Right now life teaching me detachment. Nothing’s really mine. People come and go. Moments pass. Love shifts. It’s all temporary. I’m learning to enjoy things without gripping them too tight. To accept when energy changes. To let go when it’s time.
Karena sesulit itu mengalahkan ego diri, makanya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari 5763)
i thought, the longer i stay, the more you’d realize how much i love you, but it only made your ego worse towards me, making it easier for you to disrespect me.
kalau belum mampu memahami perasaan orang setidaknya pakai logika: "kalau aku di gituin, pasti ga enak ya?"
prinsipnya sederhana : "perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan, attitude itu bukan soal umur, tapi cara kita memperlakukan sesama"
Ust. Adi Hidayat mengingatkan kita:
"Kalau lagi ngerasa kecil dan tidak berharga, baca Surah Ad-Duha. Di sana Allah berjanji bahwa Dia tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu."
ternyata bener ya, hidup ini jauh lebih tenang ketika kita tahu batasan. not everything needs our attention, not everything deserve our energy. ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan berlalu, tanpa perlu didengar, dilihat, ataupun dibahas. cukup bodo amatin aja dan bye
Makanya dalam islam juga wanita jangan berlarut-larut sedihnya, karena buat wanita.. sedih itu ga cuma emotional tapi physically
Ngaruh ke badan, pikiran, kesuburan, bikin auranya kusam, energy drowning. Karena ya, wanita diciptakan dari tulang rusuk makanya lebih sensitif.
Semoga semua wanita yang sedang bersedih dimudahkan urusannya ya,
Just us (women) and our allahumma inni audzubika minal hammi wal hazan
“Ya Allah aku berlindung padamu dari rasa sedih yang berlarut (ham) dan (hazan) rasa khawatir terhadap yang belum terjadi”
against the world
Nak, malam ini Bapak mau ngobrol serius..
“Nikah itu bukan cuma soal cinta...”
Banyak anak muda sekarang jatuh cinta, lalu buru-buru nikah. Tapi 2-3 tahun kemudian, rumah tangga berantakan.
Kenapa? Karena mereka lupa: nikah itu bukan hanya soal perasaan, tapi juga soal tanggung jawab besar.
Cinta itu mudah datangnya..
Tapi tanggung jawab itu yang bikin pernikahan kalian langgeng..
Bapak lihat banyak kasus.. suami yang gampang menyerah ketika susah, istri yang kurang sabar menghadapi kekurangan suami.
Akhirnya rumah jadi semacam medan perang, anak-anak yang jadi korban.
Bapak kasih nasihat ala Bapak:
- Pilih pasangan yang baik hatinya, bukan cuma yang cantik/ganteng atau kaya.
- Cari yang sabar, yang mau kerja sama, yang menghargai orang tua dan yang bisa diajak bangun rumah tangga.
Karena cantik bisa pudar, harta bisa habis, tapi hati yang baik itu bisa hubungan kalian langgeng.
Nikah itu bisa diibaratkan nanam pohon buah..
Kalian nggak bisa cuma nyiram pas lagi musim hujan doang. Harus sabar, rawat setiap hari, kadang kena panas, kadang kena hujan. Tapi kalau akarnya kuat, nanti buahnya manis dan bisa dinikmati anak-cucu.
Tanggung jawab suami:
- Memberi nafkah yang halal
- Melindungi keluarga
- Menjadi imam yang baik
Tanggung jawab istri:
- Mendukung suami
- Mendidik anak dengan kasih sayang
- Menjaga keharmonisan rumah tangga
Dua-duanya harus sama-sama berusaha. Nggak ada yang namanya “50-50”, harus 100-100.
Bapak dulu juga pernah muda. Juga pernah merasa “ini orangnya”.
Tapi Bapak bersyukur karena memilih Ibu kalian yang sabar dan baik hati. Bukan karena sempurna, tapi karena kami berdua mau saling mengingatkan dan saling memaafkan.
Pesan terakhir Bapak:
Nikah itu ibadah. Jangan nikah hanya karena takut jomblo atau ikut-ikutan teman. Nikah karena siap bertanggung jawab di hadapan Allah dan di hadapan anak-anakmu kelak.
Sebenarnya, manusia yang kurang empati itu mengerikan. Jangankan untuk memahami kondisi orang lain, untuk sekadar menyadari bahwa tindakannya menyakiti saja pun mereka nggak mampu.
entah siapa yang menuliskanya, tapi masuk akal bagiku:
"dicintai itu adalah batas paling bawah, pastikan kamu dihormati, diutamakan, didukung, dibanggakan, diinginkan, dan dilindungi".
"Menikah itu ladang sabar. Kalau belum siap sabar, jangan dulu nikah. Karena di Rumah Tangga, kamu akan diuji oleh orang yang kamu cintai sendiri."
KH. Baha'uddin Nursalim
Weeding dream kamu apa?
" Nikah untuk tidak bercerai , nikah untuk tidak dianggap beban , nikah untuk tidak main kasar , tiada issue curang , dunia akhirat dicari bersama , jadi tempat dan perlindung terbaik sesama kita sehingga jannah. " 🤍
Berhati-hatilah dengan ucapanmu, karena kamu gak akan pernah tau how much it keeps repeating in someone’s mind. Just remember, words are like sharp weapon and it can be more hurtful than a knife.