“Saya menghabiskan belasan tahun meneliti tentang perlindungan sosial di banyak negara. Saya menyelesaikan S2 dan S3 saya di inggris. Tidak ada satu pun negara di dunia yg program makan bergizi gratisnya dilakukan oleh aparat keamanan. Dari semua program perlindungan sosial di seluruh dunia, MBG adalah program terbesar dari segi anggaran, inefisiensi dan potensi korupsinya, di seluruh dunia.”
Video ini adalah paparan paling clear soal kekacauan tata kelola embege. Kalo ada yg nanya “emang apa salahnya sih embege?”, cukup suruh nonton video ini.
Tahun 1977, jaman Orde Baru lagi galak-galaknya. Militer rajin bungkam suara kritis, org bisa hilang cuma gara2 ngomong.
Di tengah situasi kayak gitu, ada seniman gila namanya FX Harsono masuk ke Taman Ismail Marzuki bawa ratusan pistol warna pink, bagini ceritnya 👇
Yg lagi rame skrg..
Pemerintah daerah sedang gontok2an dg pemerintah pusat ttg anggaran..
Rakyat kecil...
Gelar tiker, nyemil kwaci...
Nunggu klo ada yg bilang, "lebih baik daerah Kami memisahkan diri saja & mengatur daerah kami yg Kaya SDA drpd cm jd sapi perah pemerintah pusat, & tdk tahu anggaran u/ apa & siapa"
(Umpaname)
🥱
Ada penggalan kalimat menarik di dua video ini.
Video 1: "Jadi menurutmu mas kalo wartawan gak kompeten?".
Video 2: "Maksudmu, ustad gak pintar?".
Nah, persamaannya kedua-duanya trmsuk straw man dlm kerangka cacat berpikir. Sdangkn perbedaannya, yg satu goblok natural, yg satu dibungkus dlm komedi.
Terdengar empatik, tapi bodoh.
Gini lho bu menteri, kecelakaan kereta itu nggak selalu tabrakan depan-belakang.
Jika terjadi anjlokan akibat masalah wesel atau patah rel, gerbong tengah yg justru bisa mengalami efek teleskopik yg juga sangat mematikan.
Lagian gini lho, ini soal crowd management. Gerbong khusus perempuan itu di ujung tujuannya membantu memisahkan arus penumpang laki2 dan perempuan sejak di peron stasiun. Jika gerbong khusus perempuan diletakkan di tengah, bakal sangat kacau saat jam2 sibuk.
Kalau solusinya cuma pindah gerbong, menjauhkan satu kelompok dari zona bahaya berarti secara menteri ini sangat sadar utk menempatkan kelompok lain (laki-laki dan penumpang umum) di zona maut.
Benar2 komentar nggak etis dalam konteks keselamatan publik. Bukannya ngepush utk meningkatkan standar keamanan, malah pindah gerbong.
Heran, anggota kabinetnya prabowo ini kok banyak banget yg nggak mutu dan absun kek gini.
Secara khusus, saya dan istri berdiskusi soal alasan di balik pertarungan Usopp dan Luffy.
Kondisi Going Merry memang “pemicu”-nya, tapi bukan itu akar masalahnya.
Bagi Usopp, Going Merry adalah manifestasi dirinya. Sesuatu yang dianggap “rusak” tapi tetap ingin dipertahankan.
“Kalau Merry yang rusak saja dibuang… apakah suatu saat aku juga akan dibuang?” Itu mungkin pertanyaan yang menghantui Usopp
Saya pun melihat konflik ini dari trauma Usopp di masa kecil. Saat ibunya tengah berjuang melawan sakit, tidak ada yang menemani kecuali anaknya, Usopp.
Begitu pun kondisi Merry yang terlihat “sakit” dan ditinggalkan begitu saja, sendirian. Usopp tak ingin itu terjadi, untuk kedua kalinya. Terlebih Going Merry adalah pemberian Kaya, perempuan yang berarti bagi hidup Usopp.
Trauma ini juga mungkin yang membentuk inferiority complex ketika melihat nakama lainnya yang punya peran penting. Usopp menganggap dirinya sering kalah, sering takut, dan merasa paling lemah.
Keputusan menggantikan Going Merry seolah membuktikan mereka yang lemah akan tertinggal dan ditinggalkan.
Di sisi lain… Luffy bukannya tidak punya ikatan emosional dengan Going Merry. Akan tetapi, ia adalah seorang Kapten yang juga memikirkan keselamatan nakamanya.
Mempertahankan Going Merry artinya membahayakan nakama dalam mengarungi lautan Grand Line yang ganas. Mempertahankan Going Merry berpotensi memupus mimpinya dan juga nakamanya.
Keputusan rasional Luffy sebagai pemimpin itu bertabrakan dengan luka emosional Usopp. Di titik ini, Usopp tahu akan kalah, tapi dia memilih bertarung.
Persis seperti budaya siri, Usopp bertarung untuk menunjukkan harga dirinya: dia tidak ingin pergi sebagai “yang dibuang”, tetapi sebagai orang yang memilih dan memutuskan untuk pergi.
Di titik ini, Usopp sejatinya tengah melawan dirinya sendiri. Luffy memang menang secara fisik, tapi Usopp berhasil mengalahkan dirinya sendiri dan mempertahankan martabatnya.
Terbukti di Enies Lobby Arc, Usopp sebagai Soge King menunjukkan peran dan eksitensinya yang berharga. Inferior Complex-nya mulai terkikis saat bisa menembak jarak jauh di tengah angin kencang. Tembakan yang juga membebaskan Nico Robin dari borgol yang melemahkannya.
Selain itu, Luffy pun menunjukkan sisi emosional bahwa jauh di dalam dirinya, Going Merry adalah nakama yang ingin dipertahankan. Usai berhasl kabur dari Enies Lobby, Luffy benar-benar berharap Going Merry yang terbelah dua itu bisa diselamatkan.
Pada akhirnya, Merry pergi bukan karena gagal atau rusak, tetapi karena ia telah menunaikan seluruh perjalanannya dengan utuh.
Dan mungkin, dalam hidup kita sendiri, ada hal-hal yang juga seperti itu. Ada hal-hal yang datang bukan untuk selamanya. Mereka datang untuk mengajarkan kita arti bertahan dan makna mengikhlaskan.
Dulu lagi nunggu CD di 'burn' ngebatin
"Kenapa namanya Nero ya?"
Liat logonya dan baca tulisan bawahnya.
'Nero burning Rom'
Burning Rom..
Jawabannya depan mata.
Orang kaya hampir selalu merasa punya hak moral untuk mengatur hidup orang miskin.
Kalo orang kaya berselingkuh, itu urusan privat.
Kalo orang miskin jatuh cinta, itu dianggap sembrono.
Kalo orang kaya gagal, itu “fase belajar”.
Kalo orang miskin gagal, itu bukti kemalasan.
@dick76083 Fafifu ngomong meritokrasi tapi info di gambar aja salah ataupun misleading. Wilson ga punya college degree tapi ya DOnya dari Oxford 😂. Lalu disebut ga pernah kerja, padahal dia bahkan pernah nukang jadi kuproy 👷♀️.