Guys gw mau cerita soal diskusi Prabowo sama ekonom CORE Muhammad Faisal yang gw rasa paling jujur dari semua forum ini.
Faisal kasih data yang sederhana tapi menghantam.
ICOR Indonesia angka yang ngukur seberapa efisien uang yang diinvestasikan menghasilkan pertumbuhan ekonomi kita di angka 6,5.
Korea 4. Singapura 4. Thailand 4. India 5. Vietnam 3,6.
Artinya sederhana banget. Untuk hasilkan pertumbuhan ekonomi yang sama Indonesia butuh modal hampir dua kali lipat lebih banyak dari Vietnam. Kita 30 persen lebih tidak efisien dari negara-negara tetangga.
Dan ini bukan angka kecil. APBN kita Rp3.700 triliun. Kalau 30 persennya tidak efisien itu Rp1.100 triliun yang seharusnya bisa menghasilkan lebih banyak tapi tidak.
Prabowo jawab dengan jujur dia akui ini. Dan dia bilang sudah buktikan bisa hemat Rp308 triliun di tahun pertama dari pengeluaran yang dia sebut 'pasti ke arah korupsi.'
Oke. Gw catat itu.
Tapi gw mau kasih konteks yang lebih lengkap.
Soal efisiensi yang katanya tidak potong pendidikan.
Prabowo bilang tegas tidak ada pemotongan biaya pendidikan. Tidak ada pemotongan biaya operasional.
Tapi JK mantan Wapres sudah kasih data yang berbeda. Transfer daerah dipotong dari 30 persen ke 17 persen. Dan sebagian besar transfer daerah itu adalah untuk infrastruktur dan pendidikan di daerah.
Gejolak di Pati dan beberapa daerah lain terjadi karena daerah tidak punya cukup dana terpaksa naikkan pajak daerah sendiri.
Jadi kalau dari pusat bilang tidak potong pendidikan tapi daerah yang selama ini jalankan pendidikan di lapangan tidak dapat dananya itu efisiensi atau pengalihan tanggung jawab?
Soal 100 GW tenaga surya dalam 2 tahun.
Prabowo bilang paling lambat 2 tahun Indonesia harus punya 100 GW tenaga surya.
Sekarang kita baru punya 11 GW.
Artinya dalam 2 tahun harus tambah 89 GW. Hampir 10 kali lipat dari yang ada sekarang.
China yang Prabowo sendiri sebut sebagai yang paling maju punya 800 GW. Tapi China butuh puluhan tahun untuk sampai ke sana dengan investasi triliunan dolar.
Gw tidak bilang tidak mungkin. Tapi target 100 GW dalam 2 tahun dengan kondisi APBN yang hampir jebol dan defisit yang harus dijaga di bawah 3 persen itu perlu dijelaskan angkanya dari mana dan siapa yang bayar.
Soal swasembada energi dari sawit.
Ini yang menarik. Prabowo bilang dari kelapa sawit kita bisa bikin solar. Bensin. Dan itu jadi keunggulan kita.
Secara teknis benar. Biodiesel dari sawit itu nyata dan sudah berjalan sebagian.
Tapi skala yang dibutuhkan untuk menggantikan seluruh impor BBM Indonesia dengan sawit — itu jauh lebih besar dari kapasitas yang ada sekarang. Dan konversi lahan untuk kebutuhan itu juga punya konsekuensi lingkungan yang tidak bisa diabaikan.
Yang paling menarik dari seluruh diskusi ini.
Faisal tanya apakah efisiensi yang dilakukan akan pakai cara yang sama dengan 2025? Karena efisiensi 2025 sudah terbukti berdampak ke daerah.
Prabowo jawab dengan menjelaskan ICOR. Lalu souvenir yang dipotong. Lalu rapat di Bali yang tidak boleh lagi. Lalu gubernur yang beli mobil Rp8 miliar.
Semua itu benar dan bagus.
Tapi pertanyaan Faisal yang inti apakah program prioritas seperti MBG akan di-refocus ke pos tanggap darurat menghadapi perang Iran tidak dijawab secara langsung.
MBG Rp335 triliun tetap jalan. Kendaraan Rp1,39 triliun tidak dipangkas.
Sementara subsidi energi bisa bengkak Rp100 triliun lebih kalau harga minyak di atas 90 dolar.
Dan dua hal itu ada bersamaan di APBN yang sama.
Gw bukan ekonom. Dan bahasa ini memang bahasa bayi.
Tapi bahkan dengan bahasa bayi pun kalau pengeluaran bertambah dan penerimaan tidak ikut naik ujungnya cuma satu.