Burung Cendrawasih dan kangguru di Papua sudah terancam Punah
di tambah Pembukaan 1 juta hektar lahan yang dilakukan pemerintah jelas akan memperburuk habitat mereka
HUTAN PAPUA HARUS DILINDUNGI DARI PARA BABI
Berhenti merasa paling modern sebelum kamu melihat sendiri bagaimana alam Papua menjaga "fosil hidup"-nya dengan penuh kehormatan. ♥️ Kasuari bukan sekadar burung biasa di tanah Biak.
Ia adalah penguasa hutan, simbol kekuatan, dan bukti bahwa Indonesia Timur adalah rumah bagi keajaiban yang dunia pun iri melihatnya. Kalau kamu masih menganggap Indonesia cuma soal kota besar, berarti kamu memang kurang jauh melangkah ke timur. Sebuah fragmen kemegahan purba dari tanah Numfor.
Tak perlu mencari lebih jauh, karena di sini... -EverythingIsHere- 📍 Pulau Biak, Kabupaten Biak Numfor, Papua
Haji Isam Aktor Pembabat Hutan Papua yang ditunjuk pemerintah sebagai pihak pelaksana proyek di Merauke Papua selatan
Dampaknya
Merusak Hutan Adat, ekosistim dan mengancam pangan lokal
Eh ini penting banget guys, ini udah sampe ke media belum tolong di up. Nelayan Indonesia dan Pakistan saat ini disandera oleh bajak laut dari Somalia.
BOCOR KE PUBLIK !!
INSTRUKSI RAHASIA MILITER ISRAEL: HABISI SEMUA PRIA DI GAZA, TAK PEDULI BERAPA PUN USIANYA
bocor-ke-publik-instruksi-rahasia-militer-israel-habisi-semua-pria-di-gaza-tak-peduli-berapa-pun-usianya/Bukankah Seharusnya Dunia Tidak Diam ??!
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media.
Letkol Teddy Indra Wijaya.
Sekretaris Kabinet.
Bukan menteri.
Bukan jenderal bintang empat.
Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas.
Apa yang terjadi di bencana Sumatra
dan di mana Teddy masuk:
Akhir November 2025.
Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
BMKG sudah memberikan peringatan
delapan hari sebelumnya.
Tidak ada rapat darurat.
Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat.
Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa.
Rapat soal koperasi.
Ketemu Menteri Kelautan.
Menerima Ratu Belanda.
Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar.
Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang.
Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh.
Lebih dari tiga minggu di lapangan.
Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan.
Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat.
Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi.
Rina melakukan siaran langsung.
Dia tumpahkan semua yang dia lihat.
Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet
menonton siaran itu dari Jakarta.
Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk.
Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti.
Bukan insiden tunggal ini pola:
Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa.
Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon.
"Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya."
"Tapi memang belum ada bantuan.
Faktanya begitu."
"Cerita soal dampaknya aja.
Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk."
Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja."
"Maksa banget," kata Indira.
Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar:
Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman.
Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan.
Yang ada adalah telepon.
Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu.
Tidak perlu SK.
Tidak perlu aturan resmi.
Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan.
Apa yang dilakukan Teddy?
Persis sama.
Menelepon pemilik media.
Mengamuk.
Meminta pemred diganti.
Tanpa surat resmi.
Tanpa proses hukum.
Cukup satu telepon.
Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain:
Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo.
Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda.
Lebih profesional.
Lebih terukur.
Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif,
bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana.
Bukan mengontrol berita palsu.
Bukan melawan disinformasi.
Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang.
Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli:
Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab.
Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan.
Tidak ada klarifikasi.
Tidak ada bantahan.
Hanya diam.
Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan.
Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar.
Dan sistem seperti itu pernah kita kenal.
Namanya Orde Baru.
Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.
Mengenal sosok JPU yang menuntut Nadiem Makarim dengan hukuman 18 tahun penjara+ denda
Ketua tim penuntut umum kasus Nadiem Makarim:
Roy Riady, S.H., M.H.
Total harta kekayaan: Rp2.324.259.000
Rincian aset:
1. Tanah dan bangunan: Rp1.260.000.000
Tanah dan bangunan seluas 308 m² / 150 m² di Palembang — Rp900.000.000
Tanah seluas 116 m² di Bekasi — Rp360.000.000
2. Alat transportasi dan mesin: Rp413.000.000
Honda Vario tahun 2011 — Rp3.000.000
Honda Vario tahun 2019 — Rp10.000.000
Toyota Innova 2.0 A/T tahun 2022 — Rp400.000.000
3. Harta bergerak lainnya: Rp9.000.000
4. Surat berharga: —
5. Kas dan setara kas: Rp642.259.000
6. Harta lainnya: —
Subtotal: Rp2.324.259.000
Hutang: —
Total harta kekayaan akhir: Rp2,32 miliar.
Banyak Turis Israel yg berkeliaran di Bali dan Lombok .kok bisa lolos. Harus di selidiki petugas imigrasi yg meloloskan para turis2 israel tsb. Karna indonesia tidak punya hubungan Diplomatik dgn israel.
Guys, Onad baru muncul lagi di podcast bareng Habib dan obrolannya jauh lebih dalam dari yang gue kira.
Bukan soal kasus.
Bukan soal drama.
Tapi soal apa yang berubah setelah seseorang melewati titik paling gelap dalam hidupnya.
Yang paling berubah dari Onad sekarang:
Dulu kalau pulang kerja ketemu anak biasa aja.
Tidak ada perasaan spesial.
Tidak ada kehadiran yang nyata.
Perasaan gua beku.
Misalnya kita kerja, pulang, ketemu anak gua biasa aja.
Sekarang?
Dia yang pertama.
Sebelum kerjaan.
Sebelum konten.
Sebelum apapun.
ini dulu.
Baru kerjaan.
Baru yang aneh-aneh.
Dan ini bukan kalimat motivasi yang dia hafal dari buku. Ini hasil dari kehilangan dan kemudian menemukan kembali apa yang sebenarnya penting.
Soal liburan tanpa handphone:
Onad ke Bali.
Dua minggu.
Tanpa handphone.
Bukan karena disuruh.
Tapi karena istrinya pernah bilang sesuatu yang menohok:
Setiap liburan, otak lu tidak di sini.
Tubuh lu doang yang ada.
Dan itu kata Onad lebih menyakitkan dari yang kelihatan.
Karena selama bertahun-tahun dia pikir sudah memberikan yang terbaik.
Sudah kerja keras.
Sudah kasih materi.
Ternyata yang dibutuhkan keluarganya bukan itu.
Money cannot buy happiness tapi versi yang lebih jujur:
Semua orang tahu kalimat itu.
Tapi tidak semua orang benar-benar merasakannya.
Onad merasakannya dengan cara yang mahal.
Dulu di otak gua:
keluarga? Entarlah.
Yang penting gua kasih duit.
Ternyata yang dibutuhkan itu waktu luang gua.
Dan Habib menambahkan dari perspektif Islam bahwa di antara nikmat yang melebihi harta adalah waktu luang.
Bukan sebagai klise religius
Tapi sebagai sesuatu yang benar-benar terbukti dalam realita.
Dan ini yang paling gue ingat dari seluruh obrolan ini:
Onad bercerita bahwa beberapa bulan sebelum kasusnya terungkap Habib sudah meneleponnya. Sudah ngobrol soal pentingnya ke psikolog.
Bahkan sudah kasih nama dan nomor psikolog yang spesialisasinya menangani masalah penyalahgunaan obat.
Onad tidak sempat menghubungi.
Gua sedih.
Gua kasih nomornya.
Tapi ketimpa kayak gitu.
Dan inilah yang paling penting untuk dipahami soal kesehatan mental dan proses pemulihan:
Support system yang ada — tidak cukup kalau orang yang butuh bantuan belum siap menerimanya.
Habib sudah ada. Psikolog sudah direkomendasikan. Tapi kalau seseorang belum sampai di titik di mana dia mengakui bahwa dia butuh bantuan — semua itu tidak akan terpakai.
Kenapa rehab saja tidak cukup:
Onad bisa cerita dengan sangat jelas tentang ini — karena dia merasakannya sendiri.
Rehab itu proses. Tapi proses itu hanya bekerja kalau ada perubahan yang terjadi di dalam — bukan hanya di luar.
"Jangan pikir kalau lu sudah melewati bencana itu maka lu sudah selesai. Bencana terbesar yang lebih besar dari bencana itu sendiri adalah orang yang melewati bencana tapi tidak mengambil pelajaran."
Dan perubahan terbesar yang Onad lakukan bukan soal jauhi lingkungan tertentu. Bukan soal ganti teman. Tapi soal satu hal yang jauh lebih fundamental:
Dia tahu sekarang siapa dia dan apa yang benar-benar dia tanggung jawabkan.
"Lu tuh siapa? Lu di mana? Lu tuh tanggung jawab lu gede loh. Banyak yang sedih kalau lu sedih."
Kesadaran itu bukan program rehab manapun yang bisa menanamkannya. Hanya pengalaman yang paling menyakitkan yang bisa.
Quote yang paling gue simpan:
Habib pernah bilang ini ke orang-orang yang sedang di titik paling gelap dan Onad mengkonfirmasi ini benar dari pengalamannya sendiri:
"Kalau lu tidak bisa lewati itu hari demi hari — paling tidak lewati jam demi jam. Kalau tidak bisa jam demi jam menit demi menit. Kalau tidak bisa menit demi menit nafas demi nafas."
Bukan untuk sembuh. Tapi untuk bertahan dulu. Agar tidak melakukan hal-hal yang tidak bisa dibalik.
Dan Onad sekarang:
Antar sekolah dua kali seminggu. Hadir waktu anaknya pulang. Nanya hari ini ngapain di sekolah. Liburan tanpa handphone. Bayar utang waktu ke keluarga.
Itu bukan transformasi dramatis yang kelihatan di headline. Tapi itu yang paling susah dilakukan dan paling berarti.
Gua pengin bayar utang gua ke keluarga.
Minimal setahun gua pengin abiskan waktu buat mereka.
Dan ini yang relate untuk siapapun bukan hanya yang pernah melewati hal yang sama dengan Onad:
Kita semua punya versi dari prioritas yang salah urutan. Kita semua punya versi dari hadir secara fisik tapi tidak hadir secara nyata.
Bedanya tidak semua orang butuh krisis sebesar itu untuk sadar.