ANAK SMA GAK BISA NGITUNG!
Kurang lebih begitu judul provokatif di beberapa video pendek yang sempat saya tonton. Saya kurang percaya. Apa iya: penjumlahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian dasar saja, lambat?
Sampai akhirnya beberapa hari terakhir mengharuskan berinteraksi lumayan intens dengan beberapa anak SMA baru (akan) lulus di sebuah kabupaten pesisir.
Remaja dengan aktivitas biologis sedang galak-galaknya, banyak menghabiskan waktu scrolling tiktok, sekolah asal lulus, tapi bisa makan MBG sampai 5 ompreng karena sekolah mereka selalu diberikan jatah lebih. Muridnya sedikit. Bagusnya: mereka mau mengerjakan apa saja asal "bisa hidup". Mulai dagang cilok di gerobak dorong, membantu di warung, sampai jadi tulang urut panggilan.
Ternyata benar, mereka sangat lambat berhitung. Perkalian dasar setingkat SD saja lemah. Perlu bermenit-menit menghitung 8 kali tiga. DELAPAN KALI TIGA! sampai-sampai seluruh jari tangannya dikeluarkan semua, dipakai menghitung dengan cara menjumlahkan.
Saya mengurut dada. Dada sendiri. Sedih. Kecewa. Marah. Semua campur aduk. Bukan marah kepada mereka pribadi, karena biar bagaimana, mereka adalah PRODUK pendidikan. Pendidikan formal di sekolahan, di rumah, dan di lingkungan. Dan, ini saya sampaikan kepada mereka pelan-pelan dengan bahasa amat sederhana. Bahasa sederhana yang sekiranya dipahami oleh mereka yang seumur hidup belum pernah membaca satu buku pun hingga tuntas.
Bukan salah menteri dengan kebijakan asal-asalannya, karena jangan-jangan mereka pun TIDAK PAHAM atau di bawah todongan. Pun bukan salah sekolah, apalagi orang tua. Yang tidak tahu tidak bisa dikenakan delik, bukan?
Abad-21 dipenuhi piranti canggih, namun pengguna kecanggihan tersebut kalah telak oleh generasi dua ribu tahun lalu, atau abad pertengahan, jauh sebelum renaissance. Kala itu manusia usia belasan tahun sudah siap mandiri, sendiri mengarungi kehidupan.
PR terbesarnya kemudian: bagaimana 'menyembuhkan' mereka, yang semula sebagai PRODUK GAGAL sistem pendidikan, menjadi generasi tangguh, terampil, cerdas sekaligus mandiri di tengah tantangan dunia yang semakin berat?
Berat. Sangat berat.
***
Stella, ini buktinya. Tiap hari makan MBG sampai 5 ompreng pun TIDAK bikin cerdas.
Hmm menarik. Bisnis sekaligus filantropi ini jadi sulit dikritik karena kritikan terhadap sistem diartikan sebagai sabotas ke niat baik dan filantropi.
Fascinating.
@VeritasArdentur Yang 1+0 ini awalnya memang bakal enggak menyenangkan karena sering kalah, Bang. Cuma karena 1+0, ada chance menang dengan lebih cepat melangkah. Enaknya juga waktunya hanya maksimal 2 menit per game.
Awalnya saya hanya suka main yang Classic karena waktu untuk berpikir lebih lama. Kemudian saya lebih suka yang Blitz 5+3. Sekarang saya hanya main yang Bullet 1+0. Alah bisa karena biasa.
Bang @VeritasArdentur, sudah pernah coba yang 1+0?
Hari ini akun Lichess saya sudah mencapai 10.000 games yang dimainkan. Ternyata ada akumulasi dua bulan waktu di sepanjang 2017 s.d. sekarang yang sudah saya habiskan untuk main game ini.
Selamat Hari Minggu.
Hari Minggu adalah hari pertama. Yesus bangkit pada hari pertama. Ini sebabnya orang Kristen merayakan hari Minggu: merayakan kebangkitan Yesus.
Supersemar.
Surat Perintah 11 Maret.
Anak SD tahun 1990an pasti pernah ditanya apa kepanjangan Supersemar.
Anak tahun 1990an pun bisa jadi tahu ada Yayasan Supersemar.
11 Maret 2022: saya mulai nge-tweet lagi pakai akun ini.