better dengerin oppa nassar atau ka kev npd aja tis, vokalisnya problematic dan cabul yg ini hehe ✌🏻 lagu dia bagus bgt semuanya, tapi sejak tau track records nya jadi lost respect jujur
Guys...
tanggal 25.
Hari gajian.
Dan entah kenapa rasanya berat banget.
Notifikasi masuk. Rp3.200.000.
Seneng 3 menit.
Menit ke-4 kos 1,2 juta.
Menit ke-5 transfer ke Mama 500 ribu.
Menit ke-7 WiFi listrik cicilan.
Menit ke-10 beras minyak sabun makanan kucing.
Sisa 300 ribu.
Buat 30 hari.
Sehari 10 ribu.
Dan itu semua selesai sebelum jam 10 pagi.
Gaji datang ngasih harapan, pulang ninggalin tagihan sama Indomie.
Yang bikin makin sesak adalah malamnya. Jam 2 dini hari, kipas angin nyala tapi yang muter malah otak. Gimana kalau sakit.
Gimana kalau motor rusak.
Kos bulan depan naik ga ya. Temen ngajak nongkrong bilang ga ada duit dikira ga solider.
Umur 27 tabungan masih nol sementara FYP isinya orang umur 22 udah punya 100 juta pertama.
Banting HP ke kasur.
Di kos sendirian.
Yang nemeni cuma kucing sebelah yang ngeong minta makan.
Dikasih wet food 5 ribu.
Kucingnya kenyang tidur pules.
Dia sendiri laper tapi ga berani pesen GoFood karena 10 ribu itu jatah makan besok.
Dan waktu Mama nelpon nanya uangnya cukup apa nggak...
"Cukup Ma."
Jawab cepet.
Sambil ngitung dalam kepala nasi sama garam aja cukup ga buat besok.
Bohong "cukup" ke Mama itu menetap.
Setiap bulan.
Dan overthinkingnya juga ikut menetap.
Guys capeknya hidup kaya gini bukan di kantor.
Tapi di tanggal 26 sampai tanggal 24 bulan berikutnya. Pas harus senyum padahal rekening tinggal doa.
Tapi dia masih bangun besok.
Masih kerja lagi.
Masih nyisihin 5 ribu buat kucing sebelah.
Buat siapapun yang relate sama cerita ini, kalian ga gagal.
Kalian udah luar biasa bisa sejauh ini dengan kondisi yang sekeras ini.
Besok coba lagi ya.
Satu hari sekali.
Terlalu lama hidup susah sampe makan sate 10 tusuk sendiri kerasa aneh, tiap makan di resto kerasa boros, traveling tiap 3-6 bln sekali kerasa foya2. Ini efek hidup miskin dari kecil, pas udah kerja ngerasa gak bisa manage uang. Padahal gw cuma hidup LAYAK.
thissss☝️😭
"jangan hedon" "jangan boros" meanwhile boros yg dimaksud cuma makan cukup, angka kebutuhan gizi terpenuhi, tempat tinggal nyaman & bersirkulasi baik.
Sebenernya kita ga boros ges, emg negaranya miskin aja sampe standar hidup minimum jadi kayak boros.
guys sumpah kalau lagi stress, mumet, atau pikiran chaotic banget….
GO OUTSIDE! muter-muter komplek, jajan ke indomaret, jogging sore, atau cuma jalan kaki sambil denger musik.
beda banget rasanya dibanding diem di kamar doang~🕊️💯
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
barusan di jalan pulang, di lampu merah, ada bapak” bonceng anaknya, anaknya lagi nangis, terus bapaknya tbtb teriak “ANAK SAYA LOLOS KEDOKTERAN UGM” semuanya langsung noleh dan tepuk tangan ngucapin, anaknya tambah nangis, HER DAD MUST HAVE BEEN SO PROUD🤎🤍🥹🥹😭😭
Everyone felt sad for the penguin walking alone and the monkey rejected by his mother. But this video is far more heartbreaking, yet it didn’t receive the same attention.
di era orang-orang kenal di social media, dating apps. aku masih pengen ketemu special someone di pinggir jalan, minimarket, di resto, coffee shop dan tempat umum lainnya..