🔞C*ckwarming Nanami Kento
NSFW, MDNI
———————
It’s raining hard outside. Di jam segini, Nanami biasanya masih terkurung di balik meja kantornya dalam balutan three-piece suit. Akan tetapi, hari ini adalah pengecualian.
“WFH, di kantor ada perbaikan,” katanya.
Pria itu duduk tegak di depan meja kerja, hanya mengenakan kaos hitam fitted yang mencetak pas bahu lebar dan dadanya. Kacamata bacanya bertengger sedikit turun di pangkal hidung. Garis rahangnya mengeras acap kali matanya menyapu rentetan angka di layar, jemarinya yang berurat menari cepat di atas keyboard.
Ada sesuatu yang sangat memabukkan dari melihat Nanami dalam mode profesionalnya—fokusnya begitu tajam nan tak tergoyahkan. Di tengah cuaca dingin ini, sosoknya terasa seperti satu-satunya sumber panas yang tersisa di ruangan.
And you just wanted to ruin that perfect concentration.
Langkahmu nyaris tak bersuara tatkala kamu mendekat. Menyelipkan diri di antara kursi dan meja, dirimu memanjat perlahan, melingkarkan sepasang kaki di kedua sisi pinggulnya.
Gerakan jemari Nanami di atas keyboard terhenti. Tangannya nyaris seperti insting langsung memeluk pinggangmu agar tak terjatuh. Matanya, yang lelah namun penuh afeksi, menatap lurus ke arahmu.
“Sayang... ada apa, hm?” tanya Nanami, baritonnya terasa bergetar di telingamu.
Kamu menunduk, menyandarkan keningmu ke bahunya sembari memainkan kerah kaosnya. “Dingin tau,” keluhmu manja. “Di luar ujan deres banget.”
Nanami menghela napas tipis, netranya melirik sekilas ke sudut layar laptop. “I know, tapi tiga puluh menit lagi aku zoom meeting sama klien, Sayang. Ini quarterly report, aku harus bener-bener fokus ngecek datanya.”
“Terus?” Kamu mendongak, memasang raut polos yang manipulatif. “I'm not asking you to stop working kok. I just need your warmth. Pangku aja.”
Sebelah alis Nanami terangkat, sorot matanya skeptis. “Just sit on my lap? Tanpa aneh-aneh?”
“Let me take you in,” bisikmu, membiarkan bibirmu sengaja menggesek rahangnya yang sedikit kasar. “Just that. Terus aku diem temenin kamu kerja. Janji. Boleh ya?”
“Kita sama-sama tau kamu nggak akan bisa diam kalau udah di atas aku, Sayang,” balasnya rasional, berusaha mencari celah logika untuk menolak.
“Bisaaa. You can just ignore me. I won't make a sound.”
“How can I ignore you, hm?”
Dirimu mendesakkan pinggul, mengirimkan sinyal mematikan. “Please, Ken? I'm so needy right now…”
Erangan pelan lolos dari tenggorokan Nanami. Argumen logis apa pun menguap begitu saja. Ia mengalah. Yah, selalu begitu. “Fine. But no moving. At all.”
He knew it was a foolish trap, tapi tatapan sayunya gagal menutupi seberapa besar ia menginginkanmu. Tak ada foreplay panjang. Beberapa usapan tanganmu sesaat mengeluarkan kejantanannya dari celana, seketika disusul oleh erangan rendah Nanami kala jemari kasarnya menemukan intimu yang ternyata telah merembes basah.
The sheer fact that you were already so desperately wet just by watching him work successfully chipped away the remnants of Nanami's sanity.
Kamu membiarkan tubuhmu perlahan turun, menelan miliknya inci demi inci hingga menyentuh dasar. Kontras antara kulitmu yang mendingin terpapar AC dan suhu tubuhnya yang membakar di dalam dirimu seketika merenggut napasmu.
Nanami mendongak, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memejamkan mata. Rahangnya berkedut kuat, menahan gelombang nikmat manakala dinding basahmu memeluknya erat. Dadanya naik-turun memburu sebelum ia menelan ludah dan memaksa kelopak matanya kembali terbuka menatap layar.
“Don't move at all, Sayang,” peringatnya.
“Iya, iya, you don’t have yo be so bossy,” gumammu, merapatkan wajah ke ceruk lehernya.
And you complied—for a while, at least.
Selama dua puluh lima menit, yang terjadi adalah penyatuan diam. Membuktikan ucapanmu, kamu melabuhkan dagu di dada bidangnya, memegang ponsel di satu tangan, berselancar asal melewati linimasa tanpa benar-benar peduli. Sementara tanganmu yang lain memeluk bahunya, memainkan ujung rambut belakang Nanami.
Kalian terhubung begitu dalam. Sesekali, saat tubuhmu, kamu menggeser sedikit posisi dudukmu demi mencari kenyamanan.
“Sayang, watch your hips,” gumam Nanami tanpa mengalihkan pandangannya, suaranya tercekat kala dirimu secara tak sengaja menggesek urat di miliknya.
Kamu hanya tertawa kecil. “I'm just stretching my legs, Ken.”
Nanami mencoba mengetik laporannya, tapi suhu tubuhmu, embusan napas teratur di lehernya, dan kedutan halus yang mengunci di bawah sana perlahan memicu tombol lepas kendali di benaknya.
“Okay, my love.” Nanami memecah keheningan, menepuk pelan pinggulmu. “Udah hampir setengah jam. Turun, sayang. Meetingnya mau mulai. Aku harus nyalain kamera.”
Kamu menggeleng, kian mengeratkan pelukanmu di lehernya. “Enggak mau, kayak gini aja. Aku nggak akan berisik kok.”
“Sayang, jangan mulai,” tegur Nanami, nadanya menegas namun rautnya menyiratkan rasa frustrasi yang manis. “Aku harus profesional.”
“Siapa bilang nggak bisa sambil profesional? Kan kita diem aja,” debatmu dengan senyum menantang, sedikit menggoyangkan pinggulmu untuk meledeknya.
“Jangan gerak—” Nanami mencoba menahan pinggangmu, mencondongkan tubuhnya maju.
Dalam perdebatan iseng yang berujung saling dorong dan tawa tertahan itu, pergelangan tangan Nanami tergelincir menekan trackpad laptop.
Ding.
Notifikasi aplikasi menyalak pelan. Kalian berdua terdiam kaku.
Mata Nanami melebar melihat layar. Zoom meeting telah terhubung sebelum waktunya, dengan lima orang partisipan dari pihak klien sudah bergabung. Beruntungnya, pengaturan kamera dan mikrofon default sistem masih dalam mode off.
“Shit,” umpat Nanami tertahan di sela giginya, mengusap wajahnya kasar.
Kamu menggigit bibir, rasa bersalah tiba-tiba mencubitmu saat sadar kaulah pemicunya. “Ken... maaf, aku nggak sengaja—”
Tangan Nanami langsung mendarat di belakang kepalamu, mengusapnya sekali untuk memotong kepanikanmu. “No, it's my fault. I shouldn't have let my guard down knowing you're like this,” bisiknya tegas. Tatapannya mengunci matamu. “Tapi kamu harus diam sekarang. We're live.”
Desiran adrenalin gila seketika membanjiri dadamu. Bahaya. Kesadarannya bahwa ada orang lain di sana, sementara kamu masih berlabuh dalam dan panas di atas pangkuannya, dilindungi oleh ego maskulin pria ini, menjadi candu yang tiba-tiba meluap.
Nanami menarik napas dalam, merapikan letak kacamatanya, dan mengklik tombol unmute.
“Good afternoon. Yes, Nanami is here. Apologies for being a minute early,” sapa Nanami.
Suaranya berubah seratus delapan puluh derajat. Mengalun tenang, formal, tanpa sedikit pun jejak pria frustrasi yang baru saja mengumpat tadi. His professionalism was truly unmatched.
Akan tetapi di bawah layar, di zona yang tak tersentuh etika bisnis, permainan sesungguhnya baru saja dimulai.
Mengetahui pria itu kini terikat oleh tanggung jawab, sifat tak patuhmu memberontak. Di tengah penjelasan Nanami tentang kurva proyeksi finansial kepada klien, perlahan kamu menarik ujung kaos kebesaranmu hingga melewati kepala. Stripping yourself bare until you were completely topless right in front of him.
Nanami nyaris berhenti bernapas. Urat lehernya menegang, dan rengkuhan tangannya di pinggangmu berubah menjadi cengkeraman kuat. Netranya yang gelap memindai tubuhmu, tapi bibirnya tak bisa berhenti berbicara.
“As you can see from the third quarter data…”
Kamu mencondongkan tubuh, menempelkan payudaramu yang sensitif ke kaosnya. Sensasi gesekan itu membuatmu mendesah tanpa suara. Menghirup dalam paduan vetiver dan keringat, bibirmu memberikan kecupan-kecupan basah tepat di bawah rahangnya.
Tak puas hanya menyiksanya dari luar, kamu memulai sabotase senyap. Di dalam sana, tempat eksistensinya terjebak, dindingmu berkedut. Kamu menjepitnya berulang kali—memutar pinggul samar, mengunci, lalu meremasnya dalam siksaan lambat yang mematikan.
Ketikan Nanami di keyboard berujung typo. Cengkeramannya di pinggulmu bergeser kalut, mengusap kulit punggungmu dengan putus asa.
“The allocated budget... should be…” Suara baritonnya patah sesaat. Tarikan napas kasar menyusul, wibawanya mulai sedikit retak di ujung sana.
Terdengar suara berkerut dari seberang sambungan. “Are you okay, Nanami-san? You sound slightly out of breath.”
Mata Nanami seketika menggelap, menyorotmu dengan kilat berbahaya yang belum pernah kamu lihat. Pria itu berdeham. “I'm fine. Apologies, let me double-check the data for a second.”
Nanami menekan tombol mute. Detik ketika lambang mikrofon dicoret merah, Nanami merenggut tengkukmu, merapatkan wajah hingga hidung kalian bersentuhan. Napas panasnya yang beraroma kopi memburu dan menerpa kulitmu.
“Kamu pikir ini lucu, hm?” geramnya sangat rendah nan dominan. Matanya mengunci milikmu melalui lensa kacamatanya. “Bandel banget. You're trying to break me so badly, huh?”
Hanya rengekan tertahan yang lolos karena seketika itu pula Nanami mendesakkan pinggulnya ke atas, menghajar titik sensitifmu tanpa ampun. Tanganmu mencengkeram bahunya gemetar.
“Diam,” perintahnya mutlak saat bibirmu terbuka. Ia mencuri ciuman basah yang terburu-buru dari sudut bibirmu sebelum kembali berdesis. “Stop grinding on me like that. Atau kamu beneran mau saya hamilin di sini? Right now? Di depan laptop sialan ini?”
Ancaman itu diucapkan begitu lugas dan vulgar dari lisan seorang pria mapan yang gila keteraturan. Perut bawahmu melilit mendengarnya.
The thrill that he could knock you up right there and then—membayangkan ia lepas kendali menanamkan benihnya ke dalam dirimu sembari terhubung dalam rapat kerja, sukses menyetrum nadimu begitu nikmat. Menatapnya dengan pupil membesar oleh gairah, kamu menggesekkan hidung dengan miliknya.
“Then do it,” tantangmu berbisik gemetar, menekan inti kewanitaanmu kian erat memeluk miliknya. “Hamilin aja... if it makes you lose your mind for me this bad, Ken.”
Nanami mengerang kasar mendengar kelancanganmu. Ia mengecup rahangmu sekali lagi, sebelum ibu jarinya kembali membuka unmute. Pria itu harus kembali ke mode profesionalnya untuk menyelesaikan sepuluh menit terakhir rapat.
Begitu kalimat “Thank you, have a good weekend” diucapkan oleh klien, Nanami tak membuang sedetik pun waktu. Tombol leave meeting ditekan.
Layar laptop ditarik dan dibanting tertutup. Kacamata direnggut dan dilempar sembarangan ke atas meja. Tangan kanannya meluncur menahan belakang kepalamu, merampas bibirmu dalam tautan rakus dan menggigit bibir bawahmu buas. Lidahnya mendominasi rongga mulutmu sementara cengkeramannya di pinggulmu meremukkan.
“You lose,” desisnya liar di antara tautan bibir kalian.
Nanami mengangkat tubuhmu sedikit tanpa mencabut miliknya, membuat jeritan kecil lolos dari belah bibirmu.
“Ah—Ken! Wait—”
“Wait? Really? After torturing me for almost an hour?” geramnya.. “You wanted this, right? You wanted my attention so fucking bad.”
“Yes... a-ah, Ken, right there—” Kukumu menancap di bahunya seiring dengan hantaman pertama yang menghujam tanpa ampun.
Oh ia tengah balas dendam.
“Don't tell me to stop now. You asked for this,” napasnya menderu di atas bibirmu.
Pinggulnya mengunci milikmu dalam ritme yang terlampau cepat, mengubur habis sisa-sisa warasmu di atas meja kayu sialan itu. Decak basah perpotongan kulit kalian seketika menutupi derai hujan di luar.
Kamu menangis tanpa air mata, memohon di antara desahan patah-patahmu. “Please, please... don't stop, God—”
And Nanami fucking loved it.
Pria itu menyeringai di sela ciuman ganasnya. He worshipped you, membuktikan bahwa di bawah topeng rasionalitasnya, Nanami sepenuhnya tunduk padamu—and making sure that by the end of this rainy afternoon, there wasn’t a single part of you left unfilled by him.
—fin.
Selamat Hari Wayang Nasional.
Semoga perwayangan Indonesia selalu lestari dan semakin dikenal dunia.
Ini OC-ku versi wayang orang 🎭
Artwork by @picxen_