@ouwitt___@thismutbemyexit@ruangtaktik intinya ttp aja beda sebenernya rekrut lewat TS ama pembelian kyk lewi atau rodri yg terbaru, TS itu emang nyari prospek talent makanya 60% doang ratenya. Beda sama pas beli rodri kemarin tuh, ya kali rodri dipantau dulu ama TS bro ? yakali lewi, cancelo, gundo pake TS juga ?
@ouwitt___@ruangtaktik itu yang berhasil udah pada jago di klub sebelumnya udh masuk elite lah, yakali level lewi, christensen, gundo, cancelo masih lewat scouting talent wkwk
Prof Juwana,Guru Besar FH UI, menangaapi wacana URI yang akan menggunakan professor dari luar negeri untuk mengajar :
"emangnya proffesor dari luar negeri dengan gaji seperti kami akan betah?"
"tapi jangan kemudian londo kasih remunerasi yang lebih bagus, TIDAK, SAYA TIDAK MAU KALAH SAMA MEREKA! SAYA INGIN DI DUDUKKAN SAMA DENGAN MEREKA!"
DINGIN TAPI TIDAK KEJAMMMMM🥶
Ini mah pemeriksaan pajak di bawah todongan senpi.
It's so fucking bad for business, @prabowo.
Kebijakan yang tak ada bijak-bijaknya ini cuma menambah ketidakpastian dalam berusaha. Pengusaha dan investor pasti melihat ini sebagai sebuah tindakan yang pasti merugikan mereka.
Kalau sudah pasti rugi, mereka tentu tidak akan mau berusaha dan berinvestasi di Indonesia. Akibatnya apa? Banyak usaha yang tutup, semakin banyak pengangguran.
Emang TNI Polri ngerti soal pajak? Menghitung pajak mereka sendiri saja belum tentu bisa. Apa guna mereka di dunia perpajakan selain mengintimidasi?
Ini kebijakan hasil wangsit lagi ya, Wo?
setelah if wishes could kill ada lagi the east palace semua seru parah, tolong netflix klo emang ga mau lanjutin series kingdom paling ga banyakin genre yg begini
Keji biadaab!!! 🤬
Siram air kencing, nendang, lempar, mukul, ngejar2, maki2 ke manusia di tengah malam itu biadab! Persekusi oleh gengster homofobik itu keji & bahaya banget.
MANUSIA. Transpuan itu manusia loh. Ga ada satu alasanpun yang membenarkan tindakan barbar & ga manusiawi kayak gitu ke sesama manusia hanya karena perbedaan identitas gender, orientasi seksual, dll 😭
Ga ada bedanya kalian dengan 27 pelaku gang rape di Sampang, dengan Taufik Hidayat, dll. Sama2 biadab, sama kejinya!! 🤬
Transpuan bukan kriminal, mereka lagi cari rezeki di tengah ekonomi yang sulit. Mereka ga korupsi, ga mencuri, dll.
Hentikan kekerasan, kebencian, penghinaan sesama manusia ini! Kalian hanya jadi alat penguasa yang mengalihkan kritik vertikal menjadi konflik horizontal.
Buat becanda di warkop atau internet oke lah, tapi riding the wave dan dibawa ke ibadah memang rasa-rasanya too much. Ketika dikritik nanti bilangnya, “kan biar banyak yang relate” atau parahnya, “ah ga asik/ga update lu.”
I
Memandang korupsi lewat lensa moralitas baik-buruk tak akan ada habisnya.
Itulah kritik kami utk (industri) pendidikan korupsi di Indonesia yg cenderung moralis dan bisu dalam hal kritik struktural, ketimpangan, dan relasi kuasa
Artikel selengkapnya di https://t.co/vUFYZtEBa6
Alm. Kakek gw:
• Tahun 1965 masih kadet
• Saksi latihan perang PKI di Halim
• Saksi baku tembak PKI - TNI di Halim
• Saksi kawannya ditembak PKI
• Saksi revitalisasi kawasan Halim pasca G30S
Dan tetap mengatakan film G30S-PKI adalah propaganda pemerintah.
Hehehehehe...
Yg protes banyakan fans netral, tapi dianggap fans Ronaldo.
Jadi makin aneh aja ini Piala Dunia sekarang, macem cebong-kampret aja.
Penonton netral jadi gk punya kesempatan berargumen.
Andaikan yg ditekel seperti ini Messi, akankah sama keputusan wasit?
Menganulir Gol Mesir ke Gawang Argentina adalah Keputusan yang Salah
Sebuah analisis dari pakar perwasitan dan mantan wasit Premier League, Graham Scott via The Athletic.
✅Keputusan menganulir gol Mesir adl keputusan yang salah. Benturan Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dlm proses terjadinya gol Ziko pada menit ke-67 merupakan kontak fisik yang wajar dan seharusnya dinilai seperti itu, alih-alih dianggap sbg sebuah pelanggaran.
✅Insiden itu juga terjadi hampir 100 yard (sekitar 91 meter) dari gawang, dan Argentina punya setiap kesempatan untuk merapatkan barisan dan bertahan, tidak heran jika Mesir merasa dirugikan karena gol tersebut akhirnya dianulir setelah peninjauan VAR.
✅Jika kita melihat insiden tersebut, memang ada sedikit kontak, baik kaki-ke-kaki maupun tarikan baju sekilas, tetapi tidak ada pelanggaran yang cukup berat di sini hingga layak membuat VAR mengintervensi untuk membatalkan gol. (GAMBAR 1)
✅Bagi Scott, ini adalah intervensi yg sangat mencengangkan dan bentuk penyalahgunaan wewenang yang masif dari tugas VAR. Seharusnya, VAR hanya mengoreksi kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious errors).
✅VAR secara rutin memeriksa fase serangan sebelum terjadinya setiap gol dan dalam kasus ini, peninjauan akan ditarik mundur hingga momen perebutan bola (turnover of possession).
✅Agar sebuah gol dapat dibatalkan, harus ada pelanggaran yang jelas, dan hal itu tidak ada di sini. Sebagai aturan umum yang praktis, semakin lama waktu dan semakin jauh jarak antara sebuah benturan dengan terjadinya gol, maka dugaan pelanggaran tersebut harus semakin serius.
Namun, tidak ada pelanggaran yang berarti di sini, dan tidak ada hal yang mendekati ambang batas bagi VAR untuk ikut campur.
✅Dengan logika yang sama, klaim penalti Mesir atas dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah sesaat sebelum gol kemenangan Argentina, sudah tepat untuk diabaikan. Ada sedikit kontak kecil pada sepatunya, tetapi tidak cukup kuat untuk membuat Salah terjatuh. Itu bukan sebuah pelanggaran.