🚨After over a year of trying, Arsenal have finally completed the signing of Blackburn Rovers striker Igor Tyjon.
The Gunners originally wanted the 18-year-old to replace Chido Obi-Martin who joined Manchester United.
Arsenal will pay an upfront fee of £1.2m with £2m in add-ons and a 20% sell-on clause also included in the deal.
The striker completed his Arsenal medical this weekend.
The Gunners have their man.
Ezri Ngoyo Konsa tumbuh di distrik dengan angka kriminalitas tinggi. Lingkungan masa remajanya lekat dengan kekerasan, perampasan paksa, hingga narkoba. Sepak bola membantunya melewati itu semua.
GUDANG PELURU, London Utara
JEJERAN lampu Terowongan Blackwall kompak berlari ke belakang ketika Ezri Konsa menengok ke jendela mobil. Anak laki-laki berusia sebelas tahun itu duduk di kursi belakang sementara ayahnya mengemudikan kendaraan. Sembari mengamati lelampuan yang sekelebat sirna, ia mendengarkan ayahnya berkisah tentang Republik Demokratik Kongo.
Sore itu pada 2008, tepat di bawah Sungai Thames di bagian timur London, mobil mereka keluar dari lorong 1,3 kilometer yang dibangun pada era Ratu Victoria. Sinar mentari menggantikan lampu terowongan. Ayah Ezri belum juga selesai bercerita. Kali ini, ayahnya menguraikan riwayat masa kecil yang sulit sewaktu Kongo dipimpin rezim otoriter.
Tanpa terasa mereka kini menyusuri jalan bebas hambatan. Ezri sedang diantar ayahnya ke akademi Charlton Athletic untuk berlatih sepak bola. Belum lagi tiba, mobil mereka berhenti mendadak.
“Mogok lagi, Dad?”
“Ya, ini sudah ketiga kalinya. Ayah akan periksa dulu,” jawab ayah Konsa lalu beranjak membuka kap mobil.
Anak lelaki itu membenamkan kepalanya rendah-rendah di kursi penumpang. Ia merasa malu dilihat orang-orang yang lewat. Mobil pun bergerak kembali setelah ayahnya mengutak-atik sana-sini.
Ezri Konsa yang lahir pada 23 Oktober 1997 berlatih di akademi Charlton Boys Club setelah mencetak hat-trick di Sunday League. Ia belum genap berusia 11 tahun ketika membela Senrab FC di liga akar rumput yang dimainkan setiap Ahad di Inggris itu.
Seorang pencari bakat Charlton Athletic yang mengamati pertandingan tersebut terpukau. Ezri pun diundang masuk akademi.
Ezri menyukai sepak bola sejak kecil. Kakaknya, Antonio Konsa, yang mengenalkannya kepada si kulit bundar. Ezri menonton kakaknya bermain di Sunday League. Mereka juga sering bermain bola bersama teman-teman di bawah tulisan “Dilarang Bermain Bola” di area parkir tak jauh dari rumah.
Kakak-beradik ini terpaut tiga tahun. Mereka tidur di ranjang susun bersama paman. Jika ayah mereka keturunan Kongo, sang bunda berdarah Angola.
Ezri tumbuh di Distrik (Borough) Newham, London Timur. Orang tuanya sering berpindah tempat tinggal di distrik tersebut. Kawasan ini dulunya permukiman pekerja industri. Deretan rumah bergaya Victoria dan Edwardian dengan dinding batu bata merah berdiri rapat. Tepi-tepi jalannya penuh dengan kendaraan yang parkir.
Seturut waktu, penduduk Newham kian beragam. Distrik ini juga dikenal dengan angka kriminalitas yang tinggi. Berandalan ataupun remaja sering berurusan dengan hukum di kampung halaman Sol Campbell itu.
Sewaktu Ezri berusia 11 hingga 15 tahun, rata-rata 1.000 remaja berurusan dengan hukum setiap tahunnya di Newham. Artinya setiap hari kurang lebih tiga kasus melibatkan para remaja.
Otoritas London mencatat kasus tertinggi adalah kekerasan terhadap orang sebanyak 1.447 kasus pada 2009-2013. Selanjutnya adalah perampokan (1.144 kasus), pencurian dan penadahan (1.065 kasus), dan narkoba (841 kasus) yang melibatkan anak di bawah 18 tahun.
Ezri beruntung karena kakaknya, Antonio, selalu menjauhkan dia dari pengaruh buruk tersebut. Antonio selalu mendukung Ezri bermain sepak bola.
Ketika diundang Charlton, Ezri harus mengikuti uji coba selama enam pekan sebelum dikontrak. Hampir setiap hari ia melewati Blackwall Tunnel demi menyeberangi Sungai Thames yang kerap muncul di kisah-kisah Sherlock Holmes.
Ezri belajar di akademi sejak berusia 11 sampai 18 tahun di bawah bimbingan pelatih Steve Avory. Pelatih tersebut selalu menekankan tanggung jawab dan sikap yang baik karena Ezri sering bermasalah di sekolah.
Di bawah asuhan Steve Avory, tim usia muda Charlton Athletic diisi pemain-pemain berbakat. Bukan hanya Ezri, ada Joe Gomez, Ademola Lookman, Karlan Grant, dan George Lapslie.
Ezri mengawali perjalanannya sebagai gelandang bertahan sebelum menjadi bek kanan. Sampai suatu hari, manajer tim U-18 Charlton bertanya kepadanya.
“Apakah kamu mau mencoba posisi bek tengah?”
“Ya, Bos. Kenapa tidak,” sahut Ezri.
Musim 2016/17 menjadi yang pertama bagi Ezri bermain di level profesional. Ia membela Charlton selama dua musim di League One, kasta ketiga Liga Inggris. Pelatih Brentford, Dean Smith, kemudian tertarik dan mengajaknya bergabung pada 2018. Ezri pun bermain di Championship atau divisi dua bersama Brentford. Ia juga masuk tim nasional Inggris kelompok usia muda.
Kesempatannya tampil di Premier League datang ketika Dean Smith menakhodai Aston Villa pada 2019/20. Ezri diajak Dean Smith bergabung di klub tersebut. Debutnya di Premier League adalah ketika menjadi pemain pengganti pada menit ke-75 saat Aston Villa mencukur tuan rumah Norwich City 5-1.
Dalam wawancaranya kepada The Guardian, Ezri mengaku peran keluarga seperti ayah dan kakak sangat penting dalam perjalanan kariernya. Sepak bola disebut sangat membantu melewati kehidupan keras di Newham.
“Daerah tempat saya tinggal itu keras. Benar-benar keras. Anda sering mendengar tentang anak-anak yang ditikam. Jadi sepak bola sangat membantu saya. Seratus persen,” kunci pemain anyar Arsenal tersebut. (*)
Suka dengan artikel seperti ini? "Dukung" kami untuk terus menghasilkan ulasan berkualitas seperti ini.
(Dramatisasi minor sengaja ditambahkan agar pembaca lebih mudah mengikuti narasi)
FOTO: Ezri Konsa (kiri) dan Antonio Konsa (Sumber: Instagram Ezri Konsa)
Senarai Sumber
Dear Villa, 2026, artikel The Players’ Tribune.
Ezri Konsa: ‘I Haven’t Got Any Secret, It’s Just About Learning My Trade’, 2021, artikel The Guardian.
The Big Interview: Aston Villa Star Defender Ezri Konsa, 2020, artikel Showmax.
Crime in Newham, 2013, data London-gov-uk.
The Rise of Ezri Konsa, 2024, artikel Claret Villans.
History of the Blackwall Tunnel, artikel London Museum.
Charlton’s Young Players Lookman, Konsa, Grant and Gomez Have All Come Through Together, 2019, artikel The Guardian.
Biasanya ketika senggang, kami membuat satu atau dua desain infografik dalam sehari. Lain waktu mengedit video dan mengetik kisah-kisah pemain Arsenal.
Aset-aset desain ini memang dibantu akal imitasi. Maka maafkan jika ada yang kurang tepat. Yang jelas, membuat konten begini, waktu yang paling lama adalah mencari ide, mengulik bahan, dan memverifikasi data.
Capek? Tentu saja. Tetapi rasa lelah itu segera sirna ketika Anda memberi apresiasi, komentar, bahkan kritik serta masukan. Ditambah kemenangan Arsenal, ahhhh, hati riang badan pun ringan.
So, COYG!
Pemain Brasil ini selalu mengenakan angka punggung yang sama dengan nomor taksi ayahnya. Armada ringkih itulah yang memberinya makan, pakaian, tempat tinggal, sepatu bola, hingga membawanya ke panggung dunia.
MARCIA GUIMARAES sedikit terhenyak sewaktu dokter mulai memaparkan diagnosis. Putra semata wayangnya yang berusia tiga tahun, Bruno Guimaraes, dinyatakan mengidap pneumonia. Dokter menyarankan anak lelaki yang lahir pada 16 November 1997 itu sering berolahraga. Hanya dengan begitu ia lekas sembuh dari paru-paru basah.
"Bagaimana kalau masuk sekolah futsal?” Suami Marcia yang bernama Dick Moura mengutarakan usul.
“Tidak, tidak, dan tidak! Aku tak sanggup punya satu lagi orang sepertimu di rumah. Aku bisa stres,” tukas Marcia.
Perempuan yang bekerja di diler sepeda motor itu memang tak menyukai sepak bola. Uniknya, suaminya justru amat tergila-gila olahraga tersebut sebagaimana lelaki Brasil kebanyakan.
Marcia akhirnya memasukkan Bruno ke sekolah renang pada 2000. Bocah tersebut mengikuti pelajaran dan praktik renang selama satu setengah tahun. Sampai suatu hari pada 2002, Bruno yang sudah berusia lima tahun datang dan menangis di depan ibunya.
"Mom, renang? Serius? Ini bukan aku. Aku harusnya bermain sepak bola!”
Marcia terpaksa meluluskan permintaan itu. Ia sadar Bruno harus terus berolahraga agar tidak terserang pneumonia lagi. Bruno pun mengikuti latihan futsal saban akhir pekan. Ia berlari dan menendang bola dari pagi hingga malam di lapangan futsal dekat rumah.
Keluarga kecil Bruno tinggal di kawasan Vila Isabel, Rio de Janeiro, Brasil, tak jauh dari Stadion Maracana yang berkapasitas 75 ribu penonton. Anak-anak di bawah 12 tahun seperti Bruno digratiskan menonton. Dari situlah Bruno segera jatuh hati kepada sepak bola.
Adapun kehidupan Bruno kecil, terbilang sederhana. Ibunya penjaga toko, ayahnya sopir taksi bernomor 039. Armada kuning itu berkeliling kota karnaval Rio siang maupun malam.
Pernah suatu Sabtu atau Minggu, Bruno berlatih di lapangan futsal seharian di gedung olahraga dengan perut lapar. Ia menemui ibunya.
“Mom, belikan hamburger lagi untukku. Aku masih ingin bermain bola,” pinta Bruno setengah memohon.
“Tidak.”
Bruno tak mengerti mengapa ibunya menolak. Baru bertahun-tahun kemudian, ia tahu ibunya selalu berutang di kios hamburger dan baru bisa melunasinya pada akhir bulan. Bruno kecil pun terbiasa berlatih bertemankan roti ham keju murah dan minuman sari buah Guaravita.
Bruno berlatih futsal di bawah asuhan seorang pelatih lokal bernama Mario Jorge. Pada hari-hari lain, ia bermain bola di jalan seraya membayangkan Ronaldinho, pemain idolanya. Tubuhnya yang kurus mengisi posisi sayap. Sayangnya tidak ada yang istimewa dari permainan Bruno dibanding anak-anak seusianya.
Bruno sudah berusia 12 tahun ketika mengikuti seleksi di klub Botafogo di Rio. Ditolak. Ia lalu mencoba ke klub Fluminense yang harus ditempuh dengan bus selama dua jam. Lagi-lagi ditolak.
Hati remaja itu berantakan. Bruno mulai berpikir sepak bola hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Namun setiap kali ingin berhenti, ibunya selalu menceritakan kisah Cafu. Pemain tim nasional Brasil itu pernah berkali-kali ditolak klub sebelum menjadi legenda.
"Jangan menyerah, Nak. Kamu tahu impianmu," ucap ibunya memberi semangat.
Bruno tersadar. Ibunya yang dulu ingin dia menjadi perenang kini justru mendukungnya.
Pelatih futsal Mario Jorge akhirnya mengubah posisi Bruno sebagai gelandang bertahan. Jorge membawanya ke klub lokal Audax Rio. Bruno yang berusia 13 tahun diterima tanpa seleksi pada 2010.
Dua tahun kemudian atau pada 2012, Bruno direkrut Audax Sao Paulo. Anak tunggal tersebut harus hidup sendirian di kota sejauh 430 kilometer dari rumah. Ayahnya mengantar dengan taksi kuning nomor 039. Mereka berkendara selama enam jam.
Bruno tinggal di sebuah asrama sempit berisi 18 tempat tidur bertingkat. Ia tak berhenti menangis pada malam pertama. Sialnya kamar Bruno sering diserang tikus. Ia pun menelepon dengan ponsel murah yang dibelikan ayahnya.
“Mom, belikan aku tiket bus. Aku mau pulang,” rengek Bruno.
Ibunya menjawab pelan.
"Tenang, Nak. Sebentar lagi kita akan bersama lagi. Ini impianmu. Inilah yang benar-benar kamu inginkan."
Kedua orang tua Bruno, Marcia dan Dick, berkunjung setiap akhir pekan ke asrama. Mereka datang naik taksi nomor 039. Bruno tinggal di asrama klub di Kota Sao Paulo selama tiga tahun. Usianya sudah 17 tahun pada 2014 namun kariernya tidak juga bersinar.
Penghasilan Bruno dari klub bahkan hanya R$400 (Real Brasil) per bulan. Padahal tagihan ponselnya saja sudah R$100. Bruno yang mulai dewasa berpikir realistis. Apabila sampai usia 18 tahun belum mendapat kontrak profesional, ia akan menjadi sopir taksi seperti ayahnya.
Hanya tinggal beberapa bulan sebelum Bruno benar-benar mengikuti ujian SIM, pelatih klub Fernando Diniz memberi kesempatan. Bruno masuk skuad dan bermain di liga Negara Bagian Sao Paulo.
Bruno memang bukan pesepakbola yang lahir dengan bakat seperti Neymar atau Vinicius Jr. Modalnya hanya satu yaitu terus bekerja keras. Namun berkat itulah ia dipinjamkan ke klub Athletico Paranaense pada Mei 2017. Bruno segera menelepon ayahnya.
"Dad, aku sebaiknya memakai nomor berapa? Apa nomor 97 saja karena aku lahir tahun 1997?"
"Bagaimana kalau 39? Itu lebih dari sekadar angka. Nomor 039 telah memberi kita rumah, makanan, perabotan, dan sepatu bolamu,” jawab Dick Moura di ujung sambungan.
"Ide yang bagus, Dad. Nanti aku tanyakan apakah nomor itu masih tersedia."
Bruno menyelesaikan tes medis dan berbagai proses administrasi lalu pergi ke ruang ganti. Seragam sudah tersedia di sana lengkap dengan nomor punggungnya. Bruno membuka tas perlengkapan latihan dan terkejap. Nomor seragam itu 39.
"Kalau kamu tidak suka, kami bisa menggantinya," tutur petugas klub yang mengantarnya.
"Tunggu. Kalian sedang bercanda?”
"Tidak. Nomor itu memang kosong. Kalau tidak suka, kami akan menggantinya,” bantah petugas tersebut.
"Tidak. Ini sempurna," jawab Bruno masih dengan wajah tak percaya. Ia pun menangis sesenggukan.
Satu setengah musim di Athletico Paranaense, Bruno memenangkan kompetisi antarklub terbesar kedua di Amerika Selatan, Copa Sudamericana, pada penutup 2018. Juninho meneleponnya dan mengajak Bruno bergabung ke Lyon pada musim dingin 2020. Mengenakan nomor 39 di klub Prancis itu, Bruno tampil di semifinal Liga Champions. Ia akhirnya berlabuh di Newcastle United bersama seragam nomor 39.
Dalam artikel autobiografinya di The Players' Tribune, Bruno menceritakan keajaiban nomor 39. Ia mengatakan angka itu seperti aneh bagi pesepakbola.
“Tapi bagiku, angka 39 itu istimewa, bahkan lebih dari itu. Angka ini ajaib. Nomor 39 telah memberikan segalanya dalam hidupku. Nomor itu membawaku sampai ke Newcastle. Nomor itu memberiku makan, memberiku pakaian, dan membiayai perjalanan bus selama tiga jam demi mengejar mimpiku. Ya, 039 adalah nomor armada taksi milik ayahku di Rio de Janeiro.” (*)
(Catatan: dramatisasi minor sengaja ditambahkan, bertujuan memudahkan pembaca mengikuti narasi)
FOTO: Bruno bersama kedua orang tuanya dan taksi 039.
Senarai Sumber
Guimarães, Bruno. 2023. The Taxi Driver. The Players' Tribune.
Newcastle United FC. 2022. "If You Don't Have Ambition, You Have Nothing" – Bruno Guimarães Interview. Newcastle United – Bruno Guimarães Interview (17 April 2022)
Newcastle United FC. 2023. Bruno Guimarães Programme Interview 23/24. Newcastle United – Programme Interview 23/24
ge-globo. 2019. Coincidência ou destino? A história de Bruno Guimarães com o número 39 no Athletico.
THE GAME
THE DOCUMENTARY III (ALBUM) 💿
FEATURES:
👤 DRAKE
👤 YE
👤 LIL WAYNE
👤 SNOOP DOGG
👤 PARTYNEXTDOOR
👤 YG
👤 LARRY JUNE
👤 TYGA
👤 LEFTY GUNPLAY
👤 BLACK THOUGHT
👤 DRAKEO THE RULER
👤 AZ CHIKE
➕ MORE
🚨OUT NOW🚨
Arsenal will really stroll to consecutive Premier League titles this season, at least Liverpool pushed Manchester City to the brink. There's no team to even challenge Arsenal atm.