Menyaksikan inkompetensi pemerintah tanpa bisa berbuat apa-apa adalah sebuah siksaan. Hari ini mungkin masyarakat Sumatra yang paling merasakan dampaknya. Yang lain tinggal tunggu waktu aja.
With all the modern problems (AI misinformation, climate change leading to many more problems, etc) we face today, punya pemimpin yang pola pikir & cara kerjanya masih zaman orba, is the real disaster 🤯
Jahat is one thing.
Jahat dan nggak becus is another level 🤮
barusan abis donasi ke akun britaniasari di instagram, mereka kirim makanan real food siap makan yang diawetkan dengan metode retort (mirip ransum polri) untuk teman-teman kita di sumatera.
supaya korban gak konsumsi mie instan terus juga karena masih harus diolah sedangkan air bersih terbatas.
#intinyadeh Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo dpt ancaman pembunuhan.
"Kepala Balai Cabut Laporanmu atau Kepalamu Kami Cabut"
Kantor dirusak, motor petugas dibakar.
Luas kawasan TNTN yg 83rb ha, sisa 12,5rb ha yg masih hutan. Sisanya pemukiman, kebun sawit ilegal.
(1/2)
Sekitar 10 thn lalu aku posting orangutan yg kurus di kebun sawit. Aku dituduh dibayar Eropa buat kampanye gelap sawit.
Giliran udah banjir 3 provinsi gini baru pada sadar yg dikhawatirin orang lingkungan tuh bukan orangutan ama gajah doang, tapi juga keselamatan orang banyak.
udah bertahun-tahun di jkt juga tetep gondok kalau perjalanan ke kantor yg ga ada 30 km itu makan waktu 3 jam. 3 jam itu mah aku dulu dari rumah di gunungkidul ke kampus di solo PP. itu juga masih sisa waktunya. udah sempet jajan bakso bakar sama es teh kampul.
Btw, dua imbuhan di awal itu hal yang lumrah dan biasa. Tidak ada masalah dengan itu (Memberlakukan, memberdayakan, memperbesar, mentertawakan, keberhasilan, keberadaan, diperingati, diperbaiki, dll… dll…)
Trus, bahasa itu dinamis. Pemiliknya adalah para penutur itu sendiri. Kalau memang banyak penutur yang menggunakannya, saling paham, dan mereka nyaman, beres urusan.
Kehadiran “membersamai” anggap saja sebagai alternatif yang tidak akan menghilangkan kata “menemani” atau “mendampingi”, sama seperti “sahabat” yang tidak melenyapkan kata “kawan”, “teman”, “sobat”, maupun “sohib”.
Dari pengalaman kerjaku saat ini di perusahaan US, compliance buat perusahaan yg pakai AI untuk proses data itu jauh lebih ribet daripada proses data tanpa AI. Harus ada consent pemilik data, opt-out option, jaminan keamanan data, dsb.
Tapi di Indonesia, kenapa gampang banget ambil foto wajah orang lain tanpa consent?
Diproses AI pula dan tanpa garansi privasi!
UU PDP ada, tapi enforcement-nya mana?
Kalo kita mau data kita dihapus dari mereka gimana caranya?
Kalo data kita bocor ke pihak lain, hukuman untuk mereka apa dan kompensasi ke pemilik data seperti apa?
Kalopun akan dikasih opsi opt-out sekalipun, kalo udah terkait data biometrik kayak wajah sih harusnya tetep butuh consent si subjek nya dulu ya.
Bukan malah kebalik, mereka main foto aja wajah orang, terus jadi orang lain itu yg harus repot minta data dihapus dari mereka.
Komdigi tuh harusnya ngurus kasus-kasus kayak gini, bukannya malah ribet ngeblok fitur live tiktok pas massa demo kemarin.
Cape bgt pagi-pagi ngerant, tapi hopeless banget dah ini negara.
Masa hal kayak gini aja harus dikasih tau rakyatnya dulu?
Satu lagi komik buat memulai diskusi soal demo sepekan ke anak-anak. Tentu harus ada diskusi lanjutan, tapi minimal memantik rasa empati di awal. (1/2 👇🏼)
Perlawanan Masyarakat Indonesia melawan #polisipembunuh berdasarkan Tipe-Tipe Human Design
Save post ini sebagai panduan peran dan tugas yang sesuai dengan mekanik alamiku untuk melawan kekerasan
🚨 URGENT:
In Jakarta, Indonesia (28/8/2025) police brutality has led to a civilian killed after being run over by a Brimob vehicle
CCTV in the area has been shut off. Please help amplify this globally because the Indonesia government and police want to make this stay hidden