Almer, seperti biasa, merilis jersey terbaru buat Universitas Gajah Mada tahun 2026/2027.
Keren-keren semua tapi favorit saya yang krem. Kayak baju adat Jogja yang garis-garis/ lurik itu.
Gimana menurutmu? Suka yang mana?
YG HITAM PALING JOSJIS!
https://t.co/7yvBs2Nmlb
Kenapa?
Keren karena Grha Sabha Pramana
seakan menjadi sponsor,
diedit sedemikian rupa,
supaya ada huruf UGM jg disitu,
mantep Almer
mesti kreasi mas Wildan iki
#Kultuitjersi | #jersibagus
Tulisan kali ini akan menjadi sedikit lebih panjang dari biasanya. Izin, guys!
Sebagai bobotoh, ada rasa jengkel pas liat jersey KW Persib yang langsung "beredar", bahkan sebelum jersey resminya sempet dipegang banyak orang. Tapi kalo difikir ulang, hal tersebut malah jadi munculin pertanyaan "kenapa fenomena KW-an ini seakan terus berulang?"
Di era multiplatform seperti sekarang, selain karena ada kelalaian di rantai pasok, rasanya cara algoritma platform yang nempatin "penjual resmi" dan bajakan jadi setara, sampe realita ekonomi informal yang bikin siklus kaya gini tuh kayanya nyaris dan mustahil diputus cuma dengan menindak satu-dua penjual aja.
Kita coba sedikit bedah dari sisi produsen KW.
Produsen KW jelas gak perlu lewat proses produksi resmi, quality control, atau approval dari klub dan apparel partner sebelum bisa jualan. Mereka tinggal nyontek foto official, upload, live. Meanwhile produk resmi kudu lewatin rantai pasok yang jauh lebih panjang sebelum akhirnya nyampe ke toko, dan tangan pembeli.
Buktinya kan keliatan banget. Jersey KW-nya Persib bisa nongol cepet di live TikTok Shop, bahkan MUNGKIN sebelum toko resmi sempet naikin listingnya sendiri, mereka udah punya stock yang cukup buat dijual. Ditambah lagi, algoritma di platform kaya TikTok Shop dan Shopee juga gak dirancang buat bedain mana yang resmi dan mana yang bukan.
Hal ini secara gak langsung jadi obstacle buat seller resmi. Karena pada akhirnya yang paling cepet sama yang paling murah yang secara spreading bisa jadi lebih luas.
Di sisi produksi, gambarannya lebih pelik lagi. Sebagian besar produsen dan penjual KW ini secara gak langsung bergerak di sektor ekonomi informal. Sektor yang nyerap lebih dari separuh angkatan kerja di Indonesia.
Buat sebagian dari mereka, hal kaya gini tuh jatohnya jadi personal. Jadi lebih ke gimana "keluarga bisa makan hari ini". Fakta pahit yang penting untuk dipahami, tapi juga perlu digarisbawahi kalo menjelaskan BUKAN berarti MEMBENARKAN.
Desakan ekonomi kaya begini tuh kayanya bisa sedikit ngejelasin kenapa suplai KW terus beregenerasi meski ditindak berkali-kali. Itupun enggak otomatis ngehapus fakta bahwa produk itu tetap mengambil untung dari hak cipta orang lain, dan alasan-alasan usang tersebut juga tetep gak otomatis bisa dianggap bener.
Apalagi kalo kita mau jujur, gak semua produsen KW itu dateng dari kondisi serentan yang yang kita kira. Terus juga, rasanya masuk akal buat punya asumsi kalo sebagian dari mereka tuh cuma manfaatin celah pasar aja, bukan bener-bener kepepet.
Dan supaya argumen soal KW yang secara tidak langsung bersinggungan dengan "kemiskinan struktural" jadi enggak terlalu gampang buat dipake sebagai jawaban tunggal, ada baiknya kita sedikit menengok ke "luar".
Di US, barang bootleg, dari jersey NBA/NFL sampe sneakers palsu, tetap masif beredar, sampai disita otoritas bea cukai sana pun dalam jumlah besar tiap tahun. Kalo kerapuhan ekonomi kelas bawah jadi alesan dan penyebab utama kenapa barang-barang begini tetep bisa melanglang buana seperti Universitas yang ada di jalan karapitan, mestinya fenomena ini nyaris tidak ada di sana. Bahkan di belahan dunia manapun. Tapi sayangnya, kenyataan di lapangan seringnya berbanding terbalik.
Artinya faktor ekonomi informal Indonesia ini bisa jadi memang memperbesar skala masalah, tapi bukan juga jadi akar dari masalah itu sendiri. Akar yang lebih universal ada di hal lain. Salah satunya adalah penegakan hukum kekayaan intelektual yang cukup lemah.
Tapi, kalo ditilik lagi pun penegakan hukum yang lemah itu juga gak bisa jadi alasan kenapa KW-an ini jadi bisa terus-terusan muncul sejak awal. Bisa jadi juga, hal tersebut jadi alasan kuat kenapa siklusnya kaya gak pernah beneran beres meski udah ditindak berkali-kali. Ruweeeet.
Kita berandai-andai dulu yuk! Semisal penegakan hukum di Indonesia bisa seketat di negara-negara dengan proteksi IP kuat macem negara-negara maju, kayanya kanal-kanal digital kaya live commerce yang di TikTok bisa ditekan secara signifikan.
Taaaaapiiii di jalanan, di pasar, di pedagang emperan sekitar stadion yang rame pas matchday, kayanya cara ngebredel pemaen yang bisa dilakuin secara daring tuh nyaris mustahil bisa ngejangkau semua aspeknya. Hukum tuh emang bisa dipake buat nutup satu pintu, tapi kadang jadi sulit buat nyentuh akar masalahnya.
Terus apakah social sanction bisa jadi solusi? kaya rasa malu kolektif yang terbentuk kalo ketauan pake KW-an?
Di satu sisi, ini terdengar masuk akal. Sampe akhirnya kita "dibenturin" sama kenyataan bahwa enggak semua pembeli KW tuh BERADA di posisi yang SAMA. Ada yang beneran kepepet secara ekonomi, ada juga yang mampu, tapi sekadar gak terlalu peduli. Kaya beli jersey cuma buat sekali pake pas nobar atau konvoi doang, bukan dipake buat jadi identitas kolektif di masyarakat.
Nah, kalau sanksi sosial ini dipake tanpa ngeliat kondisi ke semua pembeli, kayanya bisa beresiko bikin hierarki baru di dalam tubuh suporter sendiri yang tentunya kita semua gak mau buat itu terjadi.
Kaya siapa yang dianggap "bobotoh sejati" / adanya "tier" dalam perbobotohan cuma karena mampu beli yang asli, dan siapa yang dianggap kelas dua karena tidak.
*Karena sebenar-benarnya titel Bobotoh Tier 1 cuma dimiliki oleh bapak @rskuntowiyoga saja. Iziiiiiiiin 😂🤣🙏🙏
*Oke kembali ke laptop!*
Ironisnya, anggapan-anggapan tersebut justru jadi bentuk pemisahan kelas yang paling jelas terlihat dalam tubuh supporter sendiri. Identitas kolektif yang terbangun dengan semangat yang seharusnya soal kebersamaan lintas kelas ekonomi, malah berubah jadi soal siapa yang paling niat secara finansial.
Sebagai penutup mungkin pertanyannya adalah bukan "kenapa orang masih beli KW", tapi kenapa sistem yang mengelilingi perihal jersey ini, mulai dari kecepatan produksi resmi, cara kerja algoritma marketplace, sampe lemahnya pengawasan justru malah lebih mendukung jalan yang "salah" ketimbang jalan yang "benar".
Saya sepakat sama tulisannya Pak @rskuntowiyoga di akunnya yang bahas potensi loss-sell dari adanya Jersey KW ini.
Belio berpendapat kalo "Persib gak lemah di penjualan high-end". Justru tantangannya adalah gimana memaksimalkan segmen low-end dan menjaga supaya kebocoran yang sudah terjadi tidak terlalu berdampak banyak pada operasional secara menyeluruh.
Memaksimalkan stock SE bahkan sejak sebelum pengumuman resmi, spreading yang masif dan maksimal, hingga penetapan promo-promo khusus untuk SE biar yang KW ini penyebarannya bisa lebih sempit lagi. Jadi pas rilis resmi muncul, setidaknya yang SE ini stocknya mencukupi demand.
Hal tersebut kayanya bisa jadi salah satu cara selain memang dengan treatment melalui jalur legal yang tepat sasaran biar ekosistemnya jadi makin sehat, dan lebih baik lagi.
SALAH SATU JERSEY YG SAYA RANCANG DAN JADI FAVORIT SAYA JUGA
https://t.co/sbkc0LSEdP
mumpung masih ada,
silakan dibeli,
dari jenis collar, warna, pattern, dll
banyak sekali faktor makanya saya suka bgt jersey ini,
kudos to Almer jg!
#Jersibagus