video dan kadang pas lagi nongki dia malah vc.
it feels so good to always be seen, loved, and cared for it makes me really happy
kebaikan itu “long-term asset”, bosen itu solvable problem/bkn fixed condition. bisa diatasi dgn komunikasi dan nyari novelty dgn melakukan shared-activities.
for self-expansion, you will grow better in a kind environment than in hostile one 😗👍🏻
Ngerasa relate. Cowokku itu orang sabar, santai, dan tenang banget. Aku orangnya serba cepet dan grusak grusuk. Kadang suka ngerasa sebel kalau dia ga sat set. Tapi akhirnya nyadar kalau semisal dia sat set, belum tentu dia jadi orang yg sabar ngadepin aku. (Cont)