Banyak yang reply ke aku dan mempertanyakan kenapa aku bisa sebucin itu dulu. Sependek ingatanku, aku nggak bucin ya. Bucin kan budak cinta. Aku balikan dulu bukan karena cinta krn sejujurnya eneg juga ngeliat dia tiap hari. Lebih ke kasian 😅
Wow banyak sekali reply dari temen2 yang berani menguak apa yang kalianrasakan dalam domestic violence (baik verbal maupun fisik)…
Kalian hebat krn sudah bs keluar dari sana, dan untuk yg belum bs keluar dr sana, semoga segera menemukan jalan keluar 🙌🏻
Oh one more, kenapa gue nggak melapor ke polisi? Krn gue takut. Gue kasian juga ama dia. Males diwawancara wartawan. & Takut karier gue hancur :’)
Suatu hari, tantenya dia melihat muka gue lebam & beliau berkata “sabar2 yaa, dia emang gitu orangnya agak keras” .. I was like ?!?
Tapi emang ya, cowok gue waktu itu kayaknya sgt manipulatif sehingga bs membuat gue ingin bertanggungjawab dan menjadi “hero” dalam hidupnya. Bahwa dia abusive karena dia “sakit” dan hanya aku yg bs menolongnya.
Maybe it’s true that he was sick. But I gotta save myself :)
And she added.. “Andienku, dia bukan tanggung jawab kamu. Bukan tanggung jawab kamu untuk mengubahnya. Itu tanggung jawab dia sendiri. Tanggung jawab kamu adalah diri kamu”
That hit me hard.
Yang bikin gue “sadar” adalah nasehat dari nyokap. Beliau bilang: menurutmu, kamu bisa mengubah orang yang sudah 20 tahun lebih mengenyam kehidupannya sendiri? Dengan pola asuh yang udah terpatri di dia, semua kebiasaannya, semua masa lalunya. Bisa kamu ubah dlm bbrp bulan ini?
Setiap temen gue yang tau, udah selalu menyarankan gue udah ninggalin dia. Apalagi makeup artist gue yang saat itu kerjaannya “menyamarkan” memar di mata gue setiap show. Tapi… Gue selalu menekankan ke orang2 bahwa gue yakin dia bisa berubah.
Gue nggak bisa jujur ke orangtua, apapun selalu gue umpetin karena nggak mau orangtua nyalahin cowok gue. Bilangnya jatohlah, kepentok lah. Padahal sih mereka juga tau yaa nggak mungkin kepentok orang matanya ampe nggak bisa mbuka kayak petinju gitu.
Setelah gue balikan, dia ngulangin hal yang sama. Lalu gue putusin lagi. Abis itu dia nangis2 lagi, mohon2, ampe gue kasian..Terus gue luluh lagi. Begitu aja terus selama 9 bulan isinya ditonjok, dibeset, dicekik, dipukul pake hardcase gitar. Putus nyambung. Minta maaf & luluh.
Gue pernah ngalamin abusive relationship (nggak bisa dibilang KDRT karena belum menikah) with my boyfriend back then. Pas dipukulin pertama kali, gue langsung putusin. Besokannya dia kayak nangis2 mohon2 dan bilang nggak bisa hidup tanpa gue. lalu karena gue kasihan.. Gue luluh.