Fakta yg jarang dibahas di pekerjaan itu... nggak semua atasan nyaman punya bawahan yg terlalu capable. 🫣
Di awal, si bawahan memang terlihat ok. Kan bisa kerja cepat, hasil rapi, jarang perlu juga diawasi. Eh, pelan-pelan, berbeda..
Ketika si bawahan mulai paham gambaran besar, berani kasih masukan, atau bahkan bisa menjelaskan ulang keputusan atasan dgn lebih rapi, mulai...
Kadang ya, masalahnya ada di bagian ego dan posisi. Begini, ada atasan yg sebenarnya naik jabatan itu nggak melulu soal jago, bisa saja dia paling lama, paling loyal, atau sekadar “sudah waktunya”.
Nah, ketika muncul bawahan yg secara kapasitas terlihat lebih siap, atasan seperti ini sering merasa posisinya terancam (walau tidak pernah diucapkan terang-terangan ya).
Responsnya jarang frontal. Biasanya juga justru halus, semacam kontribusi bawahan dianggap “sekadar menjalankan tugas”, ide bagus dipakai, tetapi nama si bawahan selalu diblurkan, exposure dipersempit, akses ke meeting penting dibatasi, feedback selalu digantung, dll. ya, hehe.
Bawahan yg capable ini bisa juga nanti terjebak di posisi aneh; dia terlalu penting utk dilepas, tetapi terlalu berbahaya utk dinaikkan.
Satu hal lagi, si bawahan ini kerjanya makin berat, tetapi ruang bertumbuhnya makin sempit. Yg lebih menyakitkan, banyak yg menyalahkan diri sendiri.
Kamu ada cerita serupa? :)