Seorang pria berusia 20 tahun pergi ke dokter karena batuk yang tidak kunjung sembuh. Dia mengira itu hanya hal ringan… mungkin flu atau alergi. Tapi diagnosisnya berbeda. Paru-parunya menunjukkan kerusakan seperti milik seseorang berusia 60 tahun. Penyebabnya? Dua tahun menggunakan vape beraroma.
Sekarang kita tahu bahwa vape menyebabkan kerusakan paru-paru yang tidak bisa diperbaiki. Ini bukan teori. Ini bukan berlebihan. Ini nyata. Dan ini terjadi pada ribuan anak muda. Penyakit seperti bronkiolitis obliterans —dikenal sebagai “paru-paru popcorn”— meninggalkan bekas luka di saluran pernapasan yang lebih kecil.
Hal ini menyebabkan batuk kronis, sesak napas, kelelahan ekstrem, dan, dalam banyak kasus, kehidupan yang terbatas. Rasa buah atau manis tampak tidak berbahaya... tetapi ketika dipanaskan dan dihirup, banyak di antaranya berubah menjadi bahan kimia beracun yang masuk langsung ke paru-paru dan aliran darah, tanpa tubuh dapat menyaringnya.
Vaping telah menjadi tren berbahaya. Dan kebanyakan remaja yang menggunakannya tidak menyadari kerusakan yang mereka timbulkan di dalam tubuh mereka. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua dan remaja untuk mendengarkan cerita ini.
Bukan untuk menakut-nakuti. Tetapi untuk meningkatkan kesadaran. Karena hari ini mungkin sedang tren... tetapi besok mungkin sudah terlambat. Tentang Hidup
Puluhan siswa SMSR(Sekolah Menengah Seni Rupa) Jogja melakukan unjuk rasa pada 22/12/25, unjuk rasa ditujukan kepada kepala sekolah SMSR Jogja yang akan menebang pohon munggur besar yang telah menjadi identitas dari sekolah tersebut.
Selain itu unjuk rasa juga dilakukan untuk melengserkan kepala sekolah akibat kepala sekolah tersebut sering membuat peraturan sekolah yang dianggap mematikan kreativitas para calon2 seniman yang bersekolah di sekolah tersebut | @bukupelajar07