Kupaksa letih terus tertatih, sekedar mengemis simpatimu yang tidak berbukti
Sebenarnya masih bisa ku kejar walau terseok menggeret tulang yang mulai patah
Tapi egois rasanya jika harus mencintaimu lebih daripada mencintai diri sendiri
Bahkan di tengah kejelasan bahwa kamu adalah kesalahan, aku masih menyelamatkanmu dengan meyakinkan keadaan bahwa kita hanya ketidaksengajaan yang tidak perlu untuk di lanjutkan. Padahal aku bisa membuktikan bahwa yang menacapkan pedang di dadaku adalah lenganmu
Sekarang kurusan atau gendutan? Apakah kulitmu berubak kecoklatan atau bahkan semakin bersinar? Bagaimana dengan gaya rambutmu? Bahkan aku ingin tau musik apa yang sedang sering kamu dengarkan
Kadang saya mengira bagaimana jika tuhan sibuk mengurusi ciptaan favoritnya? Merangkai kisah sempurna untuk para tokoh spesialnya? Bagaimana jika sebenarnya tuhan menciptakan aku untuk jadi figuran sekedar berjalan jalan menambah keramaian?