💯
krn sepengalaman gue yg bahkan blm pernah living abroad, tapi dari kecil nomaden, pindah kota, provinsi,sampe pulau, udh bisa ngasih bnyk bngt perspektif tntng cara gue melihat dunia ini.
dan ini suatu development yg impactnya real dan sangat berguna buat diri gue.
Sejujurnya gue gak tau ini tulisan akan mengarah ke mana, hanya pikiran random jam 2 pagi setelah melihat demo seharian tadi. If you have time silakan baca or feel free to skip.
Gue tumbuh besar di lingkungan yang sekitarnya penuh dengan kemiskinan. Gue sendiri berasal dari keluar yang biasa-biasa saja, mungkin hanya sedikit lebih beruntung dari yang lain.
Orang-orang hidup dengan serba kekurangan. Boro-boro punya tabungan atau rencana masa depan, besok pun belum tau gimana caranya dapetin makan. Segala macam cara dilakukan untuk bisa dapat uang tambahan.
Dulu kalo pagi suka ada tetangga nenek-nenek, namanya Romlah, sering datang ke rumah bawa jualan kayak jajanan kue atau gorengan, kalo siang ke sore dia lanjut pergi ke sawah. Beliau rajin banget, tapi anak-anaknya pun tetap harus putus sekolah.
Ada juga ibu-ibu tetangga yang buka jasa cuci baju, namanya Bu Sop. Orang di kampung gak punya mesin cuci jadi nyucinya masih dikucek sendiri manual. Beliau meninggal dunia karena penyakit kronis dan tidak punya biaya untuk rutin berobat.
Pengangguran ada banyak, yang putus sekolah banyak, yang sampai ke perguruan tinggi cuma sedikit sekali. Semuanya terhambat masalah ekonomi. Semuanya terjebak dalam kemiskinan struktural.
Yang hidupnya nyaman dan berkecukupan bisa dihitung jari. Gue termasuk yang berkecukupan, tapi tetap ga bisa seenak jidat minta macem-macem ke orang tua. Kalo pengen sesuatu biasanya harus nabung uang jajan sekolah dan beli sendiri.
Gue udah gak tinggal di lingkungan tersebut, tapi sampe sekarang gue selalu ingat betapa susahnya kehidupan orang-orang di sekitar gue dulu.
Sekeras apapun mereka berusaha dan bekerja mereka gak akan bisa keluar dari kemiskinan tersebut. Entah karena keterbatasan ilmu, kemampuan, atau akses ke informasi dan kesempatan.
Mereka gak punya kemampuan untuk mengubah nasib atau memperbaiki kehidupan. Mereka gak tau musti ngapain. Mereka cuma bisa pasrah. Mereka gak peduli siapa yang jadi pemimpin karena buat mereka, siapapun pemimpinnya toh hidup mereka ya begitu-begitu aja.
Di setiap masa pemilu, siapa yang bisa ngasih imbalan itulah yang akan dipilih. Mereka gak punya pilihan lain selain menerima.
Mereka adalah golongan yang rentan dimanipulasi dan dimanfaatkan.
Memang zaman sekarang orang sudah punya smartphone bahkan di daerah. Tapi teknologi tersebut tidak seimbang dengan kemampuan memilah informasi dan berpikir kritis. Belum lagi banyaknya media yang dikontrol, disensor, dan buzzer di mana-mana.
Kita, yang punya akses ke pendidikan yang lebih baik, yang mampu berpikir kritis, yang mengerti apa yang sedang terjadi di atas sana, yang bisa melihat kebohongan dan tipu muslihat, adalah wakil mereka.
Suara kita adalah suara mereka.
Perjalanan mungkin masih panjang, kita mungkin masih butuh banyak belajar, tapi gapapa pelan-pelan aja. Gue tau sangat mudah untuk merasa frustrasi dan putus asa di situasi seperti ini, tapi kita gak bisa buang harapan.
Bareng-bareng yok.
----------
Even if I have to die, I will use the only voice I have to make some noise.
Menurut gue, aksi di sekitaran Bundaran HI, apalagi berdiri massa nya di sederet gedung UOB, Menara Blu dan Menara BCA tuh lumayan mengubah perspektif orang awam apalagi yg ga kuliah PTN (dan PTS) di Jabodetabek...
Soalnya tadi gue denger sendiri, ada mas2 di trotoar depan UOB, kemeja kantoran rapih, nonton aksi, tapi ga berani ke jalan, ybs bilang
"Oh sbnrnya demo mahasiswa tuh ga rusuh ya, pada tertib tuh disuruh mundur dikit pada mundur. Jadi sbnrnya yg rusuh tuh siapa yak?"
Nahh
kita dicegat. didorong. mereka ga memperbolehkan kita masuk ke Bundaran samsek karena “mengganggu aktivitas masyarakat”. Emang kita mahasiswa apaan? Pisang ambon???
Once seen as the darling of Southeast Asia, government policies under President Prabowo Subianto appear to be slowing Indonesia’s economic rise https://t.co/QDqdy9ovll
patut dicurigai permainannya:
pertama, stok batubara masih sangat melimpah, tapi stoknya sengaja diekspor ke luar negri.
kedua, hasil ekspor batubara mendatangkan banyak dollar ke dalam negri, akhirnya rupiah mulai menguat.
ketiga, pemerintah jadi pahlawan karena bisa mengatasi lemahnya rupiah.
kesimpulan, rakyat tetaplah jadi korban blackout, industri rumahan terganggu, dan ekonomi macet.
mafia tambang menang, yang kalah seluruh rakyat indonesia, dan embege akan masih jalan.