Saking dunia ini lagi krisis-krisisnya, gw jadi orang pertama dari keturunan gw yg menyaksikan kata laid off, INTERNSHIP, dan VIA NEPOTISM bisa dijadiin satu kalimat.
It is that bad, really 😭
apalagi tinggal di luar jakarta (especially luar jawa) trus akhirnya ngerantau dan bergaul sama temen yang born and raised di sana. Oh lu makin tau seberapa berpengaruhnya akses informasi dan peluang ke pola pikir, tumbuh kembang otak, mental, & cara bersosialisasi even bermimpi
Aku setuju sama ini.
Menghindari rasa sakit itu hampir mustahil, tapi kita bisa memilih jenis rasa sakit, antara clean pain dan dirty pain.
Clean pain tuh rasa sakit yg datang dari keputusan jujur dan berani.
Kayak rasa sakit saat kamu memutuskan buat berkata jujur, meski akhirnya harus nyakitin orang lain. Atau rasa sakit karena kamu harus ninggalin sesuatu yang udah nyaman demi hal yang lebih baik di masa depan.
Dirty pain?
Biasanya berasal dari menghindari kenyataan dan akhirnya malah terjebak di drama panjang yg enggak ada ujungnya.
Jadi, saat kamu harus memilih, mending pilih clean pain deh.
Kamu sendiri, lebih sering hadapin clean pain atau masih suka ketahan sama dirty pain? Gimana cara kamu ngadepin pilihan susah ini?
Gue pernah baca di mana gitu:
‘shamelessly promote yourself’, apalagi kalo masih ngerintis 😅
Buat perintis (kaya saya) atau buat siapapun yg meskipun introvert dll, paksain supaya at least social energynya muncul pas networking deh.
Asli seberguna itu.
Baik buat dpt kerjaan, bisnis, ataupun kalo someday fulltime entrepreneur.
Network can really define our net worth sih 😁.
date cancelled.
- dia pro mbg
- dia bilangnya usd 17.500 biasa aja
- dia nerima ghibran sbg wapres
- dia ga suka orang pinter
- dia ga suka hastag #KaburAjaDulu
- dia dia dia..
pls guys cobain berteman atau at least kenalan sama siapa aja. bukan buat opportunity this and that tapi buat kenal diri mu sendiri dan tentunya silaturahmi.
kenalan sama banyak orang tuh bikin kita tau kita nyaman dengan lingkungan yg kayak gmn, apa yg bisa ditoleransi dan enggak, berhadapan dengan org kayak gmn yang bikin nguras energi, mana yg bikin recharge dan jdnya bisa belajar menempatkan diri di manapun berada. plus, bisa lebih menerima perbedaan.
tapi juga harus diiringi dengan punya level prioritas dan selektivitas, mana yang bisa dijadiin temen, mana yg cukup jadi "kenalan".
True. Sebelum kahwin i joined webinar Aiman Azlan. Dia selalu sebut dan ingatkan bahawa kat dalam dunia ni akan sentiasa ada orang yg lebih baik. Sama ada lebih baik dari orang yg kita jumpa atau diri kita sendiri. You just have to know when to stop searching and comparing.
Pindah ke Denmark. Mulai sekolah dari awal. Dari sekolah bahasa Denmark, kejar paket setara 9th grade, sekolah perkantoran, dan sekarang kepikiran lanjut sekolah finance, meskipun usia 40+. Karena pendidikan di sini gratis sampe universitas, bahkan dapat uang saku tiap bulan.
fun fact: aku gak ingat kehidupanku di 2025, yang aku ingat cuma beberapa hal sedih aja. alasan aku bisa loss memory: karena aku kebanyakan suppress emosi
jadi guys, kalau mau sehat, kalau lagi mau nangis nangisin aja, mau teriak teriakin aja. loss memory rasanya engga enak
Dapat kuliah 2 sks tentang postcolonialism dari ibuk. Ibuku seorang dosen sasing ya guys jadi blio sangat capable 🫰🏻🫰🏻🫰🏻👍🏻
Gapapa belum rejekinya kuliah, masih ada ilmu dari ibu :)
Salah satu cara paling ampuh buat nge-combat brain rot di era digital ini memang adalah MEMBACA. Read passages, essays, books. Let your brain think and digest them. Let your mind capture nuances and different perspectives;
Ini menarik bgt.
Ada yg bilang: kalau ada anak kecil yg terlalu religius, itu tanda parenting orang tuanya jelek.
Argumen ini langsung dibantah sama @afro_hamza, dgn menyertakan bukti riset.
Intinya anak yang dibesarkan di lingkungan religius (sekolah agama/private faith-based) secara statistik punya prestasi akademik lebih tinggi, perilaku lebih baik, dan orang tuanya lebih aktif terlibat.
Itu semua justru ciri2 parenting bagus menurut penelitian sosiologi & pendidikan (meta-analysis W.H. Jeynes).
Ini bukan cuma opini, tp ada datanya.
Kamu setuju ga sama penelitian ini?