I came across a video by a mufti. He said, โNever assume your trials are because of your past sins. Allah does not hold grudges. That is a human trait.โ Have good thoughts about Allah. Even in hardship, believe He is arranging something better. Allah is Most Merciful.
afirmasi positif :
aku layak menerima semua kebaikan yang datang hari ini. dompetku, rekeningku, dan hatiku sama-sama penuh. pintu-pintu rezeki terbuka lebar untukku. finansialku akan membaik.
setujuu๐ญpertahankan guys rasa malunya yaah!
karena, salah satu tanda kiamat semakin dekat tuh org org semakin ga malu bahkan merasa normal utk melakukan zina di publik/tengah jalan, dan org yg moralnya paling baik di kala itu bahkan cuma sekedar nasihat โcoba lain kali ngelakuinnya di belakang tembokโ.
jadi beneran semua org menormalisasi dan ga malu sama sekali ๐ญ naudzubillah
Never forget when the IOF unleashed a police dog on a boy with Down syndrome, and it mauled his flesh while he thought the dog was just playing with him, so he said: โLet go habibi, enoughโ.
knp ya aku hrs jadi gen z yang ngerasain susahnya cari kerja in this economy shshshsh, ngalamin quarter life crisis di era wowo tuh asdffghjdkddlsjdsdksjkl
Fathimah: "saya yg akan komando anak-anak saya, kamu diam!"
"saya melihat teman-teman saya terhimpit dan mengajak mereka kembali kesini, bukan krn saya nurut sama anda. bagi saya, teman-teman saya lebih berharga"
"krn saya tau bagi anda, nyawa teman-teman saya ini tidak ada artinya"
merindinggg dengarnya ๐ฅน
Terlepas dari boikot2an, gue emg ngeliat orang udah "terbiasa" sama kematian warga Palestina. Mereka baru bakal "tergerak" tiap ada kejahatan dengan level kekejian yg lebih besar. Masalahnya, mereka udh sangat menderita, butuh sekeji apalagi perbuatan zionis biar orang simpati
Kalian harus nonton ini.
"Indonesia sedang tidak baik-baik saja" di ํฌ๋ฉ KLAB dari KBS, media Korea.
Professor Youngkyung Ko dari Yonsei bilang:
1) IHSG ambruk, terburuk di Asia
2) Rupiah melemah, tapi efek ekonomi dalam negerinya sangat parah, dibanding negara lain yang mata uangnya lemah juga
3) Danantara, tidak ada transparansi, peluang cuci uang lewat patriot bond,
4) MBG makan anggaran sangat besar, pemborosan. Dengan pengelolaan ngawur. Keracunan di mana-mana
5) Korupsi yang dilakukan BGN dalam tata kelola MBG, dari konflik kepentingan dan pengadaan.
- Ada orang-orang yang nunggu jam 20.01 biar tarif LRT turun jadi Rp10.000.
- Ada orang-orang yang bela-belain naik Busway sebelum jam 07.00 pagi biar hemat Rp1.500.
- Ada Ojol yang motornya disita petugas saat nganter makanan demi ngejar setoran.
- Ada yang checkout pas tanggal kembar (7.7, 8.8, dst.) demi gratis ongkir dan cashback.
- Ada yang numpang Wi-Fi gratis buat hemat kuota internet.
- Ada yang sengaja transfer lewat bank atau QRIS tertentu biar bebas biaya admin.
- Ada yang memilih bayar pakai metode pembayaran tertentu demi dapat cashback atau poin.
- Ada kurir yang tetap narik meski hujan deras karena kalau berhenti, penghasilannya ikut berhenti.
- Ada orang yang nunda makan siang supaya uangnya cukup sampai akhir bulan.
- Ada orang yang membandingkan harga di beberapa minimarket cuma buat hemat beberapa ribu rupiah.
- Ada orang tua yang menahan beli kebutuhan sendiri supaya uang sekolah anak tetap aman.
- Ada pedagang kecil yang tetap buka sampai larut malam berharap ada pembeli terakhir.
- Ada pekerja yang lembur bukan karena ingin, tapi karena butuh tambahan penghasilan.
- Ada keluarga yang menghitung pengeluaran harian sampai ribuan rupiah supaya kebutuhan bulanannya cukup.
- Ada orang yang rela antre panjang demi dapat sembako atau barang yang lebih murah.
- Ada orang yang berburu promo belanja karena selisih puluhan ribu sangat berarti.
- Ada pekerja yang jalan kaki beberapa kilometer demi menghemat ongkos transportasi.
- Ada orang yang menunda ganti HP atau motor karena uangnya diprioritaskan untuk kebutuhan rumah tangga.
- Ada yang bawa bekal dari rumah supaya uang makan bisa dihemat.
TAPI ADA JUGA ORANG YANG NUMPUK 74 KILOGRAM EMAS DIRUMAHNYA !!!
OH INDONESIAKU !!!
Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah ๐ฎ๐ฉ tidak memenuhi undangan Iran utk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yg terbunuh dlm serangan militer ilegal.
Yg saya dengar, berbagai upaya gigih Iran utk mengundang Pemerintah ๐ฎ๐ฉ tidak mendapat tanggapan. (Mereka kan juga punya harga diri - tidak mungkin mengemis-emis kehadiran kita.) Akhirnya, yg hadir hanya Dubes RI di Teheran - yg dianggap oleh Teheran sbg sikap menyepelekan undangan ini, bahkan dianggap sbg tamparan. Sementara Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Kazakhtan, Mesir, Pakistan, Rusia, Tiongkok, India, Malaysia, Bangladesh dll (lihat daftar dibawah) sama sekali tidak ragu mengirim delegasi resmi pada tingkat Menteri, bahkan Pakistan pada tingkat Presiden. ๐ฎ๐ฉ sbg negara berpenduduk muslim terbesar di dunia satu-satunya yg ABSEN mengirim delegasi.ย Bahkan Malaysia nampak lebih bebas aktif dari Indonesia.
Apakah ini berarti polugri "bebas aktif" kita mulai LUNTUR krn ๐ฎ๐ฉ takut/sungkan thdp Amerika ? Has โFEARโ become a factor in Indonesian foreign policy ? Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan MANAJEMEN sistem politik luar negeri yang penuh masalah - sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yg berani mengambil keputusan. Paling tidak ๐ฎ๐ฉ bisa mengirim Wamenlu urusan dunia Islam Anis Matta - tapi beliau justru keliling Asia Tengah utk kunjungan yg sifatnya rutin.ย
Kita seakan melupakan bhw Iran adalah sahabat lama Indonesia, hubungan selalu terjaga dgn hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara. Kehadiran delegasi resmi ๐ฎ๐ฉ dlm acara penghormatan terakhir Ayatollah Khamenei (yg sayangnya tidak terjadi) seharusnya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif Indonesia, momen persahabatan RI-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bhw adalah aksi pembunuhan Ayatollah Khamenei adalah aksi ilegal yg melanggar hukum dan norma internasional.
Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dlm situasi yg sensitif, kita bersembunyi.
Please remember : bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkanย
Boleh dikutip.
"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiriโ โ Ir. Soekarno
โPemimpin harus tegas dan mampu mengambil keputusan yang mengutamakan kesejahteraan rakyatnya di atas segalanyaโ โ B. J. Habibie
"Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamuโ โ Gus Dur
โYang nyinyir-nyinyir-nyinyir biar aja itu. Nyenyenyenyeโ โ โฆ.
Guys, Mahfud MD dan Ahok baru ngobrol bareng di satu forum dan menurut gue ini adalah percakapan paling jujur dan paling berani tentang satu masalah yang selalu ada tapi tidak pernah benar-benar diselesaikan di Indonesia.
Korupsi.
Dan kenapa sampai hari ini masih amburadul.
Dan jawabannya menurut keduanya sangat sederhana tapi sangat menyakitkan untuk diakui.
Semuanya tergantung satu orang.
Presiden.
Mau atau tidak.
prabowo mau beresin ini atau tidak
Pertama โ Mahfud bilang ini dengan sangat keras:
"Hanya orang bodoh yang mengatakan tidak ada dugaan korupsi di situ.
Kalau dikelola kayak gitu sudah pasti ada korupsinya."
Mahfud tidak bicara soal MBG saja.
Dia bicara soal pola yang sudah dia lihat selama puluhan tahun di dalam sistem di DPR, di eksekutif, di penegakan hukum.
Korupsi di Indonesia bukan anomali.
Bukan kecelakaan.
Ini sudah menjadi sistem yang berjalan dengan sangat teratur dan sangat terstruktur.
Dan ini yang paling mengerikan korupsi di DPR bahkan terjadi sebelum uangnya ada:
Mahfud menjelaskan pola yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan hampir tidak pernah dibahas secara terbuka.
Ketika menyusun APBN anggota DPR bisa menerima pesanan mata anggaran dari bupati, gubernur, atau pihak manapun yang ingin proyeknya masuk ke RAPBN.
Caranya: seseorang minta tolong anggota DPR untuk memasukkan proyek tertentu senilai misalnya Rp100 miliar. Anggota DPR minta 7% di muka.
Uang belum ada.
Anggaran belum disahkan.
Tapi uang 7 miliar sudah berpindah tangan.
"Anggaran belum ada, korupsinya sudah ada.
Sudah muncul."
Dan begitu anggarannya jadi ada lagi permainan di penunjukan rekanan, di pengadaan barang, di pengawasan. Berlapis-lapis. Dari hulu ke hilir.
Dan ini tentang sistem ij jaringan mafia hukum yang Mahfud ungkap:
Di dunia penegakan hukum Indonesia ada yang disebut sistem ij.
Sebelum sebuah kasus masuk ke pengadilan sudah diatur dulu hasilnya.
Polisinya diatur.
Pasalnya ditentukan.
Naik ke jaksa diatur lagi.
Naik ke hakim diatur lagi.
Semua sudah dinegosiasikan sebelum sidang pertama bahkan dimulai.
"Oleh sebab itu kunci utama memang ada pada Presiden. Kalau presiden mau apapun bisa."
Mahfud bicara bukan sebagai pengamat dari luar.
Dia bicara sebagai orang yang pernah ada di dalam sistem itu. Yang tahu persis bagaimana jaringannya bekerja.
Dan ini tentang akar masalahnya yang Ahok dan Mahfud sama-sama sepakati:
Ahok menyebut satu kata yang menurut dia menjadi akar dari semua masalah republik ini.
Korupsi.
"Kalau kita mau beresin bangsa ini dasarnya itu enggak boleh ada korupsi. Cuma itu. Sebetulnya itu akarnya."
Dan Ahok membandingkan dengan Singapura dan New Zealand bukan karena mereka kaya sumber daya alam. Justru sebaliknya.
New Zealand lebih banyak dombanya daripada manusianya. Tapi investasi mengalir ke sana karena satu hal: pemerintahnya bersih dan hukumnya jalan.
"Uang itu enggak kenal primordialisme.
Kamu hukum jelas, kamu enggak malakin gua, kamu adil saya taruh duit sama kamu."
Dan Mahfud menambahkan dengan data yang sangat spesifik: kekayaan alam hanya menyumbang 23% dari kemajuan sebuah bangsa.
44% ditentukan oleh satu hal saja hukum.
Dan ini tentang kenapa korupsi tidak bisa diberantas โ menurut Ahok:
Ahok tidak muter-muter. Dia langsung.
"Saya pikir yang berkuasa ini terlalu sombong dan angkuh.
Mereka berpikir: rakyat mau apa?
Semakin bodoh, semakin miskin semakin gua berkuasa."
Dan dia melihat kebijakan-kebijakan yang ada sebagai bukti dari logika itu.
Kenapa tidak kasih laptop dengan koneksi internet ke setiap anak sekolah?
Kenapa tidak kasih akses pendidikan setara dengan anak-anak di Kanada atau Amerika?
Karena rakyat yang cerdas adalah ancaman bagi mereka yang ingin tetap berkuasa.
Ahok bilang dia tidak bisa nuduh secara langsung.
Tapi keyakinannya sudah jelas.
Dan ini tentang solusi yang Ahok tawarkan yang paling konkret dan paling tidak pernah dilakukan:
Ahok punya dua usulan besar yang menurut dia bisa mengubah Indonesia secara fundamental.
Pertama royalti sumber daya alam yang adil.
Bukan bagi saham.
Bukan bagi untung yang bisa dimanipulasi. Tapi bagi hasil fisik.
Kalau pengusaha angkat 100 ton emas
dari desa saya 10 ton milik desa.
Rakyat desa tahu persis berapa yang diangkat karena mereka yang mengawasi.
Dan desa punya aset nyata yang bisa dikembangkan.
Kedua subsidi langsung berbasis NIK dengan voucher digital. Setiap keluarga yang penghasilannya di bawah UMP dapat voucher listrik, pangan, dan kebutuhan dasar.
Voucher tidak bisa dijual, tidak bisa dipindahtangankan, dan hangus kalau tidak dipakai dalam sebulan.
Tidak ada lagi subsidi yang bocor ke orang yang tidak berhak.
"Semua utang bisa lunas.
Semua rakyat miskin bisa dijamin. Asal mau."
Dan ini tentang mengapa ini tidak pernah dilakukan yang paling menyakitkan:
Mahfud menyebut satu istilah yang menurut gue paling tepat menggambarkan kondisi politik Indonesia:
saling sandera.
Perjalanan karir politik seseorang di Indonesia hampir selalu terhubung dengan jaringan kepentingan yang saling melindungi.
Ketika seseorang naik ke puncak kekuasaan dia sudah terlanjur punya utang politik ke banyak pihak. Dan utang itu dibayar dengan membiarkan korupsi berjalan.
Bukan karena presidennya tidak tahu.
Bukan karena tidak mampu.
Tapi karena tidak bisa.
Atau tidak mau.
"Semboyan-semboyan dan pidato-pidato yang keras itu kadangkala di bawahnya tidak jalan.
Tidak bisa ada penegakan hukum yang sungguh-sungguh karena jaringannya sudah gila."
Dua orang yang paling berani bicara tentang korupsi di Indonesia yang sama-sama pernah ada di dalam sistem, yang sama-sama pernah merasakannya dari dalam menyimpulkan hal yang sama.
Kuncinya ada di presiden.
Bukan di KPK.
Bukan di DPR.
Bukan di masyarakat sipil.
Karena presiden yang mengangkat Jaksa Agung. Presiden yang mengontrol KPK.
Presiden yang menentukan siapa yang naik ke eselon 1. Presiden yang bisa mengeluarkan Perpu.
Presiden yang bisa memutus jaringan korupsi dari atas.
Kalau presiden sungguh-sungguh mau apapun bisa.
Dan kalau tidak jalan itu bukan karena tidak bisa. Tapi karena tidak mau.
Rakyat yang membayar harganya setiap hari.