Sebulan lalu mertuaku nekat masuk ke rumah pas aku lagi kerja pakai kunci cadangan, terus bongkar lemari kamarku dan bawa pulang semua tas branded milikku. Alasannya bikin geleng-geleng, katanya, "Barang menantu itu juga hak mertua."
Awalnya aku memang sering diem waktu bahan makanan di kulkas berkurang atau skincare-ku tiba-tiba hilang. Tapi kali ini beda. Pas mau kondangan, tas Coach sama Longchamp yang aku beli dari hasil nabung dan lembur ternyata udah gak ada.
Aku tanya di grup keluarga, dan mertuaku malah santai ngaku kalau tas itu dibawa pulang buat dikasih ke anak saudaranya. Bahkan bilang aku gak usah pelit sama keluarga. Suamiku cuma nyuruh aku ikhlasin dan bilang nanti diganti, tapi menurutku masalahnya bukan soal harga tasnya.
Aku akhirnya gak ribut di grup. Aku cuma bilang, "Iya Bu, gak apa-apa."
Seminggu kemudian pas arisan keluarga besar, anak saudaranya datang sambil pakai tas Coach milikku. Aku hampiri mereka, terus aku putar rekaman CCTV dari rumah di HP. Di video itu kelihatan jelas mertuaku lagi bongkar lemari kamarku dan masukin tas-tas itu ke kantong belanja.
Suasana langsung hening. Sepupunya buru-buru lepas tasnya. Aku cuma bilang dengan tenang, "Kalau memang mau tas, bilang langsung ke aku. Jangan diambil diam-diam dari lemari rumahku. Soalnya kalau masuk rumah orang tanpa izin lalu ambil barang, itu bisa masuk ranah pidana."
Sejak kejadian itu, mertuaku langsung diam sepanjang acara. Begitu pulang, aku langsung minta kunci cadangan rumah kami dikembalikan. Setelah itu, gak ada lagi yang berani masuk rumah tanpa izin.
Normal women when their husbands cheat : confront him, leave him, adopt a cat then move on!
Indonesian patriarchal women when their husbands cheat :
confront the woman her husband cheating with, blame everything on her, then forgive the husband because wifey still need hubby's cash to survive.
Ada satu anak baru pertama kali datang ke gym, dianter sama ibunya. Pas masuk kelihatan bingung banget. Setelah bayar, aku ajak join alat yang lagi kupakai. Dia langsung bilang kalau masih pemula dan belum ngerti cara pakainya.
Nggak lama ibunya nyamperin, bilang mau nunggu di warung makan dekat gym sampai anaknya selesai latihan. Waktu itu set latihanku tinggal satu lagi, tapi entah kenapa aku jadi kepikiran buat nemenin dia biar nggak kapok datang ke gym.
Padahal aku juga bukan orang yang jago banget ngegym, kadang masih salah form. Tapi karena lihat dia benar-benar baru dan datang sama ibunya, akhirnya aku bantu kenalin alat-alat yang ada di gym. Mulai dari alat buat otot atas sampai kaki, sekalian jelasin fungsi masing-masing.
Jadinya sesi latihanku malah lebih lama karena fokus nemenin dia. Member-member senior sampai ngeledekin, katanya malam itu aku jadi coach dadakan. Sesekali aku juga minta mereka bantu koreksi form anak itu, soalnya aku sadar bukan expert. Untungnya mereka juga ikut kasih arahan.
Sempat ada yang nyuruh nambah beban pas latihan kaki, tapi aku nggak tega. Namanya juga pemula, kalau langsung dikasih beban berat kasihan, besoknya bisa-bisa susah jalan, naik tangga, bahkan jongkok pun sakit.
Akhirnya aku sadar, ternyata aku lihat diriku sendiri di anak itu. Niat awal cuma mau berbagi alat, malah jadi nemenin dia kenalan sama dunia gym. Sebelum pulang dia sampai nanya aku biasanya latihan hari apa dan jam berapa. Semoga dia jadi lebih pede buat lanjut ngegym, karena ternyata nggak semua orang di gym itu galak—masih banyak yang mau bantu pemula.
gw suka sama tagline yang bisa nyebut nama brandnya sendiri tapi tetap terdengar natural. misal:
point coffee, always on point.
intel, intel inside.
kitkat, ada break ada kitkat.
taglinenya gampang diinget, brandnya kesebut juga.
Di kntor, dulu tuh ada marketing yg istrinya tuh nge chat-in semua cewek single di kantor yg pernah chat sama suaminya soal kerjaan. Semua di labrak. Saking seringnya kejadian tuh kita akhirnya lapor ke HRD.
We don’t need women to have 2.7 children. We need men to become the kind of partners women actually want to have 2.7 children with.
Women aren’t refusing motherhood. We are refusing to become married single mothers.
It all comes down to the absolute refusal to study the female body, test products and medications on females, and give women medical care instead of diagnosing everything as "anxiety" and throwing chemical castration at it.
sumpah dah kalo bisa pilih balik jadi anak kecil lagi, gue lebih mending nangis² tiap hari krn disuruh belajar sama latihan piano tapi pas gedenya talented, balik jadi kecil yuk gue udh tau harus ngapain