Gue sih gak masalah lu mau ngaku trans lesbian kek trans tv kek trans former kek, gak masalah, itu pilihan pribadi lu. Tp klo bersikeras menginvasi ruang2 paling privat perempuan sejak lahir ya apa bedanya lu sama zionis?
Kata aku banyak muslim di Indonesia yg masih perlu belajar memanusiakan manusia, menghargai perbadaan, belajar duduk di 1 forum dgn banyak org dg berbagai perbedaan. KELUAR DARI BUBBLE. Belajar agama & be a good servant of Allah tp belajar respectful towards other people too pls
Menurut gue sih, mereka salah. Tapi reaksi kampusnya juga berasa kebablasan. Orang ciuman di perpustakaan, bukan korupsi dana kampus.
Yang bikin gue lebih concern justru efek domino setelahnya. Nama udah tersebar, keluarga kena imbas, pertemanan berubah, masa depan akademik bisa berantakan. Hukuman selesai dalam hitungan bulan, tapi jejak digital dan stigma bisa nempel bertahun-tahun.
Kalau sampai beneran DO, ya semoga mereka bisa lanjut kuliah di tempat lain, beresin hidup pelan-pelan, cari kerja yang baik, dan move on. Kadang satu-satunya cara buat mulai dari nol adalah pergi dari lingkungan yang udah keburu ngecap lo seumur hidup karena satu kesalahan.
Boleh kasih sanksi. Tapi kalau sampai hidup dua orang harus dihancurin demi jadi efek jera, itu namanya bukan edukasi lagi, tapi tontonan.
gue pribadi nggak membenarkan public display of affection yang berlebihan di area kampus, regardless of sexual orientation. mau itu pasangan heterosexual maupun homosexual, kalau sampai making out di ruang publik kampus ya memang bisa dianggap melanggar norma atau aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. tapi yang bikin gue nggak nyaman adalah apa yang terjadi setelahnya.
mereka direkam tanpa consent, videonya disebarkan, diarak, dijadiin tontonan, bahkan sampai di-live di tiktok and instagram. orang tua nya dipanggil, ada sidang, lalu muncul tekanan publik dari sebagian mahasiswa agar mereka di drop out. honestly, that feels way too much.
kalau memang ada pelanggaran, kampus punya mekanisme sendiri untuk nanganinya. kasih teguran atau sanksi sesuai aturan yang berlaku. tapi ketika seseorang dipermalukan di depan banyak orang dan dijadikan konsumsi publik, itu tuh udah mulai bergeser dari penegakan aturan menjadi public shaming.
dan menurut gue kita juga harus jujur melihat konteks yang lebih besar. indonesia memang bukan negara yang ramah sama komunitas homoseksual. karena itu, kasus seperti ini sering kali tidak hanya dipandang sebagai persoalan perilaku di ruang publik, tetapi juga bercampur dengan sentimen terhadap orientasi seksual mereka.
again, gue nggak sedang membela tindakan PDA di kampus. tapi gue juga nggak setuju kalau pelanggaran tersebut dijadikan alasan untuk mempermalukan seseorang secara massal. a rule violation should be handled through proper procedures, not through humiliation.
the punishment shouldn't become a public spectacle. Karena ketika tujuan utamanya udah bergeser dari penegakan aturan menjadi mempermalukan seseorang di depan umum, itu justru mulai terlihat seperti collective bullying daripada penyelesaian masalah.
at the end of the day, seseorang bisa aja ngelakuin kesalahan, tetapi mereka tetap manusia yang berhak diperlakukan dengan hormat dan bermartabat. accountability is important, but so is basic human dignity.
yg dipermasalahin itu adalah sentimen dan pergerakan lo pada ini terhadap kasus tsb, dibandingkan kasus yang jelas2 merugikan pihak lain seperti KS. di indo, jelas salah ciuman dlm kampus, tp apakah masa sebanyak itu akan ngumpul dan akan ada sanksi DO kalau hetero yg melakukan?
terserah mau bilang apa but tindakan gay di pnj itu udah diluar batas banget, pikir aje lu di tempat umum akademisi dan ini INDONESIA which is sensitif banget masalah queer, bukan masalah gay nya tapi masalah adab lo di depan umum, DAN LO MUSLIM.
Tindakan yangg dilakukan di institusi pendidikan tentu salah. Tapi merespon dengan persekusi, mengarak, menyumpahi mati, dan menghancurkan hidupnya tentu tidak pantas.
Sampai DO, kampusnya ada kasus KS? Jelas kriminal, di DO gak? Kalau straight couple di arak dan di DO gak?