ternyata bener ya, hidup ini jauh lebih tenang ketika kita tahu batasan. not everything needs our attention, not everything deserve our energy. ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan berlalu, tanpa perlu didengar, dilihat, ataupun dibahas. cukup bodo amatin aja dan bye
Hidupmu cerminan sholatmu :
1. Hidupmu se-berantakan Subuh mu
2. Gelisahmu se-berantakan Dzuhur mu
3. Marahmu se-berantakan Ashar mu
4. Sedihmu se-berantakan Maghrib mu
5. Dan Lelahmu se-berantakan Isya mu
“Pada kenyataannya semua hal yang terjadi dalam kehidupanmu adalah tentang bagaimana sholatmu”
Inilah yang disebut “gaji berapapun akan selalu cukup,” krn kita akan selalu nemu cara untuk survive tapi efeknya apa? Hidup pas-pasan, gizi dan nutrisi terganggu, dan akhirnya gampang burnout.
Kalau ngeluh burnout, dibilang manja.
Eropa bisa punya work-life balance tinggi bukan karena mereka lebih “manusiawi”.
Tapi karena mereka 'pintar' mendesain sistem global.
Mereka outsource hampir semua pekerjaan kotor, berat, dan repetitif ke negara berkembang, termasuk Indonesia🙏🙏
Pabrik sepatu Nike, Adidas, HP Samsung, software perusahaan Jerman, customer service bank Prancis, sampai akuntansi perusahaan Belanda…
Semuanya dikerjakan oleh "tangan-tangan murah" di Asia dan Afrika.
Mereka dapat hasilnya. Kita dapat upah minim dan polusinya🙏😑
Jangan bilang ini konspirasi yaa.
Ini hasil dari Teori Comparative Advantage yang diajarkan di sekolah ekonomi.
Eropa fokus di desain, inovasi, branding, dan keuangan (pekerjaan bernilai tinggi).
Kita dikasih pekerjaan assembly, call center, dan produksi massal (pekerjaan bernilai rendah).
Ya.. hasilnya gini..
Mereka dapat libur panjang, gaji tinggi, dan jaminan sosial mewah.
Kita? Tetap jadi “pabrik dunia” yang kerja keras tapi dapat remah-remahnya doang!
Global Value Chain yang katanya “saling menguntungkan”...
Pada kenyataannya sangat timpang!
Yang perlu ditanyakan.. berapa lama lagi kira2 kita mau jadi “pekerja murah” bagi negara kaya yang sedang 'berjemur di pantai, sambil minum es kelapa' itu.. ?
Jujur, gua gak paham juga ya, ini ranahnya bukan orang biasa lagi yang bisa ngubah ini.
Setinggi apapun level pendidikan & akademik orang, kalo jalan tanpa kemampuan bersosialisasi sama empati, jadi tai. Prabowo itu pinter, pendidikannya bukan maen, menguasai 5 bahasa asing, tapi pidato nya ga lebih bagus dari anak sekolahan, karna apa? Ga ada empati.
Jujur, ketakutan terbesar gue itu hidup tapi gak bermakna isinya beneran cuma kerja, kerja, dan kerja.
Atau intinya gak bisa menikmati hidup seutuhnya. Gak punya experience lain di luar kerjaan.
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah