Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
...Asli masih menangisi ini dari semalam.
Negara terlalu jahat terhadap Papua.
Ibu ini benar² mengalami perbudakan secara harafiah.
Bekerja 9 tahun sbg buruh sawit gaji 2jt/bln, gaji cuma cukup untuk makan.
Persis seperti budak pada zaman dulu yg cuma dikasih makan... (``,)
sedih banget…
guys tolong up kasus ini. gue selalu perih tiap berita ttg Papua. mereka disana bener bener jauh keadaannya dgn kita.
alamnya dikeruk habis habisan, tapi penduduknya miskin. ditembaki pula. yaAllah
Ada berapa hal yang bisa kita garisbawahi dari postingan mereka
1. Ada kata thin-skinned, alias berkulit tipis.
Kalau yg gw tahu, itu maksudnya mudah tersinggung.
Ya, The Economist bilang Presiden mudah tersinggung alias temperamental.
2. Lalu, The Economist bilang Prabowo harus siap sama unpalatable truths alias kebenaran yang menyakitkan.
Implikasinya, majalah ini menduga kalau Prabowo sering disuapin info manis dan nggak siap dengan info jelek.
3. Judul berita yang menyebut risky path, eroding finance and democracy.
The economist ingin pembaca mengetahui bahwa Indonesia berada di posisi yang rawan atas ulah presidennya sendiri.
Seperti apa ulah itu?
Pengkondisian oposisi, kebijakan MBG dan Kopdes dsb.
Kalau kelen sadari, hanya media asing yang berani nulis postingan kek gini. Media lokal mana sanggup. Bisa diganggu-ganggu mereka ntar.
Source gambar : VOI
Profesor Herawati Sudoyo, Pahlawan Bom Bali yang "dikalahkan" oleh tembok birokrasi negara sendiri. Lo bayangin, kepolisian dunia aja hormat sama beliau karena sukses bongkar identitas pelaku Bom Bali cuma dari serpihan DNA. Tapi pas di negaranya sendiri, nasib beliau dan timnya malah berakhir ngenes gara-gara urusan administratif.
Namanya Prof. Herawati Sudoyo, salah satu otak paling cerdas di Lembaga Eijkman. Pas kejadian Bom Bali 2002, beliau dan timnya kerja gila-gilaan buat identifikasi pelaku lewat sisa-sisa DNA di lokasi ledakan. Berkat beliau, kasus-kasus terorisme besar bisa terungkap secara ilmiah.
Di tangan beliau, Lembaga Eijkman jadi markas riset genetika paling bergengsi di dunia. Bukan kaleng-kaleng, ilmuwan luar negeri aja segan sama riset mereka. Tapi ya gitu, musuh terberat orang pinter di sini bukan virus, tapi birokrasi.
Plot twist paling pahitnya terjadi awal 2022. Lembaga bersejarah ini dibubarin dan dilebur secara paksa ke instansi riset baru. Alhasil? Ratusan ilmuwan dan peneliti elit dipecat massal dalam semalam cuma karena mereka bukan PNS.
Bayangin, orang-orang yang udah ngabdi puluhan tahun demi kemajuan sains Indonesia, disuruh angkat kaki cuma karena masalah dokumen status pegawai. Dr. Herawati dan timnya harus ninggalin laboratorium tempat mereka nyetak sejarah internasional.
Ini jadi bukti nyata kalau di sini, "surat sakti" birokrasi kadang lebih berkuasa daripada otak jenius yang diakuin dunia. Padahal kita butuh lebih banyak orang kayak mereka, bukan malah bikin mereka "patah hati" sama negaranya sendiri.
Respek buat Prof. Herawati dan para ilmuwan Eijkman. Mereka udah kasih yang terbaik buat Indonesia, meskipun akhirnya harus "menelan luka" gara-gara sistem yang kaku. Pahlawan sains yang sebenernya.🫡✨
URGENT: TESSO NILO DALAM BAHAYA, TESSO NILO DALAM BAHAYA , TESO NILO DALAM BAHAYA🚨
JANJI PEMERINTAH UNTUK MENGEMBALIKAN TESSO NILO JADI KAWASAN HUTAN YANG RAMAH AKAN SATWA CUMA SEKEDAR OMON OMON.
PEMERINTAH PEMBOHONG
PEMERINTAH PENDUSTA
PEMERINTAH KALAH SAMA MAFIA
Meski Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) telah menyita kebun-kebun sawit di Taman Nasional Tesso Nilo sejak 10 Juni 2025, tandan buah segar (TBS) dari kawasan konservasi itu tak berhenti mengalir ke pabrik-pabrik di sekitarnya.
Investigasi Mongabay membuktikan: truk-truk pengangkut sawit ilegal tetap beroperasi, menembus koridor perusahaan bubur kayu, melewati batas provinsi, hingga CPO-nya tiba di kilang milik korporasi besar yang mengklaim komitmen nol deforestasi.
Di balik rantai pasok yang panjang itu, satu benang merah tampak jelas absennya sanksi terhadap pabrik penerima. Selama pembeli tak disentuh hukum, permintaan terhadap sawit ilegal akan terus ada.
Para pegiat lingkungan dan pakar hukum mengingatkan: Satgas PKH punya kewenangan dan regulasi yang cukup untuk menindak pabrik-pabrik itu, namun hingga kini pilihan itu belum diambil. Tesso Nilo pun terus menyusut.
@dhanyindraswara Tentu ada rasa khawatir itu, tapi definisi suksesnya bukan menjadi sesuatu, melainkan membuat/berbuat sesuatu. Lebih khawatir saat dewasa tidak bikin apa2 daripada tidak jadi apa2. :)
Maka, jangan tanya pada anak kalau besar kamu mau jadi apa, tapi tanyakan apa karyamu nanti?
Makanya dalam islam juga wanita jangan berlarut-larut sedihnya, karena buat wanita.. sedih itu ga cuma emotional tapi physically
Ngaruh ke badan, pikiran, kesuburan, bikin auranya kusam, energy drowning. Karena ya, wanita diciptakan dari tulang rusuk makanya lebih sensitif.
Semoga semua wanita yang sedang bersedih dimudahkan urusannya ya,
Just us (women) and our allahumma inni audzubika minal hammi wal hazan
“Ya Allah aku berlindung padamu dari rasa sedih yang berlarut (ham) dan (hazan) rasa khawatir terhadap yang belum terjadi”
against the world
Sebagai alumni LPDP, berikut daftar pelatihan yang kami butuhkan agar gak culture shock:
- Academic writing
- Ikut International Conference & jurnal internasional
- Strategi cari funding buat riset, paper dan conference
- Pelatihan memasak (real wkwk)
- Self management, terutama menghadapi stress kuliah dan tugas yang numpuk
- Persiapan paska kampus, either sebagai dosen, karyawan, pebisnis, atau stafsus wkwk
etc etc
Intinya butuh pelatihan dari orang2 yang pernah menjalani itu semua.
ada artikel serem banget,
"..Ketika Kampus
Menjadi Pabrik..."
ditulis oleh Bondan Kanumoyoso, seorang sejarawan dan dosen dari FIB Universitas Indonesia.
Penulis mengkritik kebijakan pemerintah yang ingin menutup jurusan kuliah tertentu hanya karena dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini
Universitas adalah tempat untuk mengasah pemikiran dan intelektual, bukan sekadar pabrik yang memproduksi tenaga kerja untuk industri.
Masa depan sulit diprediksi, sehingga jurusan yang dianggap tidak laku sekarang bisa jadi sangat dibutuhkan di masa depan untuk mengatasi masalah sosial dan teknologi. Ilmu seperti sejarah, sastra, dan filsafat tetap sangat penting karena membantu masyarakat tetap kritis, berempati, dan memahami identitas bangsanya.
Kebijakan yang terlalu fokus pada pasar kerja dikhawatirkan akan membuat mahasiswa menjadi pragmatis dan membuat bangsa kehilangan sosok pemikir atau intelektual publik.
Penulis menyarankan agar pemerintah melakukan kolaborasi antarilmu dan memperbarui kurikulum, daripada langsung menghapus atau menutup jurusan tersebut.
inget banget dosen saya cerita pernah ikut proyek perbaikan jalan di salah satu daerah. dosen saya mengajukan bahan material terbaik yang masa pakainya panjang biar ga setiap tahun ada proyek perbaikan untuk menghemat anggaran daerah. tau ga apa tanggapan pemdanya?
mereka bilang jangan pake bahan yang bagus-bagus banget nanti kalo jalanannya ga rusak, kita ga akan dapat anggaran dari perbaikan jalan ini per tahunnya (jadi emang sengaja dipilih bahannya yg kualitas rendah biar tiap tahun ada proyek perbaikan jalan).
wess angell
bayangin lagi belajar bahasa Inggris. Udah hafal beberapa tenses, bisa bikin kalimat sederhana, terus langsung ngerasa, “wah, gue udah jago nih.”
Terus malah jadi “polisi grammar”, dikit-dikit ngoreksi orang lain 😅 ini klise banget.
nah, ada konsep menarik dari Martin A. Schwartz yang namanya productive stupidity. ini justru kebalikan dari rasa “udah jago” tadi. dia bilang, dalam proses belajar yang beneran dalam, ngerasa “bodoh” itu bukan tanda gagal, justru tanda kamu lagi maju.
dia ngebagi jadi dua. pertama, relative stupidity. ini yang biasa kita rasain di sekolah, ngerasa bodoh karena orang lain udah paham, kita belum. solusinya jelas: belajar lebih banyak.
kedua, productive stupidity. ini beda level. kamu ngerasa bodoh bukan karena kurang belajar, tapi karena kamu lagi masuk ke hal yang emang belum kamu kuasai sama sekali, bahkan kadang belum banyak orang ngerti juga.
Schwartz cerita, waktu dia mulai PhD, awalnya ngerasa pintar banget. tapi pas masuk lab, tiap hari malah ngerasa bodoh. And that's okay, karena dia lagi bener-bener masuk ke hal baru, bukan sekadar ngulang yang udah ada.
sekarang hubungin ke Dunning-Kruger effect. ini teori yang bilang orang yang masih pemula justru paling pede, karena belum sadar seberapa banyak yang mereka belum tahu. makin belajar, makin sadar, “anjir, ternyata gue masih jauh banget ya.”
Saat belajar English pun juga sama. awal-awal, baru bisa dikit langsung ngerasa udah jago. tapi pas mulai nonton tanpa subtitle, ngobrol sama native, baca konten asli, tiba-tiba malah ngerasa bodoh lagi. “kok mereka ngomongnya beda banget ya?” “ini idiom apaan sih?”
nah, ini justru fase yang bagus. artinya kamu lagi naik level.
intinya simpel. kalau kamu nggak pernah ngerasa bodoh, kemungkinan kamu cuma muter di level yang itu-itu aja. tapi kalau kamu mulai sering bingung, sering ngerasa “kok gue nggak ngerti ya”, itu tanda kamu lagi berkembang.
jadi lain kali ngerasa stuck atau bego pas belajar English, jangan langsung down. itu bukan kesalahan, itu tanda bahwa kamu lagi masuk ke level yang lebih tinggi. dan di situ biasanya progress beneran mulai terlihat 👍
Liat kan gimana usaha guru supaya eMBeGe itu tidak terbuang sia-sia atau mubazir....
Aku pun yakin para guru udh menasehati anak supaya menghargai eMBeGe dgn menghabiskan makanan yg diberikan.. bahkan guru pun hrus meluangkan waktu tambahan di jam mengajar mereka cm untuk ngurusin eMBeGe datang sampai urusan selesai.....🥺