Nak, malam ini Bapak mau ngobrol serius..
“Nikah itu bukan cuma soal cinta...”
Banyak anak muda sekarang jatuh cinta, lalu buru-buru nikah. Tapi 2-3 tahun kemudian, rumah tangga berantakan.
Kenapa? Karena mereka lupa: nikah itu bukan hanya soal perasaan, tapi juga soal tanggung jawab besar.
Cinta itu mudah datangnya..
Tapi tanggung jawab itu yang bikin pernikahan kalian langgeng..
Bapak lihat banyak kasus.. suami yang gampang menyerah ketika susah, istri yang kurang sabar menghadapi kekurangan suami.
Akhirnya rumah jadi semacam medan perang, anak-anak yang jadi korban.
Bapak kasih nasihat ala Bapak:
- Pilih pasangan yang baik hatinya, bukan cuma yang cantik/ganteng atau kaya.
- Cari yang sabar, yang mau kerja sama, yang menghargai orang tua dan yang bisa diajak bangun rumah tangga.
Karena cantik bisa pudar, harta bisa habis, tapi hati yang baik itu bisa hubungan kalian langgeng.
Nikah itu bisa diibaratkan nanam pohon buah..
Kalian nggak bisa cuma nyiram pas lagi musim hujan doang. Harus sabar, rawat setiap hari, kadang kena panas, kadang kena hujan. Tapi kalau akarnya kuat, nanti buahnya manis dan bisa dinikmati anak-cucu.
Tanggung jawab suami:
- Memberi nafkah yang halal
- Melindungi keluarga
- Menjadi imam yang baik
Tanggung jawab istri:
- Mendukung suami
- Mendidik anak dengan kasih sayang
- Menjaga keharmonisan rumah tangga
Dua-duanya harus sama-sama berusaha. Nggak ada yang namanya “50-50”, harus 100-100.
Bapak dulu juga pernah muda. Juga pernah merasa “ini orangnya”.
Tapi Bapak bersyukur karena memilih Ibu kalian yang sabar dan baik hati. Bukan karena sempurna, tapi karena kami berdua mau saling mengingatkan dan saling memaafkan.
Pesan terakhir Bapak:
Nikah itu ibadah. Jangan nikah hanya karena takut jomblo atau ikut-ikutan teman. Nikah karena siap bertanggung jawab di hadapan Allah dan di hadapan anak-anakmu kelak.
Air mata dan ketakutan seorang ayah tidak terlihat,
cintanya tidak diungkapkan,
tetapi kasih sayang dan perlindungannya tetap sebagai pilar kekuatan sepanjang hidup kita...
Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon )
Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut
Saya kasih tahu sebab dan alasannya
Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000,
Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena
Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi
Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang)
Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan.
Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah.
Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal.
Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi
Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin
Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi
Panen manual (biaya tenaga kerja).
Pengemasan yang layak.
Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota).
Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya.
Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi.
Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan
Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli.
Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan.
Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton.
Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang
Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga.
Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total.
Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi
Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel.
Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah.
Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Hidup berdua bukan sekadar hari ini atau besok, tapi perjalanan seumur hidup. Maka temukan seseorang yang seiman, punya arah yang sama, dan bisa saling mengerti. 🤍
Umur 26 itu aneh ya.
Lagi ngebut ngejar mimpi, karier, upgrade hidup, pengen cepet sukses… tapi di sela-sela itu tiba-tiba sadar:
Orang tua kita benar-benar mulai menua.
Bapak mulai bilang matanya nggak sejelas dulu kalau nyetir malam. Mama kalau duduk lama, bangunnya pelan, sambil pegang lutut. Dulu kelihatan biasa aja. Sekarang jadi terasa banget.
Aneh ya. Kita fokus lari ke depan, tapi tiba-tiba sadar orang tua kita nggak lagi di titik yang sama seperti dulu. Mereka nggak selelah kita, tapi tubuh mereka yang mulai pelan.
Perhatiin temenmu
kalau dia cerita dia habis tidur lamaaa banget, bangun, tidur lagi...
Ajak ke luar rumah, ajak ngopi.
Ajak nyari angin.
Ajak liat yang ijo-ijo.
Orang yang pikirannya lagi penuh, depresi, SALAH SATU coping mechanism-nya adalah tidur yang lama.
Mentalnya perlu diselamatkan.
Kantor Bukan Keluarga.
Kalimat (( kita tuh kayak keluarga )) sering terdengar manis di telinga.
Hangat, akrab, seolah semua orang saling dukung tanpa pamrih.
Tapi hati-hati, kadang di balik kalimat itu, ada ekspektasi yang gak sehat.
Mari bahas pelan-pelan.
A Thread ~
Rumah bukan tempat istirahat. Rumah tempat pulang.
Dulu saya kira, pulang ke rumah itu waktunya lepas sepatu, duduk di sofa, dan istirahat.
Sampai saya sadar: ada anak yang nunggu cerita.
Ada istri yang butuh teman bicara.
Ada keluarga yang berharap saya benar-benar hadir.
👇
SS itu masak untuk sajian dan sambelnya per porsi.
lama, pastinya, tetapi ini SOP untuk menjaga kualitas sajian dan keberlangsungan bisnis ini telah bertahan puluhan tahun.
menganggap serve pesanan satu jam di SS itu lama, pastinya jarang makan di SS / simply bukan marketnya.