Ga berangkat hampir 2 minggu, kerjaan berasa ambyaaarr bgt.
Banyak agenda, tp yg nge backup umbrus. Belum lg ada manusia sak penake dewe yg gaada koordinasinya blassss
Allahuakbar sebel bgt sumpah 😭😭😭😭
Suddenly, you're 27.
You make your coffee, rush to work, come home around 7, and you're too tired to do anything except eat, scroll on your phone, and pass out.
Then you wake up, and do it all again.
And when Friday comes, maybe you go out, or maybe you're just too tired. Then, out of nowhere, it hits you.
How did everything pass by so quickly?
You don't even feel 27.
You still feel like that 17 year old kid who thought they had all the time in the world.
But somehow, 10 years just disappeared. And you start missing the past. The feeling of being young, excited, and clueless.
But then you realize, one day, you'll miss this, too.
Being 25, being confused, being tired, but still trying.
So maybe the trick is to slow down a bit and actually live this chapter before it also becomes just another memory.
The point is no matter what age you are, you’ll miss these days. Life gets busy sometimes and it’s always a good time to stop and smell the roses.
Setelah gue baca artikelnya dan modusnya, ini kejadian di pondok pesantren di Lombok Barat. Pelakunya Ahmad Faisal, 52 tahun, pimpinan sekaligus ketua yayasan. Dia mencabuli sekitar 20 santriwati dengan dalih menyucikan rahim agar melahirkan keturunan saleh. Aksinya dilakukan bertahun-tahun, dari sekitar 2016 sampai 2023, memanfaatkan kedekatan spiritual dan posisinya sebagai guru agama untuk memanipulasi para korban.
Seharusnya hukuman terhadap pelaku seperti ini jauh lebih berat, bukan karena jumlah korban, tapi karena dia mencemarkan simbol yang seharusnya paling dijaga, agama. Semakin sakral sesuatu, semakin besar tanggung jawab moralnya. Karena kejahatan seperti ini bukan berdampak desentralisasi, ia menghantam kepercayaan umat secara kolektif. Sekali ajaran agama dijadikan kedok untuk menipu dan menindas, maka luka itu bukan hanya milik korban, tapi juga milik seluruh umat yang harus menanggung stigma. Masyarakat juga mesti bareng-bareng ikut mengritik dan mengawal, bukan apatis dan membiarkan kasus seperti ini tenggelam hanya karena kejahatannya terjadi di pesantren. Diam itu bukan bentuk hormat pada lembaga agama, tapi justru pengkhianatan pada nilai-nilai Islam yang suci.