Open Casting:
Dibutuhkan VO talent iklan produk makanan dgn karakter:
1. Witty: cowo, youth, energic, comical
2. Gen Z core: cewe, youth, energic, expressive
-available recording di studio di jakarta tgl 24sep2026
Submit portfolio atau sample VO ke [email protected]
Rutin menonton short video ternyata berasosiasi dengan kondisi stress dan kecemasan.
Semakin sering dan lama durasi menonton short video, maka semakin tinggi juga tingkat stress dan kecemasan yang dirasakan.
Platform short video dirancang dengan algoritma yang sangat cepat memberikan konten baru yang tidak terduga. Setiap scroll memicu pelepasan dopamin di otak, yang berujung pada sulit berhenti dan "bergantung" pada sensasi emosional dari menonton short video. Selain itu terdapat juga efek isolasi sosial dan overstimulasi yang diduga berpengaruh pada stress dan kecemasan.
Yakin masih gak mau ngurangin short video?
Bayarannya kesehatan mental loh.
Sumber Ilmiah:
A Systematic Review and Meta-Analysis Examining the Cognitive and Mental Health Correlates of Short-Form Video Use
Please forget about me if remembering hurts you, i will always carry the guilt and grace. Live the life you’ve always wanted, i know you’re more than capable, and you’ll always be more than enough.
Anak yang tumbuh di keluarga tidak stabil, misalnya sering bertengkar, kasar, atau diabaikan, ternyata otaknya bereaksi mirip prajurit yang baru pulang dari medan perang. Kabar kurang baiknya adalah ini temuan nyata dari MRI otak.
Peneliti melakukan fMRI pada 43 anak. 20 di antaranya terdokumentasi mengalami kekerasan di rumah.Semua anak diperlihatkan foto wajah marah sambil otaknya diperiksa.
Hasilnya bikin kaget yaitu anak yang terpapar kekerasan keluarga punya aktivitas jauh lebih tinggi di dua area otak, yaitu anterior insula dan amigdala.
Dua area ini berfungsi mendeteksi ancaman dan mengatur respons stres.
Yang bikin makin kaget, pola aktivitas ini sama persis dengan yang ditemukan pada tentara setelah bertugas di medan tempur. Otak mereka sama-sama "belajar" untuk siaga penuh terhadap bahaya, kapan pun dan di mana pun.
Buat prajurit, respons ini sangat penting karena bisa menyelamatkan nyawa. Tapi buat anak kecil yang harusnya tumbuh di rumah yang aman, respons "siap tempur" ini justru jadi beban. Alarm otaknya menyala terus padahal ancamannya sudah tidak ada di depan mata.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berasosiasi dengan naiknya risiko gangguan kecemasan, kesulitan regulasi emosi, dan masalah kesehatan mental lain.
Kabar baiknya adalah otak anak sangat plastis. Perubahan ini punya ruang besar untuk pulih kalau anak kemudian mendapat lingkungan yang aman, stabil, dan dukungan emosional yang konsisten.
Ini pengingat betapa pentingnya rumah yang aman buat perkembangan otak anak, karena yang dibentuk bukan hanya kepribadian, tapi juga cara kerja otaknya sehari-hari.
Semoga bermanfaat!
Sumber Ilmiah:
Heightened neural reactivity to threat in child victims of family violence.
and i’ll write, even if my body is failing, even if my mind is failing, and even if my heart are failing, i will write until there’s nothing left of me.