Hidup adalah perjuangan, dalam perjuangan ada resiko untuk mengorbankan sesuatu. Resiko tersebut hadir pula atas pilihan-pilihan yang kita buat. Bahkan, untuk memilih tidak memilih saja sudah pasti ada resikonya.
tips dari aku ketika mengunduh banyak sekali artikel adalah langsung ganti nama filenya jadi format tahun - penulis pertama - judul
abis itu masukin ke zotero wkwkwkw
@FANZMOHAMMAD @TechmenID Hmm, terlepas dari arah postingan anda.
Kalau penulisan yang benar setahu saya memang HUT KE-..... RI
Yang dijelaska Ke- berapanya kan HUTnya.
Gitu deh kurang lebih
Guys, Safiera cewek Indonesia yang SMA di Korea pakai beasiswa, lanjut S1 double major ilmu komputer dan bisnis teknologi di kampus riset top Korea, publikasi jurnal ilmiah tahun ketiga, nulis buku Kimchi Confessions tentang kehidupan nyatanya merantau baru ngobrol sesuatu yang menurut gua adalah salah satu obrolan paling penting yang perlu didengar oleh perempuan muda Indonesia sekarang.
Dan gua mau mulai dari kalimat yang paling nyakitin yang pernah dia terima dari teman sekolahnya sendiri.
"Ngapain belajar capek-capek, bukannya nanti nikah juga digituin?"
Safiera bilang waktu itu dia bingung mau jawab apa. Tapi sekarang setelah dia ngelewatin semua yang dia ngelewatin SMA di Korea, kuliah double major, publikasi jurnal, nulis buku dia punya jawaban yang sangat jelas dan sangat tidak bisa dibantah.
Perempuan yang tidak berpendidikan tidak hanya merugikan dirinya sendiri. Dia merugikan anak-anaknya. Karena ibu adalah madrasah pertama. Sekolah pertama yang pernah dimasuki setiap manusia di muka bumi adalah pangkuan ibunya.
Dan ibu yang tidak berpendidikan akan melahirkan generasi yang tidak berpendidikan. Bukan karena anaknya bodoh tapi karena fondasinya tidak dibangun dengan benar dari awal.
Dan ini bukan opini Safiera semata. Ini fakta yang sudah dibuktikan berkali-kali oleh data pendidikan global. Tingkat pendidikan ibu adalah prediktor terkuat dari tingkat pendidikan anak jauh lebih kuat dari pendapatan keluarga, fasilitas sekolah, atau bahkan tingkat pendidikan ayah.
Tapi gua mau mundur dulu dan cerita soal perjalanan Safiera karena ini yang bikin semua pemikirannya punya bobot yang beda dari sekadar teori.
Safiera bukan anak kaya yang tinggal di Jakarta dengan akses ke semua fasilitas. Keluarganya naik turun secara ekonomi.
Tapi orang tuanya punya satu prinsip yang tidak pernah diganggu gugat apapun yang terjadi dengan keuangan keluarga, pendidikan anak-anak tidak boleh dikompromikan.
Ketika ekonomi lagi di titik paling bawah, prioritas tetap sekolah dan les dan lomba. Karena kata orang tuanya kami tidak bisa mewariskan harta kepada kalian, tapi kami bisa mewariskan pendidikan.
Dan dari situ Safiera dan kakak-kakaknya semua perempuan, semua beasiswa luar negeri, semua jurusan STEM membuktikan bahwa investasi itu benar.
Safiera mulai ikut lomba matematika dari kecil. Dari situ dia ketemu kakak kelasnya yang SMA di Korea. Dari situ dia daftar beasiswa yang sama. Dan dari situ dimulailah perjalanan yang kata Safiera sendiri tidak pernah dia bayangkan seindah dan seberat itu secara bersamaan.
Korea itu bukan seperti di drama. Safiera bilang ini dengan sangat tegas dan sangat perlu didengar oleh siapapun yang punya romantisasi berlebihan tentang Korea dari tontonan K-drama atau K-pop.
Teman-temannya di Korea itu naturally gifted banyak yang memang lahir dengan kapasitas kognitif luar biasa. Tapi yang membuat mereka benar-benar menakutkan bukan kecerdasan bawaannya. Yang menakutkan adalah disiplinnya. Ketika Safiera pulang ke Indonesia liburan, teman-temannya di Korea malah masuk bimbel.
Ketika Safiera main, mereka belajar. Dan ketika Safiera baru mulai belajar dua minggu sebelum ujian dengan penuh persiapan ada teman Korea-nya yang belajar dua hari tapi tetap lebih bagus hasilnya karena fondasi mereka sudah dibangun selama bertahun-tahun tanpa henti.
Dan dari tekanan lingkungan sekeras itulah Safiera menemukan sesuatu yang sangat berharga dia tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuannya sampai dia dipaksa oleh lingkungan untuk mendorong batas itu.
Itu yang dia sebut sebagai hadiah terbesar dari pengalaman Korea. Bukan gelarnya. Bukan jaringannya. Bukan pengalamannya tinggal di luar negeri. Tapi kenyataan bahwa dia sekarang tahu ternyata dia bisa lebih dari yang dia kira.
Dan dari sini Safiera kasih tiga hal yang menurut dia paling menentukan keberhasilan dalam belajar dan ini berlaku untuk siapapun, bukan hanya pelajar beasiswa.
Yang pertama adalah mental baja. Bukan kecerdasan. Bukan bakat. Tapi kemampuan untuk tidak menyerah waktu gagal, waktu nilainya jelek, waktu teman-teman lebih bagus. Daya juang itu lebih penting dari IQ karena IQ tidak bisa berkembang kalau orangnya berhenti sebelum mencapai batasnya.
Yang kedua adalah disiplin. Dan Safiera bilang sesuatu yang sangat mengena dia lebih takut sama orang yang disiplin dan kerja keras daripada orang yang pintar. Karena orang pintar yang tidak disiplin sering berhenti sebelum potensinya keluar sepenuhnya. Tapi orang yang mungkin tidak sepintar dia tapi konsisten dan disiplin mereka secara mengejutkan bisa melampaui si genius yang tidak punya etos kerja.
Yang ketiga adalah time management berbasis prioritas. Safiera bilang dia belajar untuk membedakan mana pelajaran yang butuh 20 persen effort tapi menghasilkan 80 persen hasil dan mana yang butuh effort lebih besar. Tidak semua hal perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Yang penting adalah tahu mana yang paling menentukan dan fokuskan energi terbesar ke sana.
Dan tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke cewek pintar di Indonesia soal jodoh dan nikah dan apakah pendidikan tinggi tidak justru mempersulit mencari pasangan Safiera jawabnya sangat cerdas dan sangat tidak minta maaf.
Dia bilang perempuan yang mengejar pendidikan tinggi sebenarnya sedang melakukan seleksi alamiah terhadap calon pasangannya. Laki-laki yang minder melihat perempuan berpendidikan tinggi itu bukan kerugian bagi perempuan.
Itu informasi gratis bahwa dia bukan orang yang tepat. Karena kalau dari awal dia sudah tidak mendukung semangat belajar pasangannya, bagaimana dia akan mendukung semangat belajar anak-anaknya nanti?
Dan dari perspektif agama pun Safiera punya jawaban yang sangat kokoh. Nabi Muhammad bilang menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Farida. Wajib. Bukan anjuran. Bukan opsional. Wajib.
Dan ada bidang-bidang ilmu yang secara spesifik harus diisi oleh perempuan kedokteran kebidanan, pendidikan di sekolah perempuan, dan sebagainya. Jadi perempuan yang tidak berpendidikan bukan hanya merugikan dirinya dia meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain dirinya.
Aku baru nonton video pertama juga dan yg pertama beliau bahas adalah tentang sejarah uang dan bank.
Aku coba tulis intinya:
Beliau bilang bahwa sebenarnya bank itu boleh cetak uang kapan saja tanpa batasan, tapi mereka ingin kita semua percaya bahwa uang itu terbatas.
Pertanyaannya:
1. Untuk apa mereka ingin kita percaya bahwa uang itu terbatas?
2. Jika bank bisa cetak uang sebanyak2nya, kenapa masih ada kemiskinan?
Ada yg mau coba jawab?
Lo nggak bisa ngalahin orang yang lagi having fun.
Bukan karena dia paling jago.
Bukan karena dia paling pintar.
Tapi karena dia nggak kehabisan energi buat hal-hal receh: takut salah, mikirin omongan orang, sibuk bandingin diri.
They wake up curious, not pressured. kerja mungkin lama tapi bukan karena dipaksa. kalau jatuh bisa bangkit cepet, karena dia gak anggep identitasnya terluka. toh ini cuma permainan.
Fun is a cheat code.
Bikin effort kerasa ringan.
Bikin konsistensi kejadian tanpa dipaksa.
Bikin progress compounds.
Kalau lo sering ngerasa capek, belum tentu yang salah adalah disiplin atau skill.
You might just be playing the wrong game.
-kalo kalah pintar, lu harus menang disiplin
-kalo kalah modal, lu harus menang konsisten
-kalo kalah gaya, menanglah di etika
-kalo kalah pendidikan, menanglah di pengalaman
-kalo kalah cinta, menanglah di self value
-dan kalo kalah segalanya, menanglah dihubungan lu sama Tuhan
Fakta terlarang pendidikan 🤐: pengaruh *lingkungan pertemanan* anak jauh lebih besar daripada pengaruh *guru*.
Ini mudah sekali dibuktikan:
1. Kita punya kurikulum yang mengatur pengajaran guru harus diapakan. KTSP, K13, KM dll.
2. Kita tidak punya "kurikulum" yang mengatur lingkungan sekolah dan pertemanan anak harus diapakan, apa alat-alatnya, dll.
Dengan kata lain, Kementerian Pendidikan bahkan tidak berusaha untuk menyelesaikan masalah ini secara ilmiah dan berskala. Ya iyalah efek lingkungan jadi sangat parah. Wong tidak pernah dicoba diselesaikan secara terlembagakan. Semua effort terfokus ke "kurikulum pelajaran".
Guru terbaik BPK Penabur pun tidak akan berkutik jika disuruh mengajar sekumpulan geng motor dari SMAN yang di Kab. Bogor yang terjebak kriminalitas, membenci pelajaran, dan membenci guru.
Alasannya sederhana: karena ilmu menangani anak-anak semacam itu memang jauh lebih sedikit daripada ilmu pedagogi, kurikulum, dll.
Ketika si guru teladan BPK Penabur membuka-buka jurnal ilmiah untuk mencari "bagaimana menangani anak geng motor dari keluarga berantakan supaya mereka masuk ITB", jawabannya sangat tidak jelas. Apalagi mengingat separuh jurnal psikologi gagal direplikasi.
Ini baru kriminalitas remaja, yang mudah diidentifikasi. Momok yang lebih mengerikan lagi: budaya mencontek. Ini sangat meluas dan seakan tidak ada obatnya. Padahal efeknya sangat destruktif terhadap penguasaan materi anak.
Paling mengerikan: anak tidak mau berpikir karena otaknya sudah dilatih untuk membuka Tiktok 8 jam. Ini masalah lebih besar lagi daripada 2 masalah di atas.
---
Pada dasarnya, faktor utama yang menentukan seorang anak akan sukses atau tidak adalah "anaknya ingin belajar".
Kalau anaknya ingin belajar, sejelek apapun gurunya, ia bisa berusaha sendiri.
Kalau anaknya tidak mau belajar?
Kalau anaknya dan orang tua anaknya benci belajar dan menganggap mata pelajarannya tidak berguna?
Kalau lingkungan pertemanan menganggap anak rajin adalah menyebalkan, low status, dan patut dibully, dikucilkan, dipukul dll?
Gurunya harus ngapain?
Kemudian gurunya bertanya ke tim ahli Kementerian Pendidikan, "kalau menurut penelitian, saya harus ngapain?" Tim ahli lalu membalas, "gw juga ga tau."
---
Beberapa orang tua akan berpikir: "Kalau begitu, anak saya harus dikeraskan. Kirim ke pesantren di gunung atau sekolah militeristik. Kalau macam-macam, pukul saja."
Kapan harus dipukul?
Apa efek-efek spesifik yang ingin ditimbulkan?
Siapa yang boleh atau harus menonton pemukulannya?
Jelas sekali bahwa academic rigor di sektor sini sangat jelek bahkan sama sekali tidak ada.
Semua bergantung pada vibe, pengalaman pribadi guru, dan tradisi turun temurun cara pengajaran sekolah yang dipercaya efektif oleh guru, terlepas dari bukti akademisnya. Hasilnya seringkali malah membuat anak trauma, memberontak, berbohong, dll.
Sedikit sekali yang mau riset tentang hal ini, sedikit sekali yang mau mendanai risetnya. Bandingkan dengan segala riset dan pendanaan tentang kurikulum.
Karena dibiarkan liar, akhirnya kualitas lingkungan pertemanan pun jauh lebih berpengaruh daripada kualitas guru. BPK Penabur terpaksa membangun tembok beton di sekeliling sekolah untuk mencegah infeksi dari luar masuk, sehingga kerajinan dan ambisi anak-anak di dalam BPK Penabur terus terjaga.
Poin Kritik Pak Dino Patti Djalal ke Menlu Sugiono
(Analogi Bahasa Anak Fisika Teknik)
Bayangin Kementerian Luar Negeri itu kayak sistem mekanika besar (misalnya roket atau reaktor nuklir) yang butuh kontrol ketat biar nggak chaos dan tetap efisien.
Pak Dino (mantan diplomat senior) lagi ngasih feedback konstruktif di akhir 2025, soal "kinerja sistem" Menlu Sugiono yang baru setahun jabat. Ini 4 poin utamanya, pake bahasa kayak lagi bahas fisika teknik:
1. Waktu Dedikasi Kurang (Low Input Energy)
Menlu harus kasih minimal 50% waktu/full power buat ngurus kementerian. Sekarang kayak sistem yang input energinya rendah: anggaran dipotong, moral pegawai drop (low morale, kayak entropi naik). Kalau nggak full commit, output diplomasi jadi lemah, diplomat-diplomat di lapangan bingung arahnya.
2. Komunikasi Publik Minim (No Feedback Loop)
Harus sering speak up jelasin kebijakan luar negeri ke publik, kayak dulu Menlu Ali Alatas yang transparan. Sekarang jarang banget, padahal rakyat butuh tau "arah vektor" diplomasi Indonesia. Tanpa komunikasi, sistem jadi closed loop, nggak ada koreksi dari luar, mudah error.
3. Kurang Responsif ke Stakeholder (Poor Signal Response)
Banyak undangan konferensi besar atau engagement dari komunitas luar negeri di-ignore. Kayak sensor di sistem kontrol yang nggak nangkap sinyal input, jadi respons lambat atau nol. Ini bikin jaringan diplomasi lemah, potensi kolaborasi hilang.
4. Gap Pemerintah vs Masyarakat Sipil (Sistem Tanpa Coupling yang Kuat)
Diplomasi efektif itu kayak sistem mekanik coupled, misalnya dua oscillator (pemerintah dan masyarakat sipil) yang dihubungkan oleh pegas (k = kolaborasi). Kalau coupling-nya kuat (k besar), energi bisa transfer efisien, sistem resonansi bareng, dan amplitudo (influence global Indonesia) jadi maksimal.
Sekarang coupling-nya lemah banget (k → 0), jadi dua oscillator jalan sendiri-sendiri pemerintah gerak terbatas, masyarakat sipil gerak tapi nggak nyambung. Akibatnya:
- No energy transfer → potensi dari akademisi/NGO/ex-diplomat nggak masuk ke kebijakan.
- Damped oscillation → diplomasi jadi kurang bertenaga, mudah kehilangan momentum.
- Kalau dibiarkan, sistem bisa out of phase total, malah saling cancel (konflik internal).
Intinya, Pak Dino bilang butuh coupling yang lebih kuat (dialog rutin, libatkan masyarakat sipil) biar sistem diplomasi Indonesia bisa resonate di frekuensi optimal dan output powernya gede lagi. Kayak tuned mass damper di gedung pencakar langit, tambahin massa sekunder yang sync, getaran (risiko geopolitik) malah diredam.
Mau iseng cek lagu favorit orang2 deh
Share lagu favoritmu dong yang kalo kamu dengerin, kamu berasa jadi MC (main character) jadi mood booster gitu
Kebetulan lagi cari playlist baru buat latian
🫡🫡🫡
Ada teori yang disebut 4 Burners Theory. Disitu disebutin kalau hidup itu kayak kompor 4 tungku: kerjaan, keluarga, kesehatan, temen. Dan kita cuma bisa maksimalin sebagian. Sisanya harus rela dikecilin. Kayak pengingat halus kalau manusia tuh ga bisa ngurus semuanya sekaligus.