Kronologi memalukan yang perlu lo semua tau:
Sabtu 27 Sept 2025, wartawan CNN tanya Prabowo soal keracunan MBG (6.452 anak jadi korban per data JPPI). Prabowo jawab. Selesai.
Tapi nggak bagi Istana. Malamnya, jam 19.15, petugas BPMI mendatangi kantor CNN Indonesia dan mengambil langsung kartu pers Diana Valencia.
Alasannya? Pertanyaannya "di luar konteks agenda."
Ribuan anak keracunan makan siang subsidi triliunan rupiah itu di luar konteks?
Mensesneg Prasetyo Hadi, yang notabene jubir presiden dan atasan BPMI, cuma bilang: "ya kita cari jalan keluar terbaiklah."
Kartu baru dikembalikan Senin setelah viral dan Dewan Pers, AJI, IJTI, LBH Pers semua kompak ngecam.
Jadi begini cara kerjanya: sensor dulu, minta maaf kalau ketahuan.
Dan orang yang harusnya jaga kebebasan pers di Istana , Mensesneg , malah nunggu viral dulu baru gerak.
Ini bukan salah prosedur. Ini refleks kekuasaan.
Sumber :
https://t.co/wSaybZBylw
https://t.co/Z0EbiuajFn
https://t.co/BMzQi5VBjv
https://t.co/3HH3Nu2UeT
Mengganti Dadan dengan Naniek, atau bahkan dengan Elon Musk sekalipun, tidak akan menyelamatkan negara ini dari dampak buruk MBG sebagai beban fiskal negara.
Satu-satunya jalan yang masuk akal adalah mengevaluasi MBG secara total, lalu merancang ulang dari nol.
Selama fondasinya keliru, pergantian figur hanya menjadi kosmetik politik, sementara kita akan tetap menanggung biaya dari kebijakan yang salah sejak awal.
februari lalu celios udah ngitung berapa duit negara yg berakhir jd sampah makanan MBG.
tapi ga ada yg peduli 😅
dlm seminggu kalau dihitung bisa ada 100 juta+ porsi MBG yg dibuang, dan itu nilainya setara Rp 1.27 triliun.
Rp 1.27 triliun seminggu cuma jadi sampah.
padahal dengan uang sebanyak itu, kita bisa membangun ratusan puskesmas atau memperbaiki sekolah-sekolah reyot di pelosok negeri, daripada jadi sampah 😹
Mau dikatain Anak Abah, anaknya lulusan UI. Dikatain Anak Ganjar, anaknya lulusan UGM. Kampus top semua.
Atau gak dikatain mirip junjunganmu. Dimiripin Pa Ganjar, hobinya marathon. Dimiripin Pa Anies, hobinya baca buku. Hobinya bagus semua.
Padahal diskusinya bkn soal tataran siapa nama pemimpinnya, tp apa kebijakannya.
Kalau emang semua kebijakannya top global terbaik dan ekonomi sehat alam terjaga, mau sinchan yang jadi pemimpin jg w gamasalah.
“Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat”
Ku artikan dalam bahasa bayi:
“Ehhhh lu siapeeee ngomong Dino karbitan gara2 jadi pejabat cuma 3 bulannnn? Dia mah kapabilitasnya udah teruji, semua org tau dia hebat. Emangnye eluuuuuu, newbie tapi sok ngerasa superior, naik jabatan juga gara2 jilat penguasa, sok ngatain Dino karbitan 🤭🤭 “
Kalian yg minta kalo kritik itu harus baik, beretika dan memberikan solusi. Apa yang disampaikan Pak Dino itu sudah sangat baik, halus, sopan, beretika, dan terstruktur serta memberikan saran dan solusi sesuai yg kalian mau. Sekarang masih tetep dianggap ga beretika. Intinya memang kalian itu enggan menerima kritik.
Saya udh ga tau harus komen apa lagi sama pejabat2 di negara ini. Dikritik keras salah, dikritik baik salah. Maunya semua orang dukung.
Prabowo 53 kali ke luar negeri dalam 20 bulan, tapi buat nerima surat kepercayaan Dubes asing yang datang ke Jakarta aja susah ngatur jadwal.
Dino Patti Djalal , mantan Dubes RI untuk AS, orang yang hidupnya di dunia diplomasi , baru aja posting: ada 17 Dubes asing yang udah tiba di Jakarta tapi masih NUNGGU presiden.
Ada yang nunggu sampai 8 bulan. Termasuk dari negara ASEAN , tetangga sendiri.
FYI: selama belum serahkan surat kepercayaan, Dubes belum bisa kerja resmi.
Ini aturan internasional baku (Vienna Convention). Bukan protokol sepele.
Jadi "diplomasi aktif" yang diklaim itu: rajin keliling dunia, tapi Dubes yang datang ke rumah sendiri ditelantarin berbulan-bulan.🤷♂️
Bukannya ga percaya ke LN pakai dana pribadi, Pak.
Cuma, terakhir kali bilang pergi2 pakai pesawat pribadi, saya cek di LHKPN Bapak, ga ada tuh aset berupa pesawat.
Bapak catat pesawatnya di perusahaan mana?
Kalo pemakaian pribadi apa tetep didepresiasi dan beban operasionalnya diakui di perusahaan tsb untuk ngurangin penghasilan kena pajak?
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
Anjir ga punya malu banget nyebut pelepasan WNI yang sempet diculik Israel sebagai pencapaian diplomasi si wowo dan sugiono padahal sugiono sendiri yang denial dan bilang waktu itu bahwa mereka TIDAK diculik.
Buktinya aja lah.. nilai tukar rupiah terus melemah. Statemen goblok soal orang desa nggak pakai dollar, apa benar nggak ada pengaruhnya tuh melemahnya rupiah gak ngaruh ke orang desa? Apa benar gelombang PHK gak mengancam.
Terus kita harus telan nih foto dan infografis lo!!!!
Habiburokhman Ke Dino Patti Djalal :"Jangan jadi si Paling KEMLU. Saya pikir gak ada ISTIMEWAnya juga Pak Dino"
Gila banget ini rezim, dikasih nasehat baik² bahkan dengan bahasa paling haluspun, kubu wowo serempak kesurupan..
Ini sekelas Pak Dino lho, gimana kalo rakyat, ya udah disiram air keras kalo gak diculik? 🙄
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.